• 17
    Shares

MOJOK.CO Tak jadi merapat dengan koalisi Jokowi, PDIP nilai SBY baper karena bawa-bawa nama Megawati sebagai alasan. Ih, kata siapa?!

Salah satu nama yang mencuri perhatian dalam dunia politik Indonesia menjelang Pilpres 2019 adalah Ketua Umum Partai Demokrat sekaligus Presiden Indonesia ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Setelah Partai Demokrat mengundang rasa penasaran karena belum mendeklarasikan diri akan bergabung ke koalisi mana di perang politik ini, SBY akhirnya buka suara melalui sebuah konferensi pers yang digelar Rabu malam (25/7) di kediamannya, Mega Kuningan, Jakarta Selatan.

Pada kesempatan ini, SBY menegaskan sikap partainya yang tak bisa bergabung dengan Partai Koalisi Jokowi. Apa pasal?

Salah satu sebab yang disebutkan SBY ternyata berhubungan dengan polemik SBY-Megawati yang konon telah menyeruak sejak tahun 2004.

Meski mengaku sangat menghormati Jokowi, SBY menyebutkan bahwa hubungannya dengan Megawati hingga kini masih berjarak. Dilansir dari Kumparan.com, ia menyebutkan, “Karena melihat realitas hubungan dengan Ibu Mega masih belum pulih, masih ada jarak di situ.”

Dijelaskan pula oleh SBY, hubungannya dengan Megawati Soekarnoputri telah menjadi perhatian besar baginya. Ia pribadi selalu berusaha memulihkan hubungan dengan Megawati, tapi takdir seolah belum menakdirkan, meski dirinya dulu dibantu pula oleh suami Megawati, almarhum Taufiq Kiemas.

Pendapat SBY ini diamini pula oleh Ketua DPP Partai Amanat Nasional (PAN) Yandri Susanto. Menurut Yandri, SBY pernah bertemu dengan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan. Dalam pertemuan tersebut, SBY menyampaikan pandangannya untuk berkoalisi dengan pihak oposisi karena memiliki masalah hubungan dengan Megawati yang merupakan Ketua Umum PDIP.

Baca juga:  Surat Kesedihan untuk Mas Agus Yudhoyono, Idola yang Terkalahkan

Menurut SBY, dikutip dari Yandri, Megawati tidak menyetujui bergabungnya Demokrat dengan koalisi Jokowi.

Menanggapi pernyataan SBY, pihak PDIP justru melempar tudingan yang menyatakan SBY baper (bawa perasaan). Alih-alih gara-gara Megawati, SBY dinilai tidak bergabung dengan koalisi Jokowi karena terlalu fokus dengan masa depan putranya, AHY.

“Gagal tidaknya koalisi Pak SBY dan Partai Demokrat lebih karena kalkulasi yang rumit yang dilakukan Pak SBY, yang hanya fokus dengan masa depan Mas AHY. Jadi sebaiknya pemimpin itu bijak. Kalau tidak bisa berkoalisi dengan Pak Jokowi karena sikapnya yang selalu ragu, ya sebaiknya introspeksi dan jangan bawa nama Ibu Megawati (Soekarnoputri) yang seolah sebagai penghalang koalisi,” demikian terang Hasto Kristiyanto, Sekretaris Jenderal PDIP.

Kritik yang menilai SBY baper dan terlalu sensi dalam dunia politik ini terus berkembang, hingga membuat pihak Demokrat balas bicara. Kepala Divisi Advokasi Partai Demokrat Ferdinand Hutahean, misalnya, menyebut bahwa SBY bukannya baper—ia justru bersikap bijaksana. Menurutnya, sikap SBY yang mundur teratur ini dilakukan demi terjaganya keharmonisan hubungan Jokowi dan Megawati.

Aseeeek, udah kayak mundur dari laga rebutan gebetan aja bwang :”)

Sebagai lanjutan, tak lupa ia menekankan bahwa yang mungkin menjadi baper adalah Megawati, bukan SBY. “Jadi jangan dibilang Pak SBY baper. Yang baper itu Bu Mega yang tidak pernah mau berbaikan bertemu dengan Pak SBY.”

Baca juga:  Soal Meme Jokowi Harus Mundur karena Jadi Capres, Yusril Ihza Mahendra Sebut Itu Menyesatkan

Ferdinand tidak asal bicara. Penyataannya tadi didasari pada sebuah upacara peringatan HUT RI di Istana Negara. Saat itu, Megawati dikabarkan meminta tempat duduknya untuk tak diletakkan berdekatan dengan SBY.

Meski kritik terus berdatangan soal ‘keluhan musiman’ SBY, ternyata ada satu pihak yang memandang hal ini dengan optimis: Partai Gerindra.

Melalui Andre Rosiade, Anggota Badan Komunikasi DPP, Partai Gerindra menyatakan optimis bahwa Partai Demokrat akan bergabung dengan koalisi Gerindra, PKS, dan PAN.

Menurut Andre, SBY bakal memilih koalisi oposisi karena adanya sikap saling menghormati dan memahami yang disebutnya menjadi daya tarik Gerindra.

“Gerindra menawarkan koalisi yang berdiri sama tinggi, berdiri sama rendah. Istilah Pak SBY ada mutual respect. Ini yang kita tawarkan kepada PD. Mungkin ini yang menjadi daya tarik koalisi Pak Prabowo, PKS, dan PAN dibandingkan koalisi Pak Jokowi,” tambah Andre.

Lebih lanjut, Andre menambahkan, “Apalagi kita sama tahu Pak Prabowo adalah tokoh yang bersahabat dengan Pak SBY. Tidak pernah punya masalah personal dengan Pak SBY.”

Yha, nggak kayak tetangga sebelah gitu, ya, maksudnya? (A/K)

  • 17
    Shares


Tirto.ID
Loading...

No more articles