Tanya

Malam, Mas Agus.

Maaf ya, saya kurang paham soal cara berbasa-basi yang baik. Jadi saya mau langsung saja mengutarakan niat saya untuk curhat. Semoga Mas Agus punya banyak waktu untuk membaca curhatan saya.

Begini, Mas. Saya punya tetangga yang rumahnya persis di sebelah kanan rumah saya. Di dalam rumah tetangga saya itu tinggal seorang suami, istri, adiknya suami, ibunya suami, dan empat orang anak dari pasangan suami-istri tersebut. Oh iya, dan seekor kucing peliharaan sih. Mari kita sebut saja Tono sebagai suami dan Tini sebagai istri.

Rumah itu adalah rumah dari ibunya Tono, alias ibu mertua Tini. Sudah dua tahun belakangan Tono tidak bekerja, sedangkan Tini kerja harian sebagai pembantu rumah tangga. Tidak ada yang salah dengan istri bekerja. Yang salah adalah ketika si suami masih bisa bekerja, sehat jasmani, tidak cacat, masih muda, tapi memutuskan buat ngganggur. Padahal, kondisi ekonomi keluarga mereka kacau, Mas. Tono betul-betul nganggur, sama sekali tidak melakukan aktivitas yang menghasilkan nafkah.

Kenapa saya bilang kacau? Beberapa kali dalam satu hari rumah mereka didatangi tukang kredit yang berbeda. Belum lagi hutang di warung-warung sekitaran sini. Di perkumpulan arisan PKK juga sering disinggung mengenai uang setoran yang ‘dipakai dulu’ oleh Tini untuk keperluannya sendiri.

Ibu Tono yang sudah tua saja berusaha cari nafkah lho dengan jualan kue kering. Gila ya itu si Tono! Tono ini menganut kepercayaan banyak anak banyak rejeki, Mas. Hobi punya anak tapi males buat kasih makan dan ngurusin. Tono-Tini beranak empat. Laki-laki, perempuan, perempuan, laki-laki. Umurnya? Saya taksir 13, 7, 6, dan 2 tahun.

Tini nggak beda jauh dengan Tono. Merasa dirinya yang cari nafkah, Tini jadi semena-mena dengan mertuanya. Mulai dari memasak sampai mengasuh anak sebagian besar ibu mertuanya yang kerjakan.

Baca juga:  Pahit Manis Bertetangga dengan Hantu

Sebenarnya si Tini dan Tono beserta anaknya sempat tinggal di desa, di rumah orang tua Tini. Tapi hanya sebentar. Alasannya baru saya ketahui setelah tanpa sengaja pembicaraan mereka terdengar oleh kuping saya.

Tono : Lagian kamu, bukannya nerima tinggal di desa saja malah minta tinggal balik ke sini lagi. Sekolahan anak lebih dekat. Aku juga bisa garap kebun di sana, lumayan bisa buat makan.

Tini : Ndak papa, kan di sini ada Bu Yuli, kalau kita susah kan dibantu.

Saya kesal lah dengarnya. Kenapa? Karena, Bu Yuli itu ibu saya.

Menurut saya sih ibu saya terlalu baik sama mereka. Ibu saya rajin banget kalau suruh bagi masakan ke rumah sebelah. Nggak cuman sayur, lauk pauk dari yang remeh sampai yang daging-dagingan juga. Ibu saya juga sering kasih sembako, ada amplop berisi uang di dalamnya pula.

Saking baiknya ibu saya, sampai-sampai nggak ada sekat di antara keluarga saya dengan keluarga Tini. Tini bisa slanang-slonong ke rumah saya tanpa babibu dan ketuk pintu dulu. Kalau ke rumah saya, ada saja yang dia minta. Ya gula, ya minyak goreng, ya beras. Dan itu tanpa rikuh-rikuh mintanya.

Seringnya setiap pagi mood saya jadi hilang karena lihat sikapnya Tini yang selalu bergantung sama ibu saya. Misalnya, anaknya yang nomor satu dan dua kalau berangkat sekolah disuruh minta sangu ke ibu saya. Lah? Anak-anak siapa, minta sangunya ke siapa. Yang paling bikin kesel, Tini ini pernah berani-beraninya minta dibelikan baju baru ke ibu saya buat anak dia.

Baca juga:  Balikan Sama Mantan yang Terlarang

Terus lagi, kalau ada Gofood pesanan saya datang, Tini dan sedompol anaknya nongol-nongol di pintu. Saya sih ngerti maksudnya apa, saya cuekin saja. Sebal, Mas. Insya Allah kalau sedekah mah saya lakukan, tapi bukan menyasar pada mereka. Lebih saya tujukan ke orang-orang yang sangat membutuhkan, misalnya orang tua renta yang jualan di pinggir jalan, ke masjid, atau lembaga penyalur infaq yang amanah.

Tini ini saya golongkan sebagai orang yang tuman, nglunjak, dikasih hati minta jantung. Saya sudah coba nasihatin ibu saya supaya nggak terlalu baik sama mereka biar nggak digampangin. Lah gimana, sedikit-sedikit minta dikasihani. Tono kan masih bugar dan dalam usia produktif. Iya sih rejeki di tangan Tuhan, tapi kalau si manusianya nggak ada hasrat untuk berusaha mana bisa hidupnya tercukupi.

Saya jadi nggak nyaman tinggal bersebelahan dengan mereka, selain karna mereka suka masuk rumah tanpa permisi, saya juga kesal lihat ibu saya ‘diporotin’ terus oleh mereka.

Menurut Mas Agus sebaiknya saya harus bersikap bagaimana ya supaya ibu saya nggak sering dimanfaatkan oleh mereka tapi hubungan Rukun Tetangga tetap terjalin baik?

Terima kasih, Mas.

Salam, Dea.

Jawab

Dear, Dea.

Saya bisa mengerti dengan kedongkolan yang Anda rasakan. punya tetangga yang parasitnya setengah mampus dan terus-menerus bikin hati menjerit.

Saya kalau punya tetangga yang begitu, mungkin tubuh saya sudah kurus dan hanya tinggal menunggu waktu sampai saya jatuh tipes.

Begini, Dea. Sedongkol apa pun Anda dengan kelakuan Tini dan Tono, namun tetap saja Anda tak bisa berbuat banyak karena yang pada kenyataannya, bukan Anda yang menjadi sasarn utama  tindak keparasitan mereka, melainkan Ibu Anda. Hal ini membuat Anda tidak bisa punya kendali untuk menghentikan praktik keparasitan itu secara langsung.

Baca juga:  Berjuang Mengejar Cinta dengan Terus Ngetwit Puisi Romantis

Nah, dalam hal ini, salah satu cara yang paling baik dan paling memungkinkan adalah dengan merajuk penuh pengharapan kepada Ibu Anda. Bukan sekadar menasihati, tapi merajuk.

Ceritakan percakapan yang tak sengaja Anda dengar itu kepada Ibu Anda. Berikan argumen yang masuk akal bahwa jika Ibu Anda terus memberikan apa saja yang diminta oleh Tini, maka hal tersebut bakal membuat mereka semakin manja dan justru itu merugikan mereka.

Katakan pada Ibu Anda bahwa cara terbaik untuk peduli kepada tetangga adalah dengan tidak mempedulikannya.

Katakan hal ini terus-menerus, berulang-ulang, setidaknya sampai kelak Ibu Anda tidak tega kepada Anda.

Tapi tentu saja hal tersebut tidak menjamin Ibu Anda bakal mulai berhenti memberikan apa saja yang diminta oleh Tini. Kalau sudah begitu, Anda hanya bisa berbaik sangka. Siapa tahu, Ibu Anda memang punya pertimbangan lain yang memang tidak pernah Anda mengerti. Bisa saja apa yang Ibu Anda lakukan itu bukan untuk Tini, melainkan untuk Ibunya Tono yang kemungkinan di masa lalu pernah banyak membantu Ibu Anda. Sehingga ia merasa perlu membalas jasanya.

Anda hanya bisa melakukan hal yang menjadi batas kewenangan Anda, misal mulai sering mengunci pintu rumah agar Tini tidak asal slonang-slonong masuk rumah Anda, atau mulai menunjukkan roman muka sebal ketika Tini berulah.

Semoga Tono dan Tini cepat berubah.

Atau kalau memang ternyata mereka tidak bisa berubah, semoga mereka cepat pindah.

Saya di sini ikut mendoakan.

~Agus Mulyadi