• 50
    Shares

MOJOK.COSusilo Bambang Yudhoyono atau SBY dianggap sebagai master of kungfu dan jagoan yang bakal datang belakangan untuk memenangkan “sahabatnya”.

Antara Partai Demokrat dengan koalisi Prabowo–Sandiaga Uno sempat terjadi ketegangan. Saling sindir terjadi lewat media sosial. Puncaknya adalah ketika Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY berkicau lewat Twitter pribadinya. Pendiri Partai Demokrat tersebut meminta Gerindra untuk wawas diri. Semasa kampanye, beliau tidak pernah menyalahkan pihak lain.

Ketegangan antara Partai Demokrat dalam hal ini SBY, dengan koalisi Prabowo adalah kekhawatiran akan adanya Coattail Effect. Apa itu? Coattail Effect adalah sebuah efek di mana ketua partai atau calon hanya menarik suara untuk partai di mana dirinya berada. Intinya, mereka yang “membantu” hanya mendapatkan limpahan elektoral saja.

Partai Demokrat sendiri berusaha mencairkan ketegangan. Mereka mencoba menenangkan koalisi yang berpandangan bahwa SBY terlalu pasif dan tidak segera bergerak. Adalah Rachland Nashidik, Wasekjen PD, yang menegaskan bahwa SBY siap turun mengampanyekan Prabowo dan Sandiaga Uno. Tapi tidak sekarang, melainkan tahun depan, tepatnya bulan Maret.

“Kami akan turun, Maret itu kami akan turun dan dengan asumsi bahwa Pak Prabowo dan Pak Sandiaga Uno menepati janji untuk memastikan bahwa membantu kami agar suara partai kami pun juga tidak turun,” tegas Rachland Nashidik.

Mengapa SBY baru akan turun di Maret 2019? Agus Hermanto, Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat menjelaskan bahwa konsentrasi partai terbagi menjadi dua, yaitu Pilpres 2019 dan Pileg 2019. Oleh sebab itu, untuk saat ini, Partai Demokrat, SBY, dan semua kader tengah fokus menyiapkan kemenangan di Pileg 2019.

Baca juga:  Aksi Tabok Hingga Politik Genderuwo, Cara Jokowi Bertahan Ala Gegenpressing

Pernyataan dari partai bentukan mantan presiden itu direspons positif oleh koalisi. Saking senangnya, Faldo Maldini, politisi PAN, memandang strategi ini sebagai langkah yang akan “menggetarkan”.

“Bang Sandi kan strateginya turun terus ke banyak titik dari awal, kalau master of kung fu kayak Pak SBY, semua politisi tabik sama beliau. Seminggu saja sudah menggetarkan itu, apalagi sebulan. Guru politiknya semua politisi beliau itu.” Sungguh sebuah sarkasme pujian yang luar biasa menggetarkan sanubari.

Selain Faldo Maldini, pujian juga diucapkan oleh Mardani Ali Sera, Wakil Ketua Badan Pemenangan (BPN) Prabowo-Sandiaga Uno. “Enggap mepet. Justru pas, karena strategi kamu full speed di Maret 2019. Sehari umur politik itu panjang. Pak SBY paham bahwa jagoan turun belakangan.”

Seperti di film-film Hollywood, jagoan memang datang paling belakangan dan biasanya langsung menang. Ya semoga saja. Semoga tidak jadi seperti polisi India di film-film Bollywood, di mana datang paling belakang, bahkan terlambat. Apalagi hanya muncul di credit title saja. (yms)