Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Tipe Orang Berdasarkan Cara Menyampaikan Ucapan Selamat Idul Fitri via WhatsApp

Ahmad Khadafi oleh Ahmad Khadafi
24 Mei 2020
A A
Tipe Orang Berdasarkan Cara Menyampaikan Ucapan Selamat Idul Fitri via WhatsApp

Tipe Orang Berdasarkan Cara Menyampaikan Ucapan Selamat Idul Fitri via WhatsApp

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Sebuah terawangan penting mengenai tipe-tipe orang berdasar cara menyampaikan ucapan selamat idul fitri via aplikasi WhatsApp.

Tidak hanya karena pandemi, kebiasaan orang menyampaikan ucapan selamat Idul Fitri lewat aplikasi WhatsApp udah jadi kebiasaan lama. Paling tidak sejak 2010-an, WhatsApp udah mulai nggusur kebiasaan orang menyampaikan ucapan selamat via SMS.

Dari ucapan selamat ulang tahun, selamat rabi, selamat yangyangan, sampai ucapan selamat Idul Fitri, semuanya pakai WhatsApp. Bahkan sekalipun sudah bejibun aplikasi sejenis, orang udah kadung kecantol sama merek aplikasi ini. Mungkin udah jadi “merek Aqua”-nya aplikasi chatting.

Kebiasaan ngirim ucapan selamat idul fitri lewat WhatsApp pun saat ini udah jadi kultur baru. Begitu lebaran tiba, hape nggak berhenti-henti muncul notifikasi. Semakin brutal lagi karena ada pandemi. Orang jadi nggak datang secara fisik buat silaturahmi, jadi ucapan selamat idul fitri pun via aplikasi.

Nah, kali ini MOJOK akan menemani hari-hari lebaranmu yang sepi karena pandemi dengan sebuah terawangan tipe-tipe orang berdasar cara menyampaikan ucapan selamat idul fitri via WhatsApp. Yuk gassspuuool~

Nulis taqoballahu minna waminkum pakai aksara Arab komplet dan panjang sampai pake kuah

Selalu saja ada temen yang demen banget nyampein selamat idul fitri dengan ucapan pakai bahasa Arab yang tidak friendly untuk semua kalangan. Niatnya mungkin bagus sih, namun apapun kalau kebanyakan kuah tapi dagingnya nggak ada ya sama aja, Ngab. Substansinya malah nggak kebacaaa.

Yah meski begitu, setidaknya ada dua tipe manusia kayak gini.

Pertama. Emang yang bersangkutan jago bahasa Arab, jadi merasa lebih afdol kalau nulisnya lewat aksara Arab. Nulis taqoballahu minna waminkum-nya komplet bahkan sampai pakai dalil, hadis, sampai asmaul husna sekalian.

Kedua. Orang yang dapat chat model begini dari orang jenis pertama, lalu diforward ke temen-temennya biar dikira jago bahasa Arab. Atau emang cuma copy-paste hasil dari googling “cara menyampaikan ucapan selamat idul fitri pakai bahasa Arab”.

Untuk tipe pertama, itu jelas merupakan orang yang selo maksimal. Apalagi ngetik aksara Arab via aplikasi WhatsApp itu lumayan ribet. Kamu kudu nginstal aplikasi keyboard khusus untuk aksara Arab. Selain itu, orang ini rela menghabiskan waktunya untuk mengetik sesuatu yang sebenarnya nggak bakal dibaca juga sama orang yang dikirimin.

Sedangkan tipe kedua, ini orang yang mengutamakan reputasi dirinya. Nggak peduli orang paham atau nggak dengan ucapan selamatnya, yang penting bisa ngerasa numpang keren aja.

“0-0 yha~”

Berikutnya adalah orang yang demen nyampein ucapan selamat idul fitri dengan ngetik, “Kosong-kosong yha~”, atau mungkin pakai angka, “0-0 ya, Ngab~”. Ini jenis orang yang males pol luar-dalem. Mau ngetik “maaf lahir batin” aja nggak mau karena takut kalorinya terbakar.

Meski begitu, orang tipe ini mungkin sedikit lebih niat daripada orang yang demen ngucapin selamat idul fitri tapi cuma forward-forward dari pesen WhatsApp orang lain.

Voice note

Mungkin ini bakal jadi tren baru di lebaran tahun ini. Ya karena musim pandemi bikin orang ingin kasih sesuatu yang spesial dengan ngirim voice note satu-satu ke temen atau saudara-saudaranya karena nggak bisa ketemuan. Makanya, nggak masalah kalau waktu dihabiskan sampai serak ngerekam satu demi satu ucapan selamat idul fitri.

Iklan

Dan untuk orang-orang yang ngirim ucapan lewat voice note, ini tipe orang yang sangat percaya diri. Paling tidak, cukup percaya diri dengan suaranya sendiri. Nggak banyak orang lho yang bisa nyaman denger suara rekaman suaranya sendiri.

Selain itu, orang yang doyan makai voice note itu bisa dibilang merupakan jenis orang yang cukup hati-hati. Kayak mau ngirim ucapan selamat ke sosok yang misterius, akhirnya memilih menggunakan voice note.

Sebentar, sebentar, Ngab. Bukannya kalau pakai voice note itu orang justru terbuka karena pake suara yha?

Wah, wah, ente ini amatir banget ya. Justru dengan voice note, setiap pesan kita nggak bisa di-screenshot, jadi itu bakal aman kalau kamu mau nyampein ucapan selamat idul fitri ke mantan selingkuhanmu atau mantan gebetanmu. Jadi nggak bakal bisa kesebar deh. Ngerti?

Pake stiker WhatsApp

Ini tipe orang yang baru tahu kalau WhatsApp itu ada fasilitas stikernya. Soalnya stiker WhatsApp itu biasanya dipakai untuk membalas chat ke sesama penghuni grup. Ha kalau japri kok tiba-tiba ngirim chat pakai stiker WhatsApp itu maksudnya apaaaa woy? Stiker WhatsApp itu buar ngerespons woy bukan buat mukadimah.

Ngucapin ke grup WhatsApp

Solusi untuk para pemalas di muka bumi. Bahkan untuk centangin satu-satu kontak untuk dikirimin ucapan selamat aja males, dan milih ngirim ke grup WhatsApp berharap semua penghuni grup bakal baca.

Yungalah biji kesemek, ini tipe orang yang mungkin kalau lebaran di situasi normal sekalipun nggak bakal keluar ke mana-mana untuk silaturahmi. Ansos level makrifat.

Level orang ini sebenarnya hampir setara dengan orang yang nggak ngucapin selamat idul fitri. Kayak bubuk merica di meja warung soto. Ada atau nggak ada, nggak penting untuk kehidupan manusia.

BACA JUGA Lebaran dan Hal-Hal yang (Seharusnya) Menyatukan Kita atau tulisan POJOKAN lainnya.

Terakhir diperbarui pada 23 Mei 2020 oleh

Tags: Idul Fitriselamat idul fitristikerwhatsapp
Ahmad Khadafi

Ahmad Khadafi

Redaktur Mojok. Santri. Penulis buku "Dari Bilik Pesantren" dan "Islam Kita Nggak ke Mana-mana kok Disuruh Kembali".

Artikel Terkait

Potret kasih sayang keluarga (ayah, ibu, dan anak) dalam momen mudik Lebaran (Mojok.co/Ega Fansuri)
Catatan

Bagi Ibu, Tak Apa Membayar Tiket Mahal untuk Mudik demi Bisa Kumpul Bersama “Anak Kecilnya” yang Berjuang di Perantauan

5 Maret 2026
Kuliner Magelang dalam Stiker, Berharap Lesah, Senerek, dan Es Pleret Seperti Kuliner Korea yang Ada di Drakor MOJOK.CO
Seni

Kuliner Magelang dalam Stiker: Berharap Lesah, Senerek, dan Es Pleret Seperti Kuliner Korea yang Ada di Drakor

15 Mei 2024
Lebaran.MOJOK.CO
Ragam

Tak Bisa Bikin Ketupat di Desa Manggar Rembang Dibayangi ‘Hukuman Mengerikan’

10 April 2024
Idul Fitri Bukan Hari Kemenangan MOJOK.CO
Ragam

Jangan Pernah Menduga Idul Fitri sebagai Hari Kemenangan

10 April 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mencintai Musik Underground di Madura: Merayakan Distorsi di Tengah Kepungan Dangdut MOJOK.CO

Mencintai Musik Underground di Madura: Merayakan Distorsi di Tengah Kepungan Dangdut dan Tagihan Shopee PayLater

3 April 2026
Pengunjung Candi Pramabanan di Jogja selama Lebaran 2026. (sumber: InJourney)

InJourney Sukses Dapat Untung selama Arus Mudik dan Lebaran 2026 dengan Tata Kelola yang Optimal

2 April 2026
Jogja Bisa Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung MOJOK.CO

Jogja Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung 

8 April 2026
slow living, jawa tengah, perumahan, desa.MOJOK.CO

Slow Living di Perumahan Jauh Lebih Nyaman Ketimbang Desa yang Malah Bikin Stres, tapi Harus Rela Dicap Sombong dan Sok Eksklusif

9 April 2026
Slow living di desa, jakarta.MOJOK.CO

Warga Desa Sebenarnya Muak dengan Orang Kota yang Datang Buat Sok Slow Living: Arogan, Tak Membaur, Anggap Warga Asli Cuma “Figuran”

7 April 2026
Kerja WFH untuk ASN bukan solusi. MOJOK.CO

WFH 1 Hari dalam Seminggu Cuma Bikin Pekerja Boncos dan Nggak Produktif, Lalu Di Mana Efisiensi Pemakaian Energinya?

6 April 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026
Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.