Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas

Makan dan Ngobrol Ngalor-Ngidul Murah Meriah di Tenda Angkringan

Redaksi oleh Redaksi
8 November 2020
A A
angkringan
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Jogja terbuat dari rindu, pulang, dan angkringan. Begitu kata penyair nyentrik Joko Pinurbo alias Jokpin itu. Apa yang dikatakan oleh Jokpin tentu saja tidak lahir dari ruang hampa. Jogja, tak bisa tidak, memang punya sejarah panjang dengan khazanah perbadogan bernama angkringan itu.

Jogja bukan hanya istimewa, namun juga sederhana (tak terkecuali UMR-nya). Walau mungkin sudah tak lagi relevan, namun masih banyak amplifikasi yang terus didengungkan tentang betapa murahnya biaya hidup di Jogja.

Satu dari sekian hal yang membuat amplifikasi tersebut begitu masif tentu saja adalah keberadaan angkringan.

Di angkringan, seseorang bisa mengganjal perutnya meski dengan uang yang sangat sedikit. Hal tersebut karena hanya angkringanlah yang menjual nasi dalam kemasan “sachet”.

Di masa ketika satu porsi pecel lele berada di angka lima ribu rupiah, angkringan bahkan menjual satu bungkus kecil nasi (a.k.a nasi kucing) dengan harga seribu rupiah saja dan gorengan seharga lima ratus rupiah. Itu artinya, seseorang bahkan sudah bisa makan hanya dengan uang seribu lima ratus rupiah. Yah, urusan kenyang dan tidak, itu lain soal.

Di masa sekarang, tentu harganya sudah beda. kendati demikian, citra murah pada angkringan masih tetap bisa terbaca. Sekarang, satu bungkus nasi kucing umumnya harganya dua ribu rupiah, sedangkan gorengannya dua ribu dapat tiga.

Dengan harga segitu, orang sudah bisa punya kepantasan untuk makan dan nongkrong hanya dengan uang tujuh ribu rupiah saja. Rinciannya: 3 gorengan, 2 nasi kucing, 1 teh anget.

Di angkringan, tentu bukan makanan belaka yang bisa didapatkan. Sesuai dengan namanya, ia juga menjadi menjadi ajang untuk “nangkring” sambil ngobrol banyak hal.

Angkringan, mampu menjadi tempat yang pas untuk berbagai atau mencari gosip dan rasan-rasan tentang apa saja. Ya tentang bola, tentang politik, tentang kamtibmas, dan segala perkara lainnya.

Selain bisa ngobrol sama pengunjung lainnya, juga bisa ngobrol sama penjaja angkringannya. Si penjaja sudah barang tentu adalah juragan isu, sebab ia pasti sudah mendengar banyak hal dari para pelanggannya.

Maka, tak mengherankan jika seseorang bisa betah berlama-lama nongkrong di angkringan.

Tapi ya kalau bisa tahu diri. Kalau jajan cuma habis tujuh ribu, ya nongkrongnya jangan lama-lama, gantian sama yang lain.

angkringan

BACA JUGA Angkringan atau Hik Terbuat dari Kehangatan, Kedekatan, dan Kepercayaan antara Penjaja dan Pelanggan dan artikel LUPUS lainnya

Terakhir diperbarui pada 24 Februari 2022 oleh

Tags: angkringanLupusnasi kucing
Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

Angkringan di Stasiun Lempuyangan Jogja jadi tempat meleram kegelisahan MOJOK.CO
Catatan

Angkringan Lempuyangan Jogja Berisi Rindu, Kegagalan, dan Beban Finansial Para Pejuang Perantauan

22 Juni 2026
Nasihat rezeki dan keuangan dari ibu-ibu penjual angkringan di Jogja yang bisa haji 2 kali MOJOK.CO
Sosok

Wejangan Rezeki dan Uang dari Ibu Penjual Angkringan, Membalik Logika Ekonomi Anak Muda yang Anxiety in this Economy

11 Mei 2026
Kenorakan-kenorakan orang yang pertama kali ke Jogja dan bikin risih (Dari angkringan, Tugu Jogja, hingga Jalan Malioboro) MOJOK.CO
Ragam

Kenorakan-kenorakan Orang yang Pertama Kali ke Jogja, Niat Kelihatan Kalcer tapi “Nggak Mashok!”

20 Oktober 2025
Angkringan Pendopo Ndalem Pakuningratan Jogja. MOJOK.CO
Ragam

Pertama Kali ke Angkringan Pendopo Ndalem Jogja Malu-maluin karena Tak Bisa Meracik Teh, Beruntung Penjualnya “Pangerten”

16 September 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Koperasi Kelurahan di Banjarsari, Surakarta, bukukan omzet ratusan juta MOJOK.CO

Cerita Koperasi di Banjarsari Surakarta: Berawal dari Garasi, Bukukan Omzet Ratusan Juta?

12 Juli 2026
Caruban—sebagai ibu kota dari Madiun—barangkali terkesan tidak bagus-bagus amat. Tapi bikin jatuh hati lewat hal-hal sederhana MOJOK.CO

Caruban Madiun Memang Tidak Bagus-bagus Amat, Tapi bikin Jatuh Hati Lewat Hal-hal Sederhana

13 Juli 2026
TikTok Bukan Psikolog atau Psikiater, tetapi Gen Z Mencari Diagnosis Kesehatan Mental di Sana MOJOK.CO

TikTok Bukan Psikolog atau Psikiater, tetapi Gen Z Mencari Diagnosis Kesehatan Mental di Sana

17 Juli 2026
Beralih dari profesi dokter ke petani di Klaten. MOJOK.CO

Resah Jadi Dokter: Tangani Pasien Petani dengan Keluhan Sama, Pilih Turun ke Sawah demi “Menyembuhkan” Tanah

13 Juli 2026
cari kerja, UGM.MOJOK.CO

300 Lamaran Kerja Ditolak, Lulusan UGM Pilih “Turunkan Standard”: Sadar Bursa Kerja Sedang Tak Baik-Baik Saja

15 Juli 2026
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kerja sama dengan Australia. MOJOK.CO

Satu Dekade Jogja dengan Melbourne Symphony Orchestra: Bukti Orkestra Nggak Melulu Kaku bahkan Bisa Dinikmati Sambil Lesehan

15 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.