• 137
    Shares

MOJOK.CO – Fadli Zon belum mengakui kemenangan Ridwan Kamil di Pemilihan Gubernur Jawa Barat. Hasil quick count belum bisa jadi patokan, Gerindra lebih memilih menunggu perhitungan resmi KPU.

Bukan Fadli Zon namanya kalau tidak mengeluarkan pernyataan unik dan menarik. Baru-baru ini Wakil Ketua Partai Gerindra ini menyatakan belum mau mengakui kemenangan Pasangan Calon (Paslon) Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum pada Pemilihan Gubernur Jawa Barat masa Pilkada Serentak 2018.

Sementara ini, Ridwan Kamil memang sudah hampir dipastikan akan menjabat kursi nomor satu Provinsi Jawa Barat setelah kebanyakan hasil quick count dari berbagai lembaga survei menampilkan hasil kemenangan perolehan suaranya. Meski data dari quick count jarang meleset dari perhitungan resmi KPU, Fadli Zon masih belum sepenuhnya percaya.

“Itu baru sementara yang ada di quick count. Sementara quick count itu juga belum tentu merefleksikan secara keseluruhan,” jelas Fadli.

Selama proses demokrasi di Indonesia, quick count memang menjadi salah satu indikator bagi kandidat calon pemimpin yang dipilih oleh rakyat. Salah satu peristiwa yang diingat publik mengenai quick count salah satunya adalah saat Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 silam. Hal ini diakibatkan munculnya perbedaan hasil lembaga survei dalam menampilkan data quick count. Hasil ini membuat dua kubu, yakni Joko Widodo dan Prabowo Subianto sama-sama mengklaim kemenangan.

Baca juga:  4 Kerjaan yang Cocok Buat Lulusan Sastra Indonesia

Meski pada peristiwa tersebut hasil quick count mengeluarkan hasil yang berbeda cukup jauh, tapi sejak kejadian itu quick count semakin punya akurasi yang patut dipertanggungjawabkan. Bahkan menurut Anggota Dewan Etik Perhimpunan Survei Opini Publik Indonesia, Handi Muluk, quick count justru bisa jadi alat kontrol jika terjadi kecurangan dalam perhitungan KPU.

Kalau mau merujuk pada quick count di negara lain, perhitungan cepat ini pernah berperan dalam membongkar praktik kecurangan pada penyelenggaraan pemilihan umum. Seperti yang terjadi pada Filipina pada 1986 misalnya. Yang mana pihak Presiden Marcos ketahuan menggelembungkan suara karena hasil perhitungan resmi jauh berbeda dengan beberapa perhitungan lembaga quick count di negara tersebut. Hal yang juga terjadi di Chile pada tahun 1988, saat kubu Presiden Pinochet melakukan kecurangan serupa.

Di sisi lain, menurut Fadli Zon, Gerindra patut menunggu hasil real count dari KPU, sebab perbedaan suara yang tipis bisa saja berbalik memenangkan paslon Sudrajat-Syaikhu yang diusung Gerindra. Untuk itu, Fadli Zon mewanti-wanti agar tidak ada kecurangan dalam proses perhitungan resmi KPU Jabar.

Hal senada juga disampaikan oleh Sudrajat, lawan Ridwan Kamil di Pilgub Jabar. “Saya belum bisa mengucapkan selamat. Saya harus berdasarkan real count,” katanya. Menurutnya, meski akurasi quick count selama ini cukup baik (kecuali beberapa lembaga survei di Pilpres 2014) namun hasil ini bukanlah hasil yang sebenarnya.

Baca juga:  Dukung Jokowi atau Prabowo Aja Kok Ya Sampai Gontok-Gontokan Gitu?

Ridwan Kamil sendiri sudah melakukan pidato kemenangan sesaat hasil quick count menunjukkan keunggulan suara 2 persen lebih tinggi dari Sudrajat-Syaikhu. Mengingat perolehan yang sangat tipis ini, pihak Gerindra dan Sudrajat masih optimis hasil real count bisa jadi berbeda dengan quick count. (K/A)