Dahulunya bernama Arema Malang, sebelum berganti menjadi Arema Indonesia, klub kebanggaan arek Malang ini didirikan pada tanggal 11 Agustus 1987. Klub dengan logo singa ini berkandang di Stadion Kanjuruhan (Kabupaten Malang) dan di Stadion Gajayana (Kota Malang).

Orang yang turut membidani lahirnya Arema adalah Acub Zaenal, mantan Gubernur ke-3 Irian Jaya (sekarang Papua) dan mantan pengurus PSSI pada masa 1988-an. Arema menggunakan logo singa lantaran cocok dengan bulan berdiri klub tersebut, yaitu Agustus, yang identik dengan zodiak Leo.

TNI Angkatan Udara punda andil besar pada masa-masa awal berdirinya Arema, terutama sebelum ikut berkompetisi di Galatama. Saat itu, Arema belum memiliki asrama pemain, padahal tinggal satu bulan lagi sebelum kompetisi dimulai. Melihat kondisi memprihatikan tersebut, Bandar Udara Abdul Rachman Saleh bersedia menyediakan barak prajurit Paskhas TNI AU untuk digunakan sebagai asrama pemain.

Maka, pemain-pemain awal Arema seperti Maryanto, Kusnadi Kamaludin, Yohanes Geohera, dan Dony Latuperisa, tinggal di barak TNI AU.

Perjalanan awal Arema di kompetisi Galatama tidak berjalan dengan mulus. Meski tidak pernah keluar dari papan tengah, Arema masih kesulitan untuk bersaing di papan atas klasemen. Hingga pada akhirnya, pada tahun 1992, berbekal pemain-pemain berkualitas dalam diri Aji Santoso, Mesky Tata, Singgih Pitono, dan M. Basri, Arema berhasil menjadi juara.

Selain juara Galatama, Arema juga berhasil meraih penghargaan tertinggi dengan menjadi juara Divisi 1 pada tahun 2004 setelah sebelumnya terdegradasi. Enam tahun kemudian, pada tahun 2010, di tangan pelatih Robert Rene Albert, Arema berhasil menjadi juara kompetisi Indonesia Super League. Setelah itu, Arema tercatat dua kali menjadi runner-up, yaitu pada tahun 2011 dan 2013.

Payung hitam memayungi Arema ketika dualisme terjadi. Tahun 2011, berawal dari kisruh di tubuh PSSI, lahir dua kompetisi di Indonesia, yaitu Indonesia Super League (ISL) dan Indonesia Premier League (IPL). Arema sendiri memilih bermain untuk IPL, kompetisi yang konon tidak diakui oleh PSSI. Untuk mengisi slot kosong, lahirlah Arema Cronus, yang di kemudian hari berubah nama menjadi Arema FC.

Bersama enam klub lain, Arema Indonesia tidak diakui keberadaannya oleh kongres PSSI. Ketika hendak berpartisipasi kembali di kompetisi resmi, Arema Indonesia harus berkompetisi dari kasta paling rendah, yaitu Liga Nusantara. Hingga saat ini, masalah dualisme masih menjadi masalah yang sensitif, apalagi setelah PSSI mengakui kembali keberadaan Arema di Indonesia.

Di kota Malang, ada dua Arema Malang.



Tirto.ID
Loading...

No more articles