• 173
    Shares

Berbeda dengan pasangan capres-cawapres Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno yang begitu mudah dalam menentukan ketua tim sukses atau ketua tim pemenangan (Mereka memilih Djoko Santoso), pasangan Jokowi dan Ma’ruf Amin ternyata harus berjibaku mengalami penolakan demi penolakan hanya untuk mencari ketua tim sukses bagi tim kampanye mereka.

Tim Kampanye Nasional Koalisi Indonesia Kerja (Koalisi yang mengusung Jokowi-Ma’ruf Amin) agaknya benar-benar kesulitan untuk mencari sosok untuk mengisi posisi Ketua Tim Pemenangan Joko Widodo – Ma’ruf Amin.

Jusuf Kalla yang semula digadang-gadang bakal menjadi ketua tim pemenangan untuk Koalisi Indonesia Kerja ternyata tidak bersedia menempati posisi tersebut karena ingin fokus mengurus pemerintahan dan ingin menjadi pengganti bagi Jokowi saat cuti kampanye.

Begitu juga dengan Mahfud MD. Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi tersebut secara tegas tidak bisa mengisi jabatan Ketua Tim Pemenangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin karena dia lebih memilih untuk tetap menjabat sebagai Anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).

Nah, belakangan, daftar tokoh yang menolak untuk menjadi Ketua Tim Sukses Jokowi-Ma’ruf ternyata bertambah lagi. Kali ini adalah Din Syamsuddin, mantan Ketua Umum Muhammadiyah.

Tokoh yang saat ini masih menjabat sebagai ketua Dewan Pertimbangan MUI tersebut mengaku pernah ditawari menjadi ketua tim pemenangan kampanye nasional Jokowi-Ma’ruf Amin.

“Memang ada yang pernah menghubungi saya pak Teten Masduki (Koordinator Staf Khusus Presiden) dan bu Ruhaini (Staf Khusus Presiden Siti Ruhaini Dzuhayatin), katanya membawa pesan presiden ingin dijadikan Ketua Timses Nasional,” ujar Din.

Din Syamsuddin mengaku bahwa dirinya berkomitmen untuk tidak terlibat terlalu jauh dalam dunia politik. Sehingga, tentu saja ia menolak tawaran menjadi ketua Tim pemenangan Jokowi-Ma’ruf Amin.

“Saya jelas tidak bersedia karena saya mantan Ketum Muhammadiyah, sekarang masih mempunyai jabatan sebagai ketua ranting. Saya harus menegakkan organisasi Muhammadiyah tidak terlibat politik kekuasaan,” ujar Din. “Saya tak mungkin menjadi atau masuk sebagai apapun, sebagai tim sukses pasangan manapun.”

Yah, benar-benar drama penolakan yang begitu dahsyat dan cukup bikin prihatin.

Ditolak Jusuf Kalla, ditolak Mahfud MD, juga ditolak Din Syamsuddin.

Pucing pala Jokowo-Ma’luf (A/M)

infografik