Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Terintimidasi sama Kampanye Nikah Muda? Memang Usia Berapa sih Kita Sebaiknya Menikah?

Ahmad Khadafi oleh Ahmad Khadafi
25 Maret 2021
A A
breakdown template video pernikahan slow motion drone video wedding prewedding rekomendasi prewedding dokumentasi pernikahan membosankan mojok.co

breakdown template video pernikahan slow motion drone video wedding prewedding rekomendasi prewedding dokumentasi pernikahan membosankan mojok.co

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Nggak usah terintimidasi dengan kampanye nikah muda. Definisi usia “muda” bisa berubah seiring dengan konteks lingkungannya kok.

Nikah muda memang belakangan jadi tren. Terutama kampanye gerakan anti-pacaran dan tren ta’aruf yang mulai masif di media sosial yang sering nongol di linimasa saya.

Harus diakui, rabi usia muda seolah mendobrak kebiasaan anak muda perkotaan di Indonesia. Menghabiskan masa muda saat usia awal 20-an, lalu nikah di usia jelang 30-an tahun. Pas saja rasanya.

Akan tetapi, sebelum pembahasan ini menjauh ke mana-mana, saya mohon jangan masukkan definisi nikah muda di bawah usia 18 tahun. Dalam banyak kasus, rabi di bawah usia 18 tahun bukan termasuk muda, tapi nikah dini. Bahkan secara perundang-undangan, hal itu menyalahi aturan di Indonesia.

Memang betul, pada 2019 lalu, UU Perkawinan masih menyebut bahwa pernikahan bisa dilakukan pada usia 19 tahun (untuk laki-laki) dan perempuan (16 tahun). Namun untungnya UU ini bisa dibenturkan dengan UU Perlindungan Anak yang menyatakan bahwa usia di bawah 18 tahun masih tergolong anak-anak.

Pertanyaan besar bagi saya kemudian, memang pada usia berapa kita sebaiknya menikah?

Ada banyak aspek yang bisa kita gunakan untuk menjawab pertanyaan ini.

Kalau dari jurnal, penelitian, maupun survei yang berkembang selama ini, kita bisa mengerucut pada usia 20-an tahun ke atas.

Jika kamu mau mengacu pada aspek psikologis dan kematangan mental, studi yang dikeluarkan oleh Journal of Social and Personal Relationship menyarankan untuk menikah di atas 25 tahun. Untuk angka pasti, 27 tahun pada perempuan dan 29 tahun pada laki-laki.

Meski begitu, kita masih bisa berdebat soal batasan yang dikeluarkan lembaga ini. Sebab, yang namanya urusan psikologis dan mental itu kan sifatnya sangat cair. Seseorang bisa terlihat tua dari fisik, tapi mentalnya masih anak-anak, atau bisa jadi sebaliknya.

Tidak cocok dengan patokan mental? Kamu bisa pakai patokan kedua, yakni kematangan fisik.

UNICEF pernah merilis bahwa secara fisik, perempuan yang mengandung dan melahirkan idealnya berada pada usia 20-25 tahun. Jika seorang perempuan melahirkan di bawah usia 20 tahun, risiko kematiannya akan semakin meningkat seiring dengan semakin muda usianya.

Artinya, untuk rentang usia pada kategori ini: 20-25 tahun untuk perempuan dan 25-30 tahun untuk laki-laki. Itu patokan pada fisik.

Patokan ketiga: lingkungan.

Iklan

Definisi menikah muda akan sangat cair pada patokan ini. Semua tergantung pada kacamata lingkungan seperti apa yang mau dipakai.

Sebagai contoh saja. Saya menikah pada usia 25 tahun. Di tradisi pernikahan keluarga saya, itu adalah usia ideal. Plus juga ideal menurut UNICEF dan beberapa hasil jurnal. Asek.

Meski begitu, kalau kamu tanya di lingkungan teman-teman saya di pesantren, maka usia saya agak “telat”. Tidak terlalu telat, tapi cukup telat. Sebab teman-teman saya di pesantren rata-rata menikah pada usia 23 tahun.

Jadi merupakan pemandangan lumrah ketika saya menikah teman-teman sebaya saya datang sambil menggendong satu atau dua anak.

Dalam hal ini kamu perlu tahu kalau kebanyakan teman-teman pesantren saya memang besar dan lahir di lingkungan pedesaan. Usia 25 tahun ke atas dalam lingkungan semacam ini sering sudah dianggap sudah masuk extra time untuk usia menikah.

Kacamata ini lantas akan bergeser ketika berada di lingkungan teman-teman saya di kampus. Bergaul dengan anak-anak muda di Jogja, dengan pilihan akses pendidikan maupun karier yang lebih luas, harus diakui range usia menikah pun tiba-tiba jadi melar.

Hal ini saya sadari karena saya termasuk orang pertama yang menikah di pergaulan teman-teman kampus. Ketika saya sudah jadi suami seseorang, teman-teman saya masih suka nongkrong, main PS, main ke gunung, wisata ke mana, bikin acara aneh-aneh.

Itu hal yang sedikit menganggu memang. Terutama kalau mau izin ngopi ke kafe, saya harus minta SKCK ke istri dulu dan tentu ada masa berlaku. Kalau mau ngopi lagi ya harus legalisir lagi.

Dan dari lingkungan seperti ini, teman-teman kampus sering menyebut saya adalah “korban” dari praktik nikah muda. Meski bagi saya, itu lebih terdengar pujian ketimbang bulian.

Dari ragam patokan yang saya ceritakan barusan, setidaknya saya punya kesimpulan sederhana mengenai usia ideal menikah seseorang. Jika memang bisa, ada baiknya sesuaikan dengan tradisi keluarga dan lingkungan terdekat. Kecuali kalau kamu cukup punya kekuatan untuk melawan tradisi itu, ya monggo saja.

Sebab, daripada mengkhawatirkan pada usia berapa kita menikah, lebih baik konsentrasi pada usia pernikahan saja. Percuma menikah muda tapi risiko jadi janda muda jadi terbuka, pun nggak apa-apa nikah di usia tua tapi awet sampai jadi tua bangka.

Namun sebelum itu semua, pastikan dulu… kamu mau menikah sama apa, eh, siapa?

BACA JUGA Yang Bermasalah dari Kampanye Nikah Muda ala Ukhti Mega dan tulisan POJOKAN lainnya.

Terakhir diperbarui pada 25 Maret 2021 oleh

Tags: menikahnikah mudapernikahanrabiusia menikah
Ahmad Khadafi

Ahmad Khadafi

Redaktur Mojok. Santri. Penulis buku "Dari Bilik Pesantren" dan "Islam Kita Nggak ke Mana-mana kok Disuruh Kembali".

Artikel Terkait

Dear KUA, Apa Alasan Terbaik bagi Kami untuk Menikah saat Situasi Dunia Sedang Kacau-Kacaunya? MOJOK.CO
Esai

Dear KUA, Apa Alasan Terbaik bagi Kami untuk Menikah saat Situasi Dunia Sedang Kacau-Kacaunya?

18 Maret 2026
gen z, biaya nikah, nikah di gedung, pernikahan.MOJOK.CO
Sehari-hari

Lebih Baik Nikah di Gedung daripada di Desa: Lebih Praktis dan Murah, tapi Harus Siap Dinyiyiri Tetangga

22 Februari 2026
Hidup setelah resign dan menikah. MOJOK.CO
Sehari-hari

Dihujat ‘Salah Pilih Suami’ usai Menikah karena Terlanjur Resign dari Pramugari, Kini Jadi Pedagang Kopi Keliling

3 Februari 2026
Sumbangan pernikahan di desa, jebakan yang menjerat dan membuat warga menderita MOJOK.CO
Ragam

Sumbangan Pernikahan di Desa Tak Meringankan tapi Mencekik: Dituntut Mengembalikan karena Tradisi, Sampai Nangis-nangis Utang Tetangga demi Tak Dihina

20 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Suasana Kampung Ramadan Masjid Mlinjon, Klaten. MOJOK.CO

“Jajanan Murah” yang Tak Pernah Surut Pembeli di Kampung Ramadan Masjid Mlinjon Klaten

17 Maret 2026
Mudik Gratis dari BUMN 2026. MOJOK.CO

Mudik Gratis BUMN 2026: Hemat Rp600 Ribu dari Jakarta-Solo Tanpa Pusing Dana THR Berkurang

18 Maret 2026
Mahasiswa UGM hidup nomaden sambil kuliah di Jogja demi gelar sarjana

Mahasiswa UGM Kena DO dan Tinggal Nomaden karena Kendala Ekonomi, Kini Raih Gelar Sarjana Berkat “Menumpang” di Kos Teman

17 Maret 2026
Tuntutan sosial dan gengsi bikin kelas menengah jadi orang kaya palsu hingga abaikan tabungan demi kejar standar sukses MOJOK.CO

Gara-gara Tuntutan, Nekat Jadi Orang Kaya Palsu: “Hambur-hamburkan” Uang demi Cap Sukses padahal Dompet Menjerit

14 Maret 2026
Burger Aldi Taher Juicy Lucy Mahalini Rizky Febian DUAR CUAN! MOJOK.CO

Memahami Bagaimana Aldi Taher dan Jualan Burgernya yang Cuan Mampus dan Berhasil Menampar Ilmu Marketing Ndakik-Ndakik

17 Maret 2026
Mahasiswa Pariwisata UGM Jogja belajar dari kepala suku di Raja Ampat, lebih dari ilmu kuliah

Mahasiswa UGM Belajar Kehidupan dari Kepala Suku di Raja Ampat, Merasa “Kecil” karena Ilmu di Kuliah Sebatas Teori tanpa Aksi Nyata

13 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.