Aksi blokir oleh pemerintah kembali menuai protes massal, Kali ini gara-gara akses website untuk layanan perpesanan Telegram ditutup. Untuk aplikasinya sendiri saat ini masih bisa digunakan. Di Facebook-nya, Teguh Arifiyadi, Kepala Subdirektorat Penyidikan dan Penindakan, Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika, Kementerian Komunikasi dan Informatika menjelaskan alasan pemerintah memblokir layanan perpesanan asal Rusia ini.

Teguh Arifiyadi (diposkan 15 Juli 2017): Tentang Pemblokiran Layanan Telegram

Saya sudah tidak bisa menghitung berapa banyak orang yg mencaci maki, membully bahkan merendahkan saya gara-gara diblokirnya aplikasi layanan pesan Telegram versi web kemarin sore. 🙂

Saya memang bukan decision maker sampai akhirnya keputusan ini dibuat. Diibaratkan saya hanya pemegang kunci (kuncen), pemilik rumahnya tetap bukan saya.

Keputusan memblokir layanan Telegram versi web bukan sekedar urusan teknis penanganan konten negatif (radikal, terorisme, dll) yg berjalan di platform tersebut.

Ada banyak pertimbangan yg terkadang tidak perlu disampaikan ke publik. Ini kaitannya dengan strategi, positioning, bargaining, cyber sovereignity (kedaulatan), dll.

+++

Siapapun presidennya, mau pak Jokowi, atau nanti misalnya pak Bachtiar Natsir jadi presiden, negara ini harus tetap punya posisinya sendiri di dunia siber.

Negara ini harus punya kedaulatan di dunia siber yg harus dihormati siapapun yg beroperasi di negara ini.Indonesia harus bersikap sebagai tuan rumah di negaranya sendiri.

Jika misalkan pada akhirnya layanan pesan (messenger) Telegram dibekukan, saya kira masih banyak layanan lain baik versi lokal atau versi lain yang masih bisa digunakan.

Siapapun boleh menggoreng isu ini sebagai isu politik. Tapi sekedar mengingatkan, jika suatu saat kalian berkuasa, kalian akan menemukan persoalan yg sama. Kalian akan berada di sudut pandang yang berbeda.. 

+++

Mungkin ada tim saya yg sakit hati dg pernyataan-pernyataan mereka, tapi seperti saya sering sampaikan ke tim saya, jangan jadi warga internet yg baperan! Itu risiko bekerja di tim ini! 

Berdebat di media sosial tidak membawa banyak manfaat. Bertemu dan saling memandang ekspresi akan menimbulkan rasa empati dan rasa saling menghormati.

Baca juga:  Bapak Menkominfo Butuh Piknik

Saya tetap salut dengan tim saya. Kami sudah melewati masa tersulit di aksi 212 dan 414 dengan mengatur dan memonitor keseimbangan konten internet sehingga aksi tersebut berjalan lancar dan damai.

Kami tidak punya musuh, tidak juga cari musuh. Kami hanya pelayan masyarakat biasa.

Terimakasih kritiknya utk semua kawan2 dan warga internet!

Jangan sungkan untuk mampir sekedar bertabayyun dan bersilaturahmi di tempat saya. Itupun jika saya belum di pecat. 🙂

Teguh Arifiyadi (diposkan 17 Juli 2017): Tentang Kegaduhan Telegram [End]

Diksusi soal pemblokiran Telegram web sementara kita sudahi dulu ya rekan-rekan. Mas Pavel Durov minggu pagi kemarin sudah resmi membalas ‘surat cinta’ kami…

Kesabaran kami menunggu balasan 6 ‘surat cinta” kami selama lebih dari 15 purnama (377 hari) membuahkan hasil indah. Dengan rendah hati mas Durov atas nama tim menyampaikan permohonan maaf. Hati kami yang semula kecewa kembali berbunga. Ada kesempatan untuk menjalin silaturahmi yang belum pernah terhubung.

Banyak yang menyebutkan ini suatu kemenangan, kami lebih suka menyebutnya sebuah harapan. Karena kami memang tidak pernah menganggap ini peperangan, meski strategi dan risiko kami pertaruhkan.

Bukan pujian yang kami harapkan, meski banyak cacian yang kami rasakan. Yang kami butuhkan saat ini, berikan kami kesempatan melanjutkan apa yang sedang kami kerjakan!

+++

Tim kami bukan bagian dari kubu-kubuan, tidak juga peduli soal rezim-reziman, apalagi ribut soal bani-banian, kami hanya berupaya menjalankan kewajiban undang-undang. Tujuan jangka panjang kami hanya ingin negara ini berdaulat di dunia siber (cyber souvereignity). Sebesar apapun risikonya, siapapun pemimpinnya, apapun sistem pemerintahannya, — mau demokrasi atau bahkan khilafah—, negara ini harus menegaskan posisinya sendiri di dunia siber!

+++

Yang masih tertarik menggoreng isu pemblokiran ini ke jalur politik, kalau boleh saran sih bisa memilih isu lain. Masih banyak isu soal kinerja pemerintah yang bisa terus dikritisi. Perpu Ormas, kenaikan tarif listrik, hutang negara, freeport, atau isu tentang pansus KPK sepertinya jauh lebih menarik dan berdurasi panjang. Silahkan digoreng dengan tambahan bumbu yang tak kalah sedap. Saya akan menikmati kelezatannya. 

+++

Baca juga:  Standar Ganda

Untuk sahabat-sahabat yang tidak setuju adanya kewenangan pemblokiran oleh pemerintah, saya sarankan bersatulah! Jika kalian masih menganggap hukum sebagai panglima di negara ini, maka ajukanlah Constitutional Review ke Mahkamah Konstistusi (MK) tentang kewenangan pemerintah untuk memutus akses informasi/dokumen elektronik yang melanggar hukum.

Jika kalian menang, maka kami siap untuk melepaskan ‘tahanan konten negatif’ yang ada di penjara server-server kami. Kami siap bebaskan 750 ribu lebih situs pornografi dewasa dan pornografi anak, ribuan situs judi online hasil patroli kami berbulan-bulan, ribuan situs obat dan kosmetik palsu dan illegal, puluhan ribu situs penipuan dan investasi illegal, ratusan situs penjualan narkotika dan obat terlarang, dan semua konten-konten negatif lainnya.

Rayakanlah kemenangan itu, nikmati kebebasan versi barat yang sangat diidamkan. Jangan lupa ajak keluarga dan kolega Anda menikmati kemenangan itu. 

+++

Jika kewenangan pemerintah memblokir konten negatif dihapuskan, saya mungkin orang pertama yang akan sangat diuntungkan. Saya bisa segera bubarkan tim saya dan kembali bekerja selayaknya pegawai negeri pada umumnya. Jam kerja saya dan tim saya kembali normal, kami tidak harus lagi selalu siaga 24 jam 7 hari kerja memantau ruang siber yang bising dan penuh anonim itu. Keluarga kamipun tidak perlu lagi merasa risau dengan banyaknya ancaman. Tidur kami akan kembali nyenyak!

+++

Tak lupa pesan sponsor, jika Anda membutuhkan bantuan terkait apa yang kami kerjakan, tidak perlu sungkan untuk datang atau menghubungi kami. Kami tidak akan menanyakan Anda memilih siapa di Pilpres sebelumnya, kami juga tidak akan tanyakan apa agama dan suku Anda, siapa ulama junjungan Anda, kami hanya akan bertanya “apa yang bisa kami bantu untuk Anda?”

+++

Terimakasih dukungan banyak sahabat dan warga internet atas kerja tim kami.

Salam hangat kami pelayan masyarakat dari dapur pemblokiran konten negatif! 

Komentar
Add Friend
No more articles