• 80
    Shares

MOJOK.CONarasi Juventus vs Roma terasa berbeda. Roma begitu kesulitan masuk ke papan atas, sementara Juventus nyaman di puncak klasemen.

TEKEL kali ini temanya Juventus vs Roma. Saling gaprak antara Moddie dan Rizky Akbari terasa sangat sendu. Keduanya bicara soal kemaluan. Yang satu bikin malu karena kalahan di kompetisi Eropa hingga ditinggal sang legenda. Satunya bikin malu karena nggak pernah juara. Sekali juara pun karena beruntung saja.

Moddie: Roma perlu sadar diri kalau mereka itu cuma “Rombengan Malang”.

Alex Sandro bilang kalo Juventus vs AS Roma ibarat perang. Bagi saya, itu berlebihan. Melawan AS Roma, bagi Juventus, adalah pertandingan yang biasa. Sama halnya Juventus ketemu Crotone atau bahkan Perugia. Tak ada yang istimewa.

Apa menariknya AS Roma? Stadion masih numpang. Scudetto? Itu kalo nggak ngebajak Gabriel Batistuta dari Fiorentina, paling ya nggak bakal juara.

Romanista, eh Romanisti di Indonesia? Saya sih tak pernah tahu berapa jumlahnya dan sebenarnya tak ingin tahu juga. Tapi, kalo saya ditanya berapa jumlahnya dan saya disuruh menebak, kayaknya jumlahnya masih lebih banyak suporter PS TIRA. Seriyes.

Untuk soal pemain AS Roma? Wah, siapa ya yang istimewa? Wong yang bagus-bagus malah dijual. Radja Nainggolan dan Alisson adalah salah duanya. Strategi kok menjual pemain bagus. Itu hobi apa gaya hidup?

Roma itu lebih cocok disebut klub rombengan. Mencari pemain bekas untuk menambal kepergian pemain-pemain yang punya kelas. Jadi, ya wajar kalo permainan AS Roma kadang naik, lebih banyak turun. Dan terbukti kan, sekarang masih tertahan di papan tengah. Ya itu habitat mereka.

Baca juga:  Dominasi Real Madrid Atas Juventus, Dominasi Cristiano Ronaldo di Liga Champions

Masih untung lolos ke Liga Champions, meskipun berbau keberuntungan. Pencapaian tertinggi AS Roma kan cukup mendekati Juventus.

Kalo sekarang? Boro-boro mau lolos Liga Champions, berusaha untuk bertahan di papan tengah saja sulit. Satu pemain cedera, sudah sulit cari penggantinya. Ya itu tengok Edin Dzeko, begitu cedera, Roma sulit cari pengganti. Apa ya mau Manolas jadi striker. Nanti malah dikit-dikit nangis.

Sudah yha. Sudah jelas terlihat pemenangnya. Saking pedenya Juve, Cristiano Ronaldo pun sepertinya tidak akan diturunkan. Ini bukan menghina lho ya. Cuman kita harus saling menyadari dan memahami.

Apa jadinya kalo Roma nanti kalah (lagi)? Lebih baik suporter AS Roma bersiap diri. Siapkan handuk untuk mengelap air mata. Tisu saja sudah tidak cukup menyeka air mata kekalahan Roma nanti.

Rizky Akbari: Sebagai sebuah keluarga, Juventus sudah gagal.

Kalau ada satu tim yang layak untuk dibenci, jawabannya adalah Juventus. Juve layak dibenci. Kenapa?

Ya, dia satu-satunya tim yang gelar Scudetto-nya dicopot karena jelas terbukti terlibat skandal Calciopoli. Alasan kedua, Juventus ini tak perlu main bagus, yang penting dapat penalti. Kalau perlu pakai diving dan main drama. Tengok ketika melawan Torino, ketika Kemenangan Juventus ditentukan oleh penalti Cristiano Ronaldo.

Kalau sudah punya DNA jahat, ya bakal begitu terus. Menurun dari generasi ke generasi.

Nah, saya sendiri setuju dengan Tekel mbak Ratna Dewi, fans Inter Milan, yang bilang bahwa Juventus itu kemaluan terbesar di Serie A. Jangan ngeres pikiranmu. Kemaluan terbesar itu maksudnya Si Emak Tua ini memang klub yang bisanya bikin malu saja, terutama di Liga Champions.

Baca juga:  Liverpool vs AS Roma: Panggung Mohamed Salah dan Asa Serigala Roma yang (Masih) Terjaga

Sudah masuk final Liga Champions tiga kali, malah gagal terus. Sampai-sampai, saking traumanya dengan Liga Champions, mereka beli pemain yang bikin gagal final tahun lalu: Ronaldo! Setelah sebelumnya sesumbar bilang punya pertahanan tersolid di Liga Champions, pas di final, mereka bikin malu dengan kebobolan empat kali. Bikin malu saja.

Satu hal lagi yang bikin saya malu. Gini lho. Kita, terutama fans klub-klub Italia, pasti paham betul soal kedekatan pemain dengan klubnya. Apalagi, mereka yang sudah berstatus legenda. Klub itu, posisinya hampir sejajar dengan posisi ibu dalam tradisi orang Italia. Sangat personal dan sudah seperti keluarga.

Dan sejatinya keluarga, kamu tidak akan pernah mengkhianati cinta mereka. Ketika Gianluigi Buffon bilang bahwa anak-anak Juve sebetulnya sudah mau pada hengkang apabila manajemen nggak beli Ronaldo, saya cuma bisa geleng-geleng. Ini klub macam apa. Legenda mereka pun sampai bisa bilang begitu sebelum pada akhirnya dia sendiri cabut ke PSG. Demi apa? Ya demi juara Liga Champions. Dobol!

(((Ehh, maaf, Buffon itu legendanya Parma. Juve cuma sebatas transit)))

Bagi saya, kejadian ini bahkan lebih bikin malu ketimbang gagal di Liga Champions. Sebagai sebuah “keluarga”, Juve sudah gagal. Memang cuma Roma dan Francesco Totti yang sukses membina cinta murni ala sepak bola Italia.

Juara dan kemenangan itu fana di depan sepak bola Italia. Cinta dan kesetiaan adalah mutiara yang paling utama. Juventus, sebagai keluarga, sudah gagal. Mending segera bubar dan bikin panti jompo saja buat simbol “Si Emak Tua” yang makin “keriput” itu.

  • 80
    Shares


Loading...



No more articles