Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Fakta-fakta Anies Segel Pulau Reklamasi yang Dibilang Pencitraan

Redaksi oleh Redaksi
8 Juni 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan menyegel dua Pulau Reklamasi era Gubernur sebelumnya, Basuki Tjahaja Purnama. Beberapa pihak mendukung, tidak sedikit pula yang menuding ini adalah gerakan pencitraan.

Ada sekitar 300 personel Satpol PP yang mendatangi Pulau Reklamasi kawasan Teluk Jakarta. Gerudukan ini dipimpin langsung oleh Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan pada Kamis (7/6) kemarin. Ada sekitar 932 bangunan yang berdiri di atas Pulau D. Yang terdiri 313 ruko dan tempat tinggal, 212 rumah kantor, dan 409 rumah. Dan semuanya disegel karena tidak memiliki izin mendirikan bangunan (IMB).

Pulau Reklamasi Teluk Jakarta yang bernama Pulau D ini sebenarnya hanya satu dari dua pulau yang “dikunjungi” Anies hari itu. Satu pulau lagi yang juga disegel adalah Pulau C. Gubernur Jakarta menghentikan atau menutup segala aktivitas di Pulau C dan D, sekaligus menyegel bangunan di Pulau D.

Permasalahan Pulau Reklamasi Teluk Jakarta sudah terjadi sejak ditetapkannya Keputusan Presiden (Keppres) tahun 1995 oleh Presiden Soeharto. Sejak saat itu pula “pertempuran” aturan antara Pemprov DKI Jakarta dengan Kementerian Lingkungan Hidup terjadi. Hanya saja, baru pada tahun 2003, Kementerian Lingkungan Hidup benar-benar mengeluarkan SK mengenai Ketidaklayakan Rencana Kegiatan Reklamasi dan Revitalisasi Pantai Utara.

Meski begitu, SK tersebut tidak juga menghentikan Pemprov DKI Jakarta. Tahun 2007, Pengembang Reklamasi menggugat SK Menteri Lingkungan Hidup ke PTUN, pembangunan 17 pulau dengan total luas 5.113 hektare ini lalu semakin jadi masalah pelik sejak 2003. Mahkamah Agung sempat menyatakan reklamasi elegal, lalu Gubernur Fauzi Bowo pada 2012 mengeluarkan izin prinsip yang berlanjut dengan Gubernur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang keluarkan izin pelaksanaan.

Pulau Reklamasi D merupakan tempat Proyek Golf Island Pantai Indah Kapuk. Wilayah tersebut merupakan proyek dari PT. Kapuk Niaga Indah, meskipun hak kepemikian tetap ada di tangan Pemprov DKI Jakarta. Ternyata sudah sejak lama, bangunan di atas pulau tersebut tidak memiliki IMB yang kemudian disegel oleh Anies.

Aksi ini jelas banyak menuai dukungan dari berbagai pihak, meski—tentu saja—ada juga yang tidak suka. Ya, wajar, mau bagaimanapun juga dalam politik, tindakan benar sekalipun bisa dibikin salah, yang salah diperlihatkan seolah-olah benar. Politikus Partai Hanura, Inas Nasrullah, menyatakan aksi Anies Baswedan ini hanyalah pencitraan. Bahkan Inas menuduh bahwa, pasti ada lobi-lobi di balik penyegelan pulau tersebut. Duh, Pak, jangan suuzon dulu.

Tidak terima dibilang pencitraan, Partai Gerindra pun membela Gubernur. Menurut mereka, penyegelan tersebut merupakan tindak penegakan hukum yang nyata. Dan hal ini merupakan upaya menjawab janji kampanye yang pernah disampaikan pada masa kampanye Pilkada DKI Jakarta pada masa lalu. Lagian, memang ada beberapa peraturan yang dilanggar di sini. Dari perencanaan tata ruang sampai persoalan IMB.

Gerindra, melalui Anggota Badan Komunikasi DPP-nya, Andre Rosiade, bahkan balik menuding Gubernur sebelumnya, yang diusung oleh Partai Hanura, yakni Ahok dan Djarot Saiuful Hidayat, tidak melakukan tindakan nyata ketika pelanggaran-pelanggaran seperti ini terjadi.

Jika kita lihat jejak kasus yang menimpa Pulau Reklamasi Jakarta sejak 2014. Sebenarnya Pulau D ini sudah tiga kali disegel. Yang pertama pada tahun 2014, saat itu, Wakil Gubernur Ahok masih menjabat dan statusnya belum diangkat karena Joko Widodo, Gubenur DKI terpilih masih dalam proses Pemilihan Presiden (Pilpres) dan belum ditetapkan sebagai Presiden.

Tak berselang lama, penertiban berlanjut lagi pada tahun 2015, kali ini Ahok sudah resmi jadi Gubernur. Pada 2016, Ahok pun tidak melakukan apa-apa, hanya membiarkan bangunan di pulau ini dengan alasan bahwa tidak semua bangunan tanpa IMB, penyelesaiannya harus dibongkar atau disegel. Bisa juga sistem denda diberlakukan, asalkan bangunan tersebut tidak menempati jalur hijau.

Tahun 2016, juga jadi tahun yang sama ketika Kementerian Lingkungan Hidup sedikit melunak akan Reklamasi Teluk Jakarta. Kementerian setuju tapi minta syarat yang harus dipenuhi, seperti memerhatikan lingkungan hidup yang harus dikerjakan oleh pengembang proyek.

Di luar hal itu, apa yang dilakukan oleh Anies memang baik dan harus diapresiasi. Jika hal-hal baik kok selalu dikaitkan dengan pencitraan, ya barangkali itu bisa jadi indikasi untuk warga masyarakat belakangan ini.

Jadi jika seorang pejabat dibilang lawan politiknya “pencitraan” ketika menjalankan kebijakan, maka kemungkinan besar, pejabat yang melakukannya sedang melakukan hal yang baik untuk masyarakatnya. Dan untuk itulah mari kita dukung pejabat kita untuk selalu melakukan pencitraan saja, gimana?

Terakhir diperbarui pada 8 Juni 2018 oleh

Tags: ahokAnies Baswedandki jakartaFauzi BowogerindraHanurapencitraanPulau ReklamasiSoeharoTeluk Jakarta
Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

merantau, karet tengsin, jakarta. apartemen, kpr MOJOK.CO
Urban

Karet Tengsin, Gang Sempit di Antara Gedung Perkantoran Jakarta yang Menjadi Penyelamat Kantong Para Pekerja Ibu Kota

3 Februari 2026
Mens Rea, Panji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme MOJOK.CO
Esai

Mens Rea, Pandji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme

12 Januari 2026
Hidup Cemas di Manggarai Jakarta Selatan karena Tawuran MOJOK.CO
Esai

Merantau di Manggarai Jakarta Selatan Artinya Hidup Sambil Memelihara Ketakutan, Hidup Susah, dan Terancam Tawuran yang Bisa Terjadi Kapan Saja

18 Mei 2025
Cerita Para Sarjana yang Sulit Cari Kerja di Jakarta.MOJOK.CO
Catatan

Cerita Para Sarjana yang Dihajar Kerasnya Jakarta: Ijazah Tak Laku Buat Lamar Kerja Sampai Kerap Ditipu Loker Gadungan

20 Juli 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ada kehangatan dan banyak pelajaran hidup di dalam kereta api (KA) ekonomi yang sulit didapatkan user KA eksekutif kalau terlalu eksklusif MOJOK.CO

Kehangatan dan Pelajaran Hidup di Kereta Api (KA) Ekonomi yang Sulit Ditemukan di KA Eksekutif

13 Maret 2026
Ambisi jadi PNS di usia 25 demi hidup sejahtera. Malah menderita karena perkara gadai SK MOJOK.CO

Jadi PNS Tak Bahagia Malah Menderita, Dipaksa Keluarga Gadai SK Demi Puaskan Tetangga dan Hal-hal Tak Guna

16 Maret 2026
Lebaran, mudik, s2.MOJOK.CO

Bawa Pulang Gelar S2 Saat Mudik ke Desa Dicap Gagal, Bikin Tetangga “Kicep” Usai Buatkan Orang Tua Rumah

13 Maret 2026
Ambisi beli mobil pribadi Toyota Avanza di usia 23 biar disegani. Berujung sumpek sendiri karena tetangga di desa cuma bisa iri-dengki dan seenaknya sendiri berekspektasi MOJOK.CO

Ambisi Beli Mobil Avanza di Usia 23 Demi Disegani di Desa, Berujung Sumpek karena Ekspektasi dan Tetangga Iri-Dengki

15 Maret 2026
Sesal suka menolong orang lain usai ketemu lima jenis orang yang tidak layak ditolong meski kesusahan. Dari tukang judi slot hingga orang susah bayar utang MOJOK.CO

Kapok Suka Menolong Orang Lain usai Ketemu 4 Jenis Manusia Sialan, Benar-benar Nggak Layak Ditolong meski Kesusahan

12 Maret 2026
Perantau Minang di kantin kereta api Indonesia (KAI) dalam perjalanan mudik Lebaran

Perantau Minang Gabut Mudik Bikin Tanduk Kerbau dari Selimut KAI, Tak Peduli Jadi Pusat Perhatian karena Suka “Receh”

13 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.