Habis disuguhi pemberitaan dan foto-foto Anniesa Hasibuan, yang berjubah putih bulu-bulu di tengah salju, berpose manja di pepohonan musim gugur, yang bercadar, yang tanpa make up dalam bui, apa saja merek tas dan berapa harga busananya, dan lain-lain, kini kita dibombardir berita-berita tentang Indria Kameswari.

Berita berjudul “Pose-pose cantik Indria semasa hidup, pegawai BNN yang dibunuh suaminya” atau “4 Kali Menjanda, Staf Cantik BNN Dibunuh Oleh Suami Kelima” atau yang sejenisnya memenuhi timeline media sosial kita.

Saya pernah jadi wartawan. Saya tahu betul sulitnya memenuhi tenggat dan kuantitas berita. Dulu, saya harus menulis dua berita koran, dan lima berita online. Lantaran sehari lima berita, apalah apalah yang nggak penting saya tulis. Berita besar dipecah-pecah jadi kecil. Laporan keuangan perusahaan bisa dijadiin 10 berita pendek-pendek. Sungguh nggak berkualitaslah, pokoknya.

Saya paham betul, teman-teman wartawan memang harus mengais-ngais berita pembunuhan pegawai BNN ini sampai ke remah-remah terkecil.

Tapi, apa nggak ada cara lain untuk menuliskannya?

Seorang perempuan dibunuh oleh suaminya, dinilai tak baik oleh ipar dan mertuanya, lalu diobjektifikasi parasnya oleh media.

Padahal, banyak hal penting yang dapat dielaborasi terkait pembunuhan ini. Pertama, soal senjata api; dari mana senjata api yang digunakan untuk membunuh itu berasal, bagaimana regulasi senjata api di Indonesia, bagaimana rantai distribusinya. Kedua, soal perlindungan anak; di mana anak-anak mereka saat saat penembakan terjadi, bagaimana efek psikologis kejadian tersebut terhadap anak, bagaimana regulasi perlindungan anak di Indonesia.

Hal lain yang bisa ditulis adalah terkait kekerasan dalam rumah tangga; kekerasan terhadap perempuan, atau juga kekerasan terhadap laki-laki, dan bagaimana masyarakat yang seksis lagi misoginis membuat laki-laki malu mengadukan kekerasan yang terjadi terhadap mereka. Elaborasi juga bisa sampai ke soal kesehatan mental pasangan dalam kehidupan berumah tangga.

Salah satu artikel yang saya baca mengatakan bahwa kekerasan kerap terjadi dalam kehidupan rumah tangga korban dan pelaku. Namun, alih-alih membahas bagaimana menghindari kekerasan dalam rumah tangga, atau menyikapi kekerasan dalam rumah tangga, artikel tersebut lebih memberikan tonasi yang seolah-olah: oh ya udah, orangnya juga kasar sama suami, boleh aja dibunuh.

Yungalah, nyawa manusia kok ya murah banget. Padahal masalah kekerasan rumah tangga ini penting sekali untuk dibahas.

Baca juga:  Menjadi Ahli Selfie Sempurna bersama Raisa dan Agnes Monica

Namun, media lebih suka mengelaborasi fisik. Kalau perempuan dibunuh atau diperkosa, pemberitaannya selalu menggunakan frasa perempuan cantik, wanita seksi, rok pendek, pakaian terbuka, dan sejenisnya. Kasihan betul korbannya; sudah jadi korban eh dikorbankan lagi, double victimization. Dikorbankan demi apa? Tentu rating. Industri media saat ini adalah hamba lembaga rating macam Nielsen dan Alexa. Untuk apa? Iklan! Makin tinggi rating, makin penuh pundi-pundi pemasukan iklan.

Loh, kalau memang ratingnya tinggi, berarti pembacanya emang banyak dong!

Kalau begitu argumennya, persoalan jadi kayak telur dan ayam. Mana yang lebih dulu? Apakah media menyajikan berita tak berbobot lantaran animo pembaca, ataukah pembaca jadi menyenangi berita-berita dangkal karena dididik oleh media yang semakin melanggengkan seksisme? Keduanya bisa jadi betul. Yang pasti, media mencerminkan masyarakatnya.

Bertahannya media yang seksis lagi misoginis menunjukan masyarakat yang seksis lagi misoginis.

Sudah isu gender memang tak menjual, media lebih suka menjalankan fungsi entertainmen dan bisnisnya alih-alih fungsi edukasi. Ditambah, tak semua wartawan punya latar belakang isu gender dan jurnalisme yang baik, tak semua jurnalis pernah mengambil mata kuliah etika komunikasi. Tentu hal ini tak bisa dijadikan pemakluman. AJI dan Unesco telah menerbitkan prinsip-prinsip verifikasi dan menulis berita yang tak bias gender.

Soal seksisme dan misoginis ini, tak cuma terkait isu-isu macam pembunuhan dan perkosaan. Pernikahan Raisa dan Hamish juga nggak bisa lepas dari objektifikasi oleh mereka yang katanya fans.

Beberapa pagi lalu, saat scrolling media sosial, hal pertama yang saya temukan adalah becandaan seorang teman: Saat kita sedang asik sarapan, Raisa sedang menahan pedihnya lecet. Becandaan macam ini, di ruang publik pula, cuma bisa dimaklumi oleh masyarakat yang merendahkan perempuan, bahwa menyakiti perempuan adalah hal lumrah terutama jika pihak laki-laki mendapat keuntungan. Dan anggapan bahwa seks pertama harus sakit (dan harus berdarah) menunjukan pendidikan seks yang rendah. Seks tidak harus sakit dan tidak harus berdarah, Sis. Kapan-kapanlah kita bahas masalah seks ini.

Baca juga:  Laudya Cynthia Bella dan Luka Lelaki Indonesia

Meski berbeda modus dan situasi, objektifikasi Raisa ini sama dengan foto korban pembunuhan yang disebar dengan kata-kata: korban ternyata sangat cantik. Masyarakat yang seksis akan menganggap hal ini sekadar becandaan, atau, saya yakin ada juga yang gatel pengin komen: Lah, memang cantik kok.

Becandaan dan komen yang melulu terkait fisik itu bahaya. Mental mengobjektifikasi perempuan itu betul-betul bahaya. Perkosaan terjadi bukan karena syahwat belaka. Kamu pikir memperkosa itu gampang, apa? Horni terus ujug-ujug memperkosa, gitu? Yang harus kita pahami, pemerkosaan terjadi ketika seseorang dilihat sebagai objek dan dianggap tidak memiliki relasi kuasa yang imbang, sehingga pantas mendapat perlakuan biadab.

Saya pernah digodain bocah yang, yaelah boro-boro mimpi basah, sunat aja belum. Anak ini mungkin baru berusia 6-7 tahun saat melakukan cat calling. Dari mana dia belajar? Tentu dari lingkungan sekitar, dan media (termasuk berita dan sinetron) yang tak ada selesainya mengobjektifikasi perempuan.

Jadi, saran saya, kalau memang kehabisan berita, atau ide nulis status di media sosial, dan kamu nggak yakin apakah yang mau kamu tulis itu pantas atau tidak, cara mudahnya cuma satu: Apabila kamu, atau adik/kakak perempuan, ibu, sepupu, atau nenekmu yang menjadi objek dalam berita dan status yang kamu tulis tersebut, apakah kamu akan marah? Apakah kamu akan merasa jijik terhadap si penulis? Apakah kamu rela orang dekatmu dinarasikan dengan cara yang demikian?

Kalau jawabanmu iya, mending jalan-jalan dulu, makan malam, nonton bioskop, baca buku, atau ngapain kek, sampai dapat inspirasi menulis sesuatu yang lebih beradab.

Komentar
Add Friend
No more articles