Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Corak Waini

Selip Lidah: Mengundang Tawa, Memancing Marabahaya

Prima Sulistya oleh Prima Sulistya
2 Juni 2017
A A
Selip Lidah: Mengundang Tawa, Memancing Marabahaya

Selip Lidah: Mengundang Tawa, Memancing Marabahaya

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Ketika tempo hari saya selip lidah kepada pacar saat menanyakan “Bro, waktu ketemu Duta Sheila on 7 di CGV itu kita lagi nonton apa ya?” dan berimbas pada mundurnya dia beberapa langkah disusul dengan perkataan yang mengejutkan saya bahwa “Kita kan belum pernah nonton berdua”, saya tersadar, selip lidah bukan sekadar topik yang bisa dibedah dengan trinitas id-ego-superegonya Sigmund Freud yang bukunya pasti nggak pernah kamu baca pas SMP itu, tetapi juga topik yang sangat menarik untuk rubrik Waini.

Selip lidah sebenarnya tak lebih lucu dari selip jempol, apalagi baru kemarin Donald Dumb menjadi headline karena typo menulis coverage jadi covfefe di Twitter. Namun, sebagai kipas angin besar (ha lucu) dari Almarhum NgupingJakarta yang lucunya beraque banget itu, saya akan fokus pada kisah-kisah selip lidah yang saya alami maupun pernah dengar dari cerita para sohabat. Kisah-kisah selip jempol dari generasi yang waktu SD mencet gembot, remaja mencet stik PS, dan ketika dewasa mencet keypad HP tanpa pernah resah walau belum membaca karya Sigmund Freud kiranya memang layak jadi konten rubrik ini, tapi edisi selanjutnya masih bisa menunggulah.

Alkisah, saya dan teman-teman kuliah sedang berkumpul di warung kopi sampai Hanis, salah satu peserta yang datang menyusul, tiba. Perempuan satu ini agak berbeda dengan kami, cenderung punya energi yang meletup-letup, juga agak berisik seperti dingdong baru diisi koin. Dengan kepercayaan diri tinggi, ia membagi kabar kepada kami.

Hanis: cyin, udah tahu belum Gigabyte film barunya Leonardo DiCaprio?

Teman 1: *hening*

Teman 2: *berpikir*

Teman 3: *makan*

Saya: *hening berpikir sambil makan*

Rasanya ada yang aneh. Itu masa-masa ketika saya rutin memantau film Hollywood terbaru, dan memang benar bahwa Uda Leo ini ada keluarkan film baru. Namun, rasa-rasanya judulnya adalah ….

Saya: Nis, bukannya judulnya Great Gatsby?

Sekitar lima menit selanjutnya adalah sesi penistaan intelegensi Hanis. Yang dilakukan si pelaku? Apa lagi selain tertawa. Harap maklum, waktu itu bangga atas kebodohan sendiri masih belum begitu populer.

Kisah kedua baru-baru saja terjadi ketika geng saya yang isinya manusia-manusia jalang dari kumpulan yang terbuang berkumpul. Rhea Yustitie, memang sengaja saya tulis nama lengkapnya agar malunya kafah, sedang bercerita.

Rhea: jadi to, gaes, pas aku ke Bandung kemarin … eh tapi ini out of the box ya.

Teman 1: Off the record, bangke!

Iklan

Tak usah saya terangkan lebih jauh kelanjutan bullying tersebut karena akan lebih menyedihkan mengingat Rhea adalah guru bahasa asing di sebuah SMA favorit di Boyolali.

Kisah ketiga terjadi ketika saya dan teman-teman sedang menonton perayaan milad Fisipol UMY di Sportorium kampus itu. Salah satu hiburannya adalah penampilan seni budaya. Kami hadir di sana untuk menonton pertunjukan dari Mantra Merah Putih, komunitas yang anggotanya teman-teman kami juga.

Fajrin dan Ismul ikut menonton acara itu bersama kami. Keduanya anggota sanggar seni lain bernama Sanggar Nusantara (Sanur). Tragedi dimulai ketika satu teman memulai provokasi.

Teman 1: Mantra jadi guest star? Sanur gimana ini? Aduuuh!

Fajrin: levelnya beda, bro!

Ismul: iya, Sanur levelnya bukan dalam ruangan lagi, tapi indoor.

Ketika saya menuliskan kejadian itu di Facebook, seorang teman menyahut di komentar.

“Jadi ingat obrolanku dengan teman kos dulu. Dia tanya: Kak, ke Grogol dari Sudirman naik apa ya? Aku jawab: dua tiga belas. Dia diam, lalu nyaut, bukannya dua satu tiga?”

Ya, selip lidah memang tidak mengenal suku, agama, ras, golongan, maupun batas provinsial.

Dua kisah terakhir dimulai dengan cerita klasik soal Ustadz Daffy al-Jugjawy semasa belum ditahbiskan sebagai ustadz dan kami masih sama-sama bergiat di organisasi kampus yang sama. Dafi, si senior yang menyedihkan karena amat payah dalam bahasa Inggris, memang kerap bikin blunder. Misalnya membuat pengumuman berjudul “angel liputan majalah edisi xxx” atau menyebut handout (materi presentasi dalam bentuk cetak) dengan hangout.

Sepayah-payahnya mahasiswa Sastra Indonesia ini berbahasa Inggris, ternyata ada yang lebih payah. Cahyo, teman Dafi, bahkan mengulang mata kuliah Bahasa Inggris sampai tujuh kali. Keduanyalah tokoh cerita kita kali ini.

Suatu siang Cahyo yang baru datang ke sekretariat mendapati Dafi tengah tidur karena kelelahan habis melembur. Dengan suara cemprengnya, ia membangunkan Dafi dengan keras.

“Daf, Daf, give up, Daf! Give up!”  

“Iki aku wis give up, Yok.”

Siapa saja tentu give up dengan bahasa Inggrisnya Cahyo.

Kisah penutup berikut bukan kisah selip lidah, tetapi korbannya acap menganggap demikian sehingga saya cantumkan di sini. Juga karena level kelucuannya yang tentu jauh jika dibandingkan dengan ikan tongkol.

Ini kisah tentang sohabat saya yang bernama Rohhaji Nugroho.

Suatu kali, karena sebuah keperluan, Nugroho harus SMS-an dengan orang asing. Sebagaimana adab komunikasi dua orang yang baru mengenal, tentulah ada pertanyaan soal identitas nama di sana. Tidak perlu kecewa karena menanyakan agama memang belum hype kala itu.

Mas, boleh tahu namanya siapa?

Hoho

Jangan ketawa, Mas. Saya serius nanya, namanya siapa?

Hoho, Mas

Demikianlah satu dari jutaan kali kejadian serupa yang pernah terjadi pada Nugroho atau biasa dipanggil Hoho itu.

Terakhir diperbarui pada 4 Juni 2021 oleh

Tags: covfefeDonald Trumpikan tongkoljokowisalah ngomongselip lidah
Prima Sulistya

Prima Sulistya

Penulis dan penyunting, tinggal di Yogyakarta

Artikel Terkait

Nasib Yamaha Byson Baru yang Dicintai Setelah Tak Bisa Dimiliki MOJOK.CO
Otomojok

Nasib Yamaha Byson dan Paradoks Benda yang Baru Dicintai Setelah Berhenti Diproduksi dan Tak Bisa Dimiliki Lagi

2 Juli 2026
Kereta Cepat Whoosh DOSA Jokowi Paling Besar Tak Termaafkan MOJOK.CO
Esai

Whoosh Adalah Proyek Kereta Cepat yang Sudah Busuk Sebelum Mulai, Jadi Dosa Besar Jokowi yang Tidak Bisa Saya Maafkan

17 Oktober 2025
Sialnya Warga Banjarsari Solo: Dekat Rumah Jokowi, tapi Jadi Langganan Banjir Gara-gara Proyek Jokowi.MOJOK.CO
Kabar

Sialnya Warga Banjarsari Solo: Dekat Rumah Jokowi, tapi Jadi Langganan Banjir Gara-gara Proyek Jokowi

7 Maret 2025
3 Rupa Nasionalisme yang Mewarnai Indonesia Hari Ini MOJOK.CO
Esai

3 Rupa Nasionalisme yang Mewarnai Indonesia Hari Ini

26 Februari 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Anak-anak bermain bola di Pelataran Masjid Gedhe Kauman, Kota Jogja. MOJOK.CO

Ketika Lapangan Hijau Berbayar Kalah Mewah dengan Paving Gratis Masjid Kauman

11 Juli 2026
Daripada Acungkan Senjata di Jalan, Remaja Kreak Semarang Lebih Baik Naik Ring Adu Pukulan MOJOK.CO

Daripada Acungkan Senjata di Jalan, Remaja Kreak Semarang Lebih Baik Naik Ring Adu Pukulan

16 Juli 2026
Milenial di Job Fair Yogyakarta 2026 cari peluang kerja di luar negeri. MOJOK.CO

Muak dengan Syarat Kerja di Indonesia: Gaji Numpang Lewat hingga Terbatas Usia, Milenial Pilih Cari Kerja ke Luar Negeri

16 Juli 2026
Ketika Syarat "Sehat Jasmani dan Rohani Menjadi Tembok Diskriminasi yang Menjegal Difabel di Bursa Kerja.MOJOK.CO

Ketika Syarat “Sehat Jasmani dan Rohani” Menjadi Tembok Diskriminasi yang Menjegal Difabel di Bursa Kerja

17 Juli 2026
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kerja sama dengan Australia. MOJOK.CO

Satu Dekade Jogja dengan Melbourne Symphony Orchestra: Bukti Orkestra Nggak Melulu Kaku bahkan Bisa Dinikmati Sambil Lesehan

15 Juli 2026
Cerita alumnus Unika, side hustle untuk temukan kebermaknaan. MOJOK.CO

Kisah Alumnus Unika Pilih Side Hustle dengan Mengubah Sampah Plastik Jadi Kerajinan agar Waras dari Kerjaan Freelance

15 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.