• 191
    Shares

MOJOK.CO – Bisa dibilang debat cawapres sebagai rangkaian Debat Capres 2019 ketiga merupakan debat yang paling membosankan. Sama-sama normatif. Hoooams~

Debat cawapres sebagai bagian dari Debat Pilpres 2019 di Hotel Sultan, Jakarta, sudah terlaksana. Diawali dengan pemaparan visi dari kedua kandidat, atmosfer sempat terasa hangat meski akhirnya suasana berangsur-angsur mendingin. Debat cawapres lama-lama terasa beku.

Suasana sempat kelihatan bakal seru ketika cawapres nomor urut satu, Ma’ruf Amin menunjukkan 3 kartu andalan, “Kami akan keluarkan 3 kartu. Kartu kuliah, kartu sembako murah, kartu pra-kerja. Ini kartu yang akan kami keluarkan itu,” kata Ma’ruf Amin. Gayanya bagaikan para pendekar Yu-Gi-Oh saat mengeluarkan kartu-kartu andalannya.

Tentu saja, dikeluarkan kartu saat debat cawapres begini mengingatkan publik pada Jokowi saat Debat Pilpres 2014 silam. Saat itu Jokowi mengeluarkan dua kartu: Kartu Indonesia Sehat (KIS) dan Kartu Indonesia Pintar (KIP). Rada-rada mirip gitu deh.

Sayangnya, Sandiaga tampaknya tidak terlalu mengejar kekurangan program tersebut sebelumnya pada sesi tanya jawab. Semua uraian Sandiaga terkesan normatif. Bahkan ketika mengawali visi-misi, Sandiaga sempat-sempatnya mengucapkan ulang tahun ke “lawan debat”-nya malam itu.

“Yang saya banggakan, saya muliakan, KH. Ma’ruf Amin. Abah, selamat ulang tahun ke-76, semoga Abah tetap sehat walafiat mengemban tugas negara,” kata Sandiaga.

Lho? Lho? Ini bagaimana ceritanya kok ada kalimat “mengemban tugas negara”?

Ini kan kalimat yang bisa disalahtafsirkan seolah Sandiaga mempersilakan Ma’ruf Amin menjadi wakil presiden sebagai bagian dari tanggung jawab mengemban tugas negara. Ini sebenarnya Bang Sandi niat mau jadi Wakil Presiden nggak sih? Diucapkan di acara debat cawapres lagi.

Mungkin ini bentuk implementasi sikap ahlakul karimah dari sosok kedua kandidat juga sih. Saling mempersilakan untuk jadi wakil presiden.

Meski begitu, pemaparan program kedua kandidat sebenarnya terkesan datar-datar aja. Paling juga yang membedakan adalah soal pendidikan. Di mana Ma’ruf Amin konsentrasi pada akses pendidikan dengan program Kartu Kuliah, sedangkan Sandiaga Uno kosentrasi pada kesejahteraan guru honorer.

“Prabowo-Sandi berkomitmen, PR terbesar kita adalah meningkatkan kualitas guru kita. Kita tingkatkan kompetensinya. Kita pastikan kesejahteraannya,” kata Sandiaga Uno.

Sandiaga pun tampaknya tidak berani mendebat pemaparan dari Ma’ruf Amin. Padahal yang dibutuhkan swing voters alias orang yang belum menentukan pilihan adalah Sandiaga mampu menunjukkan secara gamblang program-program yang keliru dari Pemerintah Jokowi saat ini, untuk kemudian digantikan program lain yang lebih bagus dari Prabowo-Sandi.

Sayangnya yang muncul justru kalimat, “JKN di bawah Prabowo-Sandi akan diteruskan. BPJS akan disempurnakan. Kita panggil aktuaria-aktuaria terbaik dari Hongkong, putra-putri terbaik bangsa,” kata Sandiaga. Tidak ada koreksi keras untuk program pemerintah.

Di sisi lain, Ma’ruf Amin sebenarnya bisa saja “diserang” ketika bicara soal tenaga asing. Dengan menunjukkan data—yang tidak disebutkan dari mana—Ma’ruf Amin mengklaim bahwa tenaga kerja asing di Indonesia merupakan yang paling kecil jumlahnya ketimbang negara-negara lain.

Lagi-lagi, Sandiaga tidak menyerbu klaim tersebut. Namun memilih kalem dan tampak cool saja.

“Kuncinya adalah pembenahan. Jangan saling menyalahkan,” kata Sandiaga. Dingin. Adem.

Pemirsa siaran live debat cawapres pun bingung. Ini debat cawapres atau sambutan Pak RT di acara tujuhbelasan sih sebenarnya?

Debat cawapres jadi terasa sangat membosankan. Dua cawapres sama-sama bicara normatif. Untung ketolong sama iklan Dulcolax.

Demi menghindarkan debat yang membosankan dan tidak menghibur, pada debat berikutnya, mungkin KPU memang perlu untuk menunjuk Jaja Miharja dan Soimah sebagai moderator.

“Pak Sandiaga, Pak Ma’ruf, Apaan tuuuuuuuuuh!!!!”