Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Perjalanan Politik Amien Rais Sampai Disebut Gerindra Cuma Sebagai Lucu-lucuan

Redaksi oleh Redaksi
9 Juli 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Amien Rais dianggap cuma mau nempel ke Prabowo Subianto saja untuk punya kekuatan dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 esok. Kesan ini muncul menurut Desmond J. Mahesa, Ketua DPP Gerindra.

Perjalanan politik Amien Rais memang lumayan unik—kalau tidak mau dibilang lucu. Dulu, Ketua Dewan Kehormatan PAN ini pernah “bermusuhan” dengan Prabowo Subianto terkait situasi pada masa-masa Reformasi 1998. Maklum, saat itu yang bersangkutan merupakan pendiri PAN pada 1998 dengan platform nasionalis terbuka yang punya misi salah satunya menjatuhkan Presiden Soeharto.

Iklan

Nah, jelas saja hal ini berbenturan dengan Prabowo yang saat itu masih jadi Pangkostrad era Presiden Soeharto. Sebagai prajurit, tentu Prabowo akan setia pada komando tertinggi, yakni Presiden.

Dengan partai baru tersebut Amien cukup sukses melenggang ke Senayan saat menjabat sebagai Ketua MPR untuk masa jabatan 1999-2004. Menjadi Ketua MPR bagi KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Megawati Soekarnoputri, Amien sempat dianggap sebagai penjegal langkah Megawati untuk menjadi Presiden. Maklum saat itu, PDI-P adalah partai pemenang Pemilu pertama setelah era reformasi. Sangat wajar kemudian jika Megawati adalah salah satu sosok yang paling diunggulkan untuk jadi Presiden.

Masalahnya, saat itu pemilihan ditentukan oleh anggota MPR di Senayan, tidak langsung dipilih oleh rakyat seperti sekarang. Sebagai Ketua MPR, Amien mendadak bikin poros tengah yang berhasil mengalahkan perolehan kursi PDI-P dengan memajukan Gus Dur sebagai Presiden dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Terang sudah Megawati merasa dikhianati oleh sistem parlementer yang dikreasi arahnya oleh Amien saat itu. Menjadi Presiden tinggal selangkah lagi, Ketua PDI-P saat itu harus puas hanya menjadi Wakil Presiden. Akan sangat wajar kemudian jika Megawati marah kepada Amien.

Hanya saja kemarahan itu malah berbalik jadi berkah bagi Megawati. Tidak sampai tiga tahun memimpin, Gus Dur harus digulingkan kembali oleh MPR. Dengan lengsernya Gus Dur, secara otomatis Megawati menjadi Presiden untuk pertama kali dan satu-satunya Presiden perempuan pertama yang pernah dimiliki Indonesia. Pada akhirnya, suksesnya Megawati jadi Presiden ada andil cukup besar pula dari tangan Amien Rais sebagai Ketua MPR.

Akan tetapi, “kemesraan” itu cuma seumur jagung. Bertahun-tahun kemudian hubungan antara Megawati dan Amien Rais malah semakin memburuk. Keadaan ini semakin meruncing pada Pemilihan Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014.

Setelah menjadi “lawan” Prabowo pada era Reformasi 1998, tanpa diduga, Amien Rais malah merapat dan terkesan nempel terus. Hal ini cukup bisa dimaklumi. Meskipun berseberangan saat reformasi, Amien tidak memiliki rekam jejak permusuhan secara politik dengan Prabowo. Tentu ini berbeda dengan hubungannya dengan Megawati.

Dari lawan jadi teman, Amien berusaha sekuat mungkin untuk terus mengritik pemerintahan Presiden Jokowi dari PDI-P. Usaha ini tentu merupakan konsekuensi dari pilihan Amien dan PAN untuk menjadi bagian dari partai oposisi bersama dengan Gerindra. Lucunya, menyebut PAN sebagai partai oposisi juga kurang tepat, sebab PAN dapat jatah Menteri dari Pemerintah.

Meski sampai detik ini posisi PAN belum sepenuhnya jelas posisinya, tapi dari komentar-komentar Amien dan beberapa petinggi partai yang sering mengritik pemerintah, maka bisa dibaca PAN sedang mencoba membribik Gerindra agar bisa diajak secara tegas untuk koalisi menyambut Pileg dan Pilpres 2019 besok.

Di sisi lain hal ini ternyata tidak disambut dengan begitu baik oleh Gerindra. Setidaknya hal ini bisa dilihat dari komentar Ketua DPP Gerindra, Desmond J. Mahesa, yang menganggap Ketua Dewan Kehormatan PAN ini dulu pernah menggunakan Prabowo cuma sebagai alat politik.

“Pak Amien dulu menggunakan Pak Prabowo sebagai alat, sekarang kok maju. Lucu. Ini orang tua bagi saya cuma lucu-lucuan sajalah,” kata Desmond.

Dukungan untuk Amien Rais maju sebagai capres memang muncul dari kader-kader PAN. Hanya saja, melihat PAN tidak memiliki ambang batas capres untuk Pilpres 2019, maka mustahil PAN bisa maju sendiri. Satu-satu cara yang masuk akal adalah mendekat ke partai yang punya kekuatan untuk mencalonkan presiden. Dan melihat track record Amien Rais dalam 5 tahun ke belakang, maka koalisi bersama Gerindra adalah satu-satunya langkah yang masuk akal.

Iklan

Hanya saja, Gerindra melalui Ketua DPP-nya, agaknya meragukan kekuatan Amien Rais untuk maju. “Jadi kesan pertama bagi saya sebagai Partai Gerindra, (Amien Rais) nempel ke Pak Prabowo,” kata Desmond.

Sebagai sosok yang sudah sepuh, tentu Gerindra pantas untuk mengabaikan keinginan PAN untuk mengusung Amien Rais. Secara kekuatan politik tidak begitu besar, risiko yang didapat lebih mengkhawatirkan. Tapi kalau sebagai lucu-lucuan saja, sepertinya itu boleh-boleh saja kalau Gerindra memang mau menganggapnya begitu.

Ya wajar saja, belakangan ini beliau memang sedang lucu-lucunya. (K/A)

Terakhir diperbarui pada 9 Juli 2018 oleh

Tags: abdurrahman wahidDesmondgerindraGus DurjokowiMegawatimprpilpres 2014Pilpres 2019Prabowo SubiantoreformasiSoeharto
Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

Nasib Yamaha Byson Baru yang Dicintai Setelah Tak Bisa Dimiliki MOJOK.CO
Otomojok

Nasib Yamaha Byson dan Paradoks Benda yang Baru Dicintai Setelah Berhenti Diproduksi dan Tak Bisa Dimiliki Lagi

2 Juli 2026
Nasib buruh usai Marsinah jadi pahlawan nasional. MOJOK.CO
Ragam

Suara Hati Buruh: Semoga Gelar Pahlawan kepada Marsinah Bukan Simbol Semata, tapi Kemenangan bagi Kami agar Bebas Bersuara Tanpa Disiksa

12 November 2025
Kami Berdoa Setiap Hari agar Soeharto Jadi Pahlawan Nasional MOJOK.CO
Ragam

Kami Berdoa Setiap Hari agar Soeharto Jadi Pahlawan Nasional. Sejarawan: Pragmatis dan Keliru

11 November 2025
Suara Marsinah dari Dalam Kubur: 'Lucu! Aku Disandingkan dengan Pemimpin Rezim yang Membunuhku'.MOJOK.CO
Ragam

Suara Marsinah dari Dalam Kubur: ‘Lucu! Aku Disandingkan dengan Pemimpin Rezim yang Membunuhku’

10 November 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Konten Kreator Perjalanan dapat pelajaran hidup di Lombok. MOJOK.CO

Konten Kreator Perjalanan Nyaris Luntang-lantung karena Tak Punya Uang, Malah Menangis Saat Meninggalkan Lombok

21 Juli 2026
Cerita Pencari Kerja Difabel datang ke Job Fair Ditemani Ibu: ‘Semua Orang Punya Kemampuan asal Diberi Kesempatan’.MOJOK.CO

Cerita Jobseeker Difabel datang ke Job Fair Ditemani Ibu: ‘Semua Orang Punya Kemampuan asal Diberi Kesempatan’

17 Juli 2026
Pom mini warung madura kini jadi solusi di tengah antrean panjang SPBU yang tidak masuk akal MOJOK.CO

Strategi Hindari Antrean SPBU Tak Efektif Lagi, Isi Bensin di Pom Mini Warung Madura Jadi Solusi Asal Tak Pakai Logika Takaran

18 Juli 2026
Kesepian Membuat Remaja Memilih AI sebagai Teman Curhat, Lalu Perlahan Menjauhi Manusia MOJOK.CO

Kesepian Membuat Remaja Memilih AI sebagai Teman Curhat, Lalu Perlahan Menjauhi Manusia

15 Juli 2026
Kita Membeli Sabun karena Wanginya, Bukan karena Tahu Kandungannya MOJOK.CO

Kita Membeli Sabun karena Wanginya, Bukan karena Tahu Kandungannya

18 Juli 2026
Ketika Syarat "Sehat Jasmani dan Rohani Menjadi Tembok Diskriminasi yang Menjegal Difabel di Bursa Kerja.MOJOK.CO

Ketika Syarat “Sehat Jasmani dan Rohani” Menjadi Tembok Diskriminasi yang Menjegal Difabel di Bursa Kerja

17 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.