• 14
    Shares

MOJOK.CO Saya mulai berpikir bahwa kalimat “Kamu maunya gimana?” secara tidak langsung adalah sinyal menuju titik kritis hubungan.

Sebagai anak yang cupu dalam berhadapan dengan lelaki, masa-masa SMP dan SMA saya kebanyakan diisi dengan curhat-curhat asmara dari teman perempuan yang populer dan selalu ditaksir cowok ke mana pun dia pergi—iya, iya, beda banget sama saya.  Sebagaimana saya tahu cara dia berkenalan dengan calon pacarnya, saya tahu pula masa-masa rentan hubungan mereka. Saya ingat, teman saya menangis dan berkata, “Saya nggak tahu maunya dia apa. Dia malah nanya, ‘Kamu maunya gimana?’, kan sebel!”

“Terus kamu jawab apa?”

“Ya saya bilang ‘Terserah’, lah!”

Beberapa hari kemudian, mereka putus.

Waktu akhirnya saya punya pacar (teman saya sampai memberi selamat tiga kali dalam seminggu), saya pun ternyata tidak terhindar dari situasi yang mirip. Setelah menjalin hubungan bertahun-tahun—yah kalau disamain sama anak SD, kira-kira anaknya udah masuk SMP, lah—sampailah kami di titik jenuh; hobi berantem dan segalanya terasa sangat salah.

Bedanya, kala itu, saya yang bertanya pada si pacar, “Kamu maunya gimana, sih?” setelah perang dingin terjadi kira-kira 3 abad lamanya.

“Saya pengin kita baikan.”

Saya lupa jawaban saya apa, tapi ujung-ujungnya kami pun putus dalam hitungan hari.

Entah bagaimana, saya menyadari, ada satu kalimat “horor” di sana: “Kamu maunya gimana?”.

Saya nggak pernah membahas ini lebih lanjut dengan teman saya yang koleksi mantannya kira-kira sama banyaknya dengan kisah-kisah memalukan yang saya lakukan (baca: banyak banget), tapi saya rasa hal ini tidak terjadi hanya pada saya, tapi juga manusia-manusia lain yang sempat menjadi budak cinta.

“Kamu maunya gimana?” berada di level yang sama dalam hal “bahaya” jika dibandingkan dengan kalimat “Ya sudah, nggak apa-apa kamu pergi sama temen-temen. Have fun, ya” yang diucapkan perempuan kepada lelakinya. Maksud saya, kita jelas bisa tahu bahwa si perempuan sesungguhnya merasa sebal karena ditinggal main, tapi cuma sok baik-baik saja pada keadaan.

Baca juga:  Kenapa Kita Hobi Fall in Love with People We Can’t Have?

Nah, kalimat “Kamu maunya gimana?” juga mirip. Konon, saat seseorang mulai bertanya ini, ia telah mengetahui bahwa keadaan hubungan asmaranya sedang sangat tidak baik, mungkin karena perselingkuhan, keposesifan, atau simply masalah komunikasi yang buruk dan kian membesar.

Tapi, ah, ada juga kalanya kalimat ini diucapkan sebagai kode untuk bilang “Please jangan macem-macem, saya ingin semuanya baik-baik lagi.”

Seorang teman yang lain pernah diselingkuhi kekasihnya. Tapi dasar manusia, ia tidak siap harus putus cinta. Sambil menangis (dan tentu saja sakit hati), ia bertanya, “Kamu itu maunya gimana?”

Si lelaki menarik napas dan menjawab, “Aku mau kita udahan aja.”

Sialan, batin saya saat mendengar kisahnya. Setelah selingkuh, bukannya minta maaf, situ malah minta putus??? Hadeh, Bang!!!

Sampai di titik ini, saya mulai berpikir bahwa kalimat “Kamu maunya gimana?” secara tidak langsung adalah sinyal menuju titik kritis hubungan. Perkara ia akan benar-benar menjadi batas akhir tentu kembali kepada individu di dalam hubungan itu sendiri, tapi ia jelas menunjukkan perasaan lelah dan luweh bagi—setidaknya—salah satu pihak.

Dari link yang saya bagikan di atas tadi, banyak orang yang lantas flashback dan mengenang bagaimana kalimat ini mengantarkan mereka pada akhir hubungan yang tak bisa dibilang happy ending. Saya sendiri masih ingat rasanya berada kembali pada situasi yang mempertemukan saya dengan kalimat teror tersebut—kali ini sebagai pihak yang ditanya.

Baca juga:  Cara Terbaik Menyembuhkan Luka, Bukan Menyakiti Orang yang Buat Hati Cedera

“Kamu sekarang maunya gimana?”

Tanpa perlu dijabarin panjang lebar, ujung-ujungnya tetap sama: kalimat itu memang menjadi penanda bahwa kita semua (hah, kita???) harus waspada dan berhati-hati kalau tidak ingin hubungan yang dibangun langsung runtuh begitu saja.

Memang, sih, banyak yang merasa lega mengungkapkan apa yang sesungguhnya mereka inginkan setelah sebuah pertengkaran—dan harus kita akui pula bahwa terkadang sebuah perpisahan jauh lebih baik demi ketenangan jiwa—tapi tak sedikit pula yang menyesali sikapnya dan sikap pasangan yang terlalu pasrah tanpa mau repot-repot berjuang sedikit lagi.

Mengutip tulisan Zarry Hendrik di Twitter-nya, mungkin banyak di antara kita (hah, kita lagi???) yang sesungguhnya berharap bisa menjawab begini:

“Soal aku maunya gimana, akan panjang aku jelasin. Tapi soal aku maunya siapa, ya tetep…

…kamu.”

Ah, kadang-kadang asmara memang bisa se-membingungkan itu.

  • 14
    Shares


Tirto.ID
Loading...

No more articles