Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Teror Pertanyaan “Kamu Maunya Gimana?” dalam Hubungan Asmara

Aprilia Kumala oleh Aprilia Kumala
4 April 2019
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Saya mulai berpikir bahwa kalimat “Kamu maunya gimana?” secara tidak langsung adalah sinyal menuju titik kritis hubungan.

Sebagai anak yang cupu dalam berhadapan dengan lelaki, masa-masa SMP dan SMA saya kebanyakan diisi dengan curhat-curhat asmara dari teman perempuan yang populer dan selalu ditaksir cowok ke mana pun dia pergi—iya, iya, beda banget sama saya.  Sebagaimana saya tahu cara dia berkenalan dengan calon pacarnya, saya tahu pula masa-masa rentan hubungan mereka. Saya ingat, teman saya menangis dan berkata, “Saya nggak tahu maunya dia apa. Dia malah nanya, ‘Kamu maunya gimana?’, kan sebel!”

“Terus kamu jawab apa?”

“Ya saya bilang ‘Terserah’, lah!”

Beberapa hari kemudian, mereka putus.

Waktu akhirnya saya punya pacar (teman saya sampai memberi selamat tiga kali dalam seminggu), saya pun ternyata tidak terhindar dari situasi yang mirip. Setelah menjalin hubungan bertahun-tahun—yah kalau disamain sama anak SD, kira-kira anaknya udah masuk SMP, lah—sampailah kami di titik jenuh; hobi berantem dan segalanya terasa sangat salah.

Bedanya, kala itu, saya yang bertanya pada si pacar, “Kamu maunya gimana, sih?” setelah perang dingin terjadi kira-kira 3 abad lamanya.

“Saya pengin kita baikan.”

Saya lupa jawaban saya apa, tapi ujung-ujungnya kami pun putus dalam hitungan hari.

Entah bagaimana, saya menyadari, ada satu kalimat “horor” di sana: “Kamu maunya gimana?”.

Saya nggak pernah membahas ini lebih lanjut dengan teman saya yang koleksi mantannya kira-kira sama banyaknya dengan kisah-kisah memalukan yang saya lakukan (baca: banyak banget), tapi saya rasa hal ini tidak terjadi hanya pada saya, tapi juga manusia-manusia lain yang sempat menjadi budak cinta.

satu pertanyaan yang bisa menentukan akhir dari segalanya

"jadi mau kamu apa?"

— thalia (@thaliawlndr) April 2, 2019

“Kamu maunya gimana?” berada di level yang sama dalam hal “bahaya” jika dibandingkan dengan kalimat “Ya sudah, nggak apa-apa kamu pergi sama temen-temen. Have fun, ya” yang diucapkan perempuan kepada lelakinya. Maksud saya, kita jelas bisa tahu bahwa si perempuan sesungguhnya merasa sebal karena ditinggal main, tapi cuma sok baik-baik saja pada keadaan.

Nah, kalimat “Kamu maunya gimana?” juga mirip. Konon, saat seseorang mulai bertanya ini, ia telah mengetahui bahwa keadaan hubungan asmaranya sedang sangat tidak baik, mungkin karena perselingkuhan, keposesifan, atau simply masalah komunikasi yang buruk dan kian membesar.

Iklan

Tapi, ah, ada juga kalanya kalimat ini diucapkan sebagai kode untuk bilang “Please jangan macem-macem, saya ingin semuanya baik-baik lagi.”

Seorang teman yang lain pernah diselingkuhi kekasihnya. Tapi dasar manusia, ia tidak siap harus putus cinta. Sambil menangis (dan tentu saja sakit hati), ia bertanya, “Kamu itu maunya gimana?”

Si lelaki menarik napas dan menjawab, “Aku mau kita udahan aja.”

Sialan, batin saya saat mendengar kisahnya. Setelah selingkuh, bukannya minta maaf, situ malah minta putus??? Hadeh, Bang!!!

Sampai di titik ini, saya mulai berpikir bahwa kalimat “Kamu maunya gimana?” secara tidak langsung adalah sinyal menuju titik kritis hubungan. Perkara ia akan benar-benar menjadi batas akhir tentu kembali kepada individu di dalam hubungan itu sendiri, tapi ia jelas menunjukkan perasaan lelah dan luweh bagi—setidaknya—salah satu pihak.

Dari link yang saya bagikan di atas tadi, banyak orang yang lantas flashback dan mengenang bagaimana kalimat ini mengantarkan mereka pada akhir hubungan yang tak bisa dibilang happy ending. Saya sendiri masih ingat rasanya berada kembali pada situasi yang mempertemukan saya dengan kalimat teror tersebut—kali ini sebagai pihak yang ditanya.

“Kamu sekarang maunya gimana?”

Tanpa perlu dijabarin panjang lebar, ujung-ujungnya tetap sama: kalimat itu memang menjadi penanda bahwa kita semua (hah, kita???) harus waspada dan berhati-hati kalau tidak ingin hubungan yang dibangun langsung runtuh begitu saja.

Memang, sih, banyak yang merasa lega mengungkapkan apa yang sesungguhnya mereka inginkan setelah sebuah pertengkaran—dan harus kita akui pula bahwa terkadang sebuah perpisahan jauh lebih baik demi ketenangan jiwa—tapi tak sedikit pula yang menyesali sikapnya dan sikap pasangan yang terlalu pasrah tanpa mau repot-repot berjuang sedikit lagi.

Mengutip tulisan Zarry Hendrik di Twitter-nya, mungkin banyak di antara kita (hah, kita lagi???) yang sesungguhnya berharap bisa menjawab begini:

“Soal aku maunya gimana, akan panjang aku jelasin. Tapi soal aku maunya siapa, ya tetep…

…kamu.”

Ah, kadang-kadang asmara memang bisa se-membingungkan itu.

Terakhir diperbarui pada 12 Agustus 2021 oleh

Tags: kamu maunya gimanamau kamu apapacaranPatah HatiPutus Cintaselingkuhzarry hendrik
Aprilia Kumala

Aprilia Kumala

Penulis lepas. Pemain tebak-tebakan. Tinggal di Cilegon, jiwa Banyumasan.

Artikel Terkait

Jadi LO sertifikasi kerja rawan bujukan wanita simpanan
Ragam

Jadi LO Sertifikasi Kerja di Jogja, Kena Modus “Eksplor Jogja” Berujung Bujukan Jadi Wanita Simpanan

12 Februari 2026
Kapankah Saat yang Tepat untuk Putus Cinta? | Semenjana Eps. 6
Video

Kapankah Saat yang Tepat untuk Putus Cinta? | Semenjana Eps. 6

3 Maret 2025
Mereka yang Disuruh Putus Orang Tua Pacar karena Bukan Mahasiswa: Sakit, tapi Tak Perlu Repot-repot Kasih Pembuktian MOJOK.CO lebaran
Liputan

Cerita Pilu 2 Pria yang Hubungannya Kandas Menjelang Lebaran, Ada yang Bawa-bawa Agama dan Dianggap Tak Punya Masa Depan!

9 April 2024
Casual Date: Sebuah Kenikmatan Tanpa Batas yang Berbahaya MOJOK.CO
Esai

Casual Date: Kenikmatan Tanpa Batas dan Berbahaya yang Tidak untuk Dirasakan Semua Orang

28 Februari 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Innova Reborn Terlahir Jadi Mobilnya Orang Bodoh dan Pemalas (Wikimedia Commons)

Real Jual Tanah untuk Membeli Innova Reborn Menjadi Pilihan Terbaik bagi Orang Bodoh karena yang Penting Bisa Investasi

25 Februari 2026
orang tua.MOJOK.CO

35 Tahun Bekerja Keras demi Anak, tapi Kesepian di Masa Tua karena Dianggap Tak Pernah Hadir untuk Keluarga

24 Februari 2026
gen z, biaya nikah, nikah di gedung, pernikahan.MOJOK.CO

Lebih Baik Nikah di Gedung daripada di Desa: Lebih Praktis dan Murah, tapi Harus Siap Dinyiyiri Tetangga

22 Februari 2026
Beasiswa LPDP selamatkan hidup seorang difabel yang kuliah S2 di Amerika Serikat (AS). MOJOK.CO

Bangkit usai “Kehilangan” Kaki dan Nyaris Gagal Jadi Sarjana, Akhirnya Lolos LPDP ke AS agar Jadi Ahli IT Pustakawan di Indonesia

22 Februari 2026
Gagal seleksi CPNS dan tidak tembus beasiswa LPDP untuk kuliah S2 di luar negeri pilih mancing, dicap tidak punya masa depan oleh keluarga MOJOK.CO

Gagal LPDP dan Seleksi CPNS Pilih Nikmati Hidup dengan Mancing, Nemu Rasa Tenang meski Dicap Tak Punya Masa Depan

22 Februari 2026
Bukber, ASN, kantor.MOJOK.CO

Ikut Bukber Kantor di Acara ASN Itu Bikin Muak: Isinya Orang Cringe dan Seksis yang Bikin Risih, tapi “Haram” Buat Ditolak

22 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.