Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Rame List

5 Fakta Anak Kedua yang Sering Terlupakan

Aprilia Kumala oleh Aprilia Kumala
13 September 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Ada beberapa fakta anak kedua yang bakal membuatmu mengerti betapa spesialnya kami—anak-anak kedua yang sering kamu lupakan. Hih!

Dalam susunan persaudaraan sebuah keluarga, anak kedua—apalagi dalam susunan tiga bersaudara—biasanya menjadi anak yang konon tak terlalu mudah diingat sebagaimana anak sulung dan anak bungsu. Jika kakak pertama sering kali dijadikan role model, sementara adik bungsunya menjadi anak kesayangan, anak kedua alias anak tengah berbeda—mereka lebih sering dianggap paling berbeda dibandingkan kedua saudaranya.

Memangnya, seberapa bedanya sih fakta anak kedua, baik yang bungsu maupun yang jadi anak tengah? Apakah mereka memang sangat berbeda, seperti dirimu dan dirinya hingga tak bisa bersatu?

1. Kemampuan Sosial Baik

Dibandingkan kakak maupun adik, fakta anak kedua yang pertama adalah bahwa mereka memiliki kemampuan sosial yang lebih baik dan dapat diandalkan. Beberapa pihak menyebutkan hal ini terbentu karena mereka lebih sering meminta saran pada teman-temannya, bukan orang tuanya.

Kemampuan sosial yang baik ini, sebagai contoh, tercermin pada kisah Ibas Yudhoyono yang melegenda: membuat twit dengan frase “Wahat rakyatku”. Plis deh, itu tuh bukan sombong—itu adalah reaksi alamiah anak kedua!

2. (Sedikit) Terlupakan

Karena bukan anak sulung, kesempatan anak kedua untuk diingat banyak orang memang tak terlalu besar. Saat bertemu dengan teman-teman orang tuanya, misalnya, anak-anak kedua ini harus bersikap sabar saat disapa dengan sapaan familiar sepanjang hidupnya:

“Eh, kamu udah besar! Siapa, ya, namanya? Romlah, bukan?”

Padahal, Romlah kan nama si kakak sulung :(((

Atau, sapaan lainnya yang tak kalah dikenang, “Eh, Adiknya Romlah! Sehat, Adiknya Romlah? Romlahnya mana?”

Hadeeeeh~

3. (Tadinya) Manja

Sebelum ada anak bungsu (dalam tiga bersaudara), anak kedua adalah bungsu yang tertunda. Dengan posisinya sebagai (mantan) bungsu, tentu si anak kedua mulanya adalah pribadi yang cukup dimanja, sebelum akhirnya jabatannya ini direbut, lalu membuatnya terkoyak hingga sampai di tahap kehidupan yang memperjelas statusnya sekarang: anak tengah, persis seperti El-nya Ahmad Dhani dan Bunda Maia.

Kemanjaan yang penuh nostalgia ini konon membuat fakta anak kedua selanjutnya: menjadi pribadi yang sedikit baper bila dibandingkan dengan saudara-saudaranya.

Makanya, kalau situ nggak serius-serius amat sama gebetan yang anak kedua, nggak usah sok-sok manjain, deh! *emosi*

4. Tukang Ngalah

Bukan apa-apa, nih, tapi anak kedua—khususnya dalam tingkatan tiga bersaudara—sepertinya patut dianugerahi gelar ‘anak yang mudah mengalah’.

Iklan

Ha gimana mau nggak ngalah? Ada masalah sama kakak, dinasihati, “Hormati kakakmu!” Giliran ada masalah sama adik, dinasihati, “Ngalah, lah, sama adikmu.”

[!!!!!!!!111!!!!!11!11]

Tak jarang, dengan fakta anak kedua ini, mereka merasa seperti menjadi model murid teladan yang patut dicontoh murid-murid SD di dunia.

5. Tidak Punya Banyak Pilihan

Sebagai anak yang perbedaan usianya tidak jauh dari anak pertama, para anak kedua umumnya harus bersikap sabar menerima kenyataan bahwa mereka bakal sering menerima barang bekas pakai. Hal ini menunjukkan bahwa dalam beberapa hal, mereka memang tak punya banyak pilihan.

Bukan hanya barang, fenomena ini ditunjukkan pula oleh bagian dari diri mereka sendiri: nama lengkap. Kalau anak pertama biasa diberi nama ‘Eka’, ‘Eko’, ‘Pratama’, ‘Perdana’, ‘Prima’, dan lain sebagainya, anak kedua biasanya hanya punya sedikit pilihan.

Yang paling populer, mereka diberi nama ‘Dwi’. Iya nggak, wahai Dwi se-Indonesia?

Terakhir diperbarui pada 13 September 2018 oleh

Tags: ahmad dhanianak bungsuanak sulunganak tengahBunda MaiaDwiEl RUmifakta anak keduaIbas Yudhoyonokarakter anakmaia estianty
Aprilia Kumala

Aprilia Kumala

Penulis lepas. Pemain tebak-tebakan. Tinggal di Cilegon, jiwa Banyumasan.

Artikel Terkait

Derita anak bungsu. MOJOK.CO
Ragam

Derita Anak Bungsu Saat Kakak Gagal Penuhi Harapan Orang tua dan Tak Lagi Peduli dengan Kondisi Rumah

9 Januari 2026
Slip Gaji di Bawah UMR Jogja Jadi Bahan Lomba Melamun: Beratnya Anak Pertama Bayar KUR BRI Orang Tua
Ragam

Slip Gaji di Bawah UMR Jogja Jadi Bahan Lomba Melamun: Beratnya Anak Pertama Bayar KUR BRI Orang Tua

24 Agustus 2025
Perayaan Mati Rasa. MOJOK.CO
Catatan

Memahami Beban Anak Sulung yang Penuh Luka dan Sembuh berkat Kejujuran

17 Februari 2025
Jadi Bungsu Sangatlah Asyuuu: Anak Lugu Penuh Haru MOJOK.CO
Uneg-uneg

Jadi Bungsu Sangatlah Asyuuu: Anak Lugu Penuh Haru

8 Januari 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kos horor di Jogja.MOJOK.CO

5 Tahun Tinggal di Kos-kosan Horor Jogja: Gajiku Lebih “Satanis” dari Tempat Tinggalku

12 Januari 2026
Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Mie ayam di Jakarta jadi saksi para pekerja berusaha tetap waras meski penuh beban hidup MOJOK.CO

Mie Ayam di Jakarta, Saksi Pekerja Berusaha Waras setelah Berkali-kali Nyaris Gila karena Kerja dan Beban dari Orang Tua

14 Januari 2026
Film Semi Jepang Bantu Mahasiswa Culun Lulus dan Kerja di LN (Unsplash)

Berkat Film Semi Jepang, Mahasiswa Culun nan Pemalas Bisa Lulus Kuliah dan Nggak Jadi Beban Keluarga

14 Januari 2026
Penjual kue putu di Jogja. MOJOK.CO

Kegigihan Gunawan Jualan Kue Putu di Kota-kota Besar selama 51 Tahun agar Keluarga Hidup Sejahtera di Desa

14 Januari 2026
alfamart 24 jam.MOJOK.CO

Alfamart 24 Jam di Jakarta, Saksi Para Pekerja yang Menolak Tidur demi Bertahan Hidup di Ibu Kota

14 Januari 2026

Video Terbaru

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.