MOJOK.CO – Jangan heran jika banyak yang menimbun dan menjual kembali masker dengan harga yang sangat tinggi, lha setelah dihitung-hitung, keuntungannya sangat besar, je. 

Salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam isu virus corona ini adalah soal masker. Begini, walau informasi dari berbagai pihak resmi terkait sudah dengan jelas mengatakan bahwa orang yang sehat tak perlu menggunakan masker, namun tetap saja masker menjadi instrumen kesehatan yang vital. Akibatnya, hampir dalam beberapa waktu terakhir, stok masker di banyak apotek dan swalayan ludes karena banyak dibeli masyarakat. Sulitnya mendapatkan masker ini pun pada akhirnya memancing kepanikan yang baru.

Kepanikan ini lantas dimanfaatkan oleh segelintir oknum. Banyak yang memborong masker untuk kemudian menimbunnya, lantas menjualnya dengan harga yang sangat tinggi. Maklum saja, stok yang terbatas bakal membuat orang tetap mau membelinya dengan harga yang jauh lebih tinggi dari harga pasaran.

Saking banyaknya orang yang memborong dan menimbun masker, pihak kepolisian sampai harus mengambil tindakan tegas. Polisi melalui pernyataan resmi bakal memidanakan siapa saja yang secara sengaja menimbun masker.

Walau sudah ada ancaman dari pihak kepolisian, namun masih saja banyak orang yang nekat menimbun masker dan menjualnya dengan harga yang tinggi. Maklum, aji mumpung. Semua orang butuh.

Nah, ngomong-ngomong soal penimbun masker, sebenarnya berapa sih potensi penghasilan yang bisa didapatkan oleh para pencari untung ini kok sampai-sampai di bawah ancaman hukum masih tetap berani menimbun dan bahkan tega mencari untung di tengah kepanikan masyarakat.

Mari kita hitung dengan cara paling kasar dan paling goblok.

Harga masker sebelum merebak isu corona per boks (isi 50) berada di kisaran angka 30-35 ribu. Kalau dijual eceran satuan, umumnya seribu rupiah per masker.

Namun setelah isu corona mulai naik, stok mulai sulit. Mau tak mau, harganya pun ikut naik seiring dengan kenaikan harga dari distributor. Menurut salah satu karyawan apotek 24 jam di Jogja, harga per boks masker bisa naik sampai dua kali lipat. Antara 60-70 ribu. Kita sebut saja kenaikan harga ini sebagai kenaikan harga periode awal.

Nah, kelangkaan masker ini semakin hari semakin parah. Dulu pada awal tahun, walau sulit, tapi masyarakat masih tetap bisa mendapatkannya, sebab masih banyak apotek yang nyetok. Namun, dalam sebulan terakhir, ketersediaan stok masker semakin mengerikan seiring dengan makin naiknya isu corona, terutama setelah diumumkan ada dua pasien positif corona. Beberapa produk masker merek Unimed, Sensi, dan Neo per box isi 50 mulai banyak dijual antara 250-350 ribu. Inilah kenaikan harga periode puncak.

Lantas, berapa keuntungan penjual yang menimbun masker?

Dengan asumsi penjual mendapatkan stok saat periode kenaikan awal yakni 60-70 ribu per boks dan kemudian menjualnya dengan harga 250-350 ribu, maka keuntungan per boks-nya adalah 180-290 ribu.

Kalau kita ambil nilai tengah keuntungan, maka didapat angka 240 ribu. Bayangkan, jika penjual bisa menjual 10 boks per hari, maka keuntungan per harinya bisa mencapai 2,4 juta per hari.

Jika isu corona ini akan terus naik, atau yang paling parah, jumlah pasien positif corona bertambah, maka permintaan masker akan semakin tinggi. Kalau penjual bisa konsisten menjual dalam sebulan saja, dengan penjualan per hari minimal 10 boks, maka penghasilan per bulannya bisa mencapai minimal 72 juta rupiah.

Sedaaaaaaaaaap. Nggak heran kan kalau banyak yang tetap nekat dan tertarik menimbun dan menjualnya kembali dengan harga yang tinggi.

Tapi ingat, semakin banyak keuntungan, tentu semakin besar pula dosa yang didapat.

Semenggiurkannya apa pun uang 72 juta, ia tetap tak ada apa-apanya dibandingkan dengan penderitaan “Penimbun masker meninggal dalam keadaan perut penuh dengan masker bekas pasien corona dari Wuhan!”