Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Jangan-jangan Teh SariWangi Pailit Karena Coffee Shop dan Thai Tea?

Audian Laili oleh Audian Laili
19 Oktober 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Perusahaan perkebunan teh SariWangi pailit. Apakah ini sebuah konspirasi dengan menjamurnya coffee shop dan Thai Tea?

Kabar duka yang menyatakan teh SariWangi pailit, langsung bikin sedih. Meski dinyatakan pailit, namun kita tetap bisa mengonsumsi teh celup ini. Sebab, merek ini sudah diakuisisi oleh Unilever sejak 1989. Jadi yang pailit adalah PT. Sariwangi Agricultural Estate Agency, perusahaan yang justru merintis teh celup ini sejak 1962 dan menjadikan SariWangi sebagai pelopor minum teh di masyarakat Indonesia.

Perusahaan yang telah menjadikan teh SariWangi masuk ke pasar internasional sejak 1973 ini, terjerat hutang hingga Rp1,5 triliun. Kesulitan keuangan tersebut disebabkan gagalnya investasi untuk meningkatkkan produksi perkebunan.

Bila melihat sisi industri teh secara umum, perkebunan teh Indonesia memang sedang dalam tren yang kurang baik. Luas areal perkebunan teh di Indonesia pun semakin menyusut. Ketika lahan perkebunan teh ternyata mengalami penyusutan, apakah itu artinya produk teh sudah tidak terlalu diminati oleh pasar?

Kalau menurut Direktur Eksekutif Dewan Teh Indonesia (DTI), industri teh memang tidak sebaik saat masa jayanya di tahun 70-an. Salah satunya disebabkan konsumsi masyarakat yang tidak tumbuh. Jumlah konsumsi teh tanah air saat ini sekitar 350 gram per tahun per kapita. Jumlah yang sama dengan jumlah konsumsi per kapita di tahun 70-an. Menyedihkan, bukan?

Jika diperhatikan secara sekilas sih, sepertinya memang seperti itu. Kini, tren ngeteh dianggap biasa saja, tidak lagi memunculkan kesan ‘wow’. Berbeda dengan kebiasaan ngopi. Salah satu bukti teh dianggap biasa-biasa saja karena minuman ini hampir selalu menjadi salah satu menu di rumah makan Indonesia berdampingan dengan es jeruk. Produk ini pun tidak dijual dengan harga tinggi. Coba bandingkan dengan minuman kopi.

Kini teh tidak terlalu ada bedanya dengan air putih. Rasanya pun netral dan tawar, jadi banyak yang doyan. Tidak mengherankan kalau minuman ini tidak menyimpan sesuatu yang spesial dan dapat dijual mahal.

Bukti lainnya teh menjadi minuman yang biasa-biasa saja, coba kita ingat-ingat, berapa banyak kafe di kota kita yang menyediakan menu khusus ngeteh? Lantas bandingkan dengan berapa banyak kafe yang jelas-jelas menyatakan diri sebagai coffee shop. Lalu lihat harga jual satu cangkir kopi di sana.

Sebenarnya, sebelum ada coffee shop-coffee shop itu, budaya ngopi bagi saya—atau orang Jawa Timur pada umumnya—biasa saja dan tak jauh beda seperti ketika meminum teh. Tidak ada sesuatu yang spesial. Yang harus dilakukan dengan sebuah prosesi khusus. Namun dengan adanya coffee shop, muncul tren baru, budaya ngopi saya rasa menjadi….

…naik kelas. Nggak tinggal kelas.

Suatu ketika, saya pernah pergi nongkrong bersama beberapa teman saya. Judulnya sih ngopi. Ketika itu kami pergi ke sebuah kafe dengan menu andalannya berbagai varian kopi. Saya yang saat itu tidak ingin ngopi, memilih ngeteh saja. Selain karena sedang tidak ingin, sebenarnya saat itu tanggal tua dan harga teh jauh lebih murah dibanding kopi. Ya, beginilah dilema pengin tetep bisa nongkrong tapi kantong hampir kosong.

Ketika pesanan kami datang, salah satu teman saya nyeletuk, “Kok kamu cuma pesen teh, sih? Nggak bisa ngopi?”

Perhatikan kata ‘CUMA’ di tengah kalimat itu. Benar, teh memang sebatas ‘cuma’, Gaes!

Sangat jelas. Sudah tidak dapat ditawar lagi. Teh memang menjadi kelas kedua dan dapat menurunkan status sosial di tengah pergaulan. Ia terasa murahan—ya jelas, lha wong harganya memang lebih murah. Tak ada pembelaan lagi, level teh kini memang di bawah kopi.

Iklan

Oh teh, riwayatmu kini~

Selain dikarenakan tren ngopi yang naik kelas, produk teh SariWangi bakal semakin menurun konsumsinya, jika SariWangi tidak berusaha menginovasi produknya. Sejak mereka muncul hingga kini, semua produknya dalam bentuk teh celup.

Nggak percaya? Oke, saya coba sebutkan ya, produk yang mereka jual antara lain, SariWangi Teh Asli, SariWangi Teh Wangi Melati, SariWangi Teh Hijau Asli, SariWangi Gold Selection, SariMurni Teh Kantong Bundar. Semuanya dalam bentuk teh kantong atau celup. Yang membedakan hanyalah warna kemasannya dan jumlah teh celup di dalamnya.

Padahal, saat ini teh bukan hanya jadi minuman yang harus diseduh dalam cangkir saja. Namun juga salah satu alternatif minuman untuk menemani perjalanan. Sedangkan, kalau saya nih, merasa lebih simpel ketika beli teh dalam kemasan botol atau karton yang hampir tersedia di berbagai toko makanan. Sayangnya, teh SariWangi, tidak mengambil ceruk produk kemasan ini.

Sebenarnya minuman teh nggak bener-bener hilang dari tren kok. Ada satu produk teh yang saat ini harga jualnya sedang merangkak naik. Kini hadir tren ngeteh baru melalui, Thai Tea. Sebuah inovasi ngeteh yang pasarnya sedang besar.

Nggak percaya? Ya sudah, kita bikin riset kecil-kecilan saja. Coba hitung, ada berapa kios berwarna kuning-coklat dengan tulisan seperti beraksara Thailand—padahal sebenarnya kalau dibaca sih bahasa Indonesia—di sepanjang perjalanan dari kampus ke kosan atau dari kantor ke kosan? Saya yakin, jumlahnya tidak akan jauh berbeda dengan warung bakso atau mie ayam.

Sepanjang pengamatan saya ketika membeli Thai Tea, teh yang mereka gunakan adalah teh bubuk. Bukan teh celup. Sebenarnya saya tidak terlalu paham merek teh yang digunakan. Namun karena namanya Thai Tea, harusnya sih pakai teh asli dari Thailand sana.

Lalu, apa bedanya dengan rasa teh asli Indonesia semacam SariWangi? Wah mohon maaf, kalau itu saya nggak tahu. Sebab, ketika saya beli produk ini, teh nya sudah dicampur dengan susu, cremer dan bahan-bahan lainnya. Rasa tehnya, sudah tidak lagi original.

Tuh kan. Butuh inovasi. Btw, nggak ada nih produk teh asli Indonesia yang pengin bikin produk semacam Thai Tea gitu? Masak kalah sih sama produk tehnya Thailand. Padahal kan produksi teh kita juga banyak.

Mohon maaf nih, orang-orang di generasi saya, itu cepat bosen. Sebenarnya kami tahu, banyak produk yang kelihatannya baru, sebenarnya bahan bakunya ya itu-itu saja. Tapi sayangnya, kami memang terbiasa dengan kehidupan yang serba cepat. Jadi, kami senang dengan yang namanya inovasi.

Kami senang dengan tren makanan dan minuman yang terkesan hits dan dihargai mahal itu. Percayalah, mengkonsumsinya—atau seakan-akan mengkonsumsinya padahal hanya untuk konten update di Instagram—dapat meningkatkan status sosial kami.

Terakhir diperbarui pada 19 Oktober 2018 oleh

Tags: coffee shopngetehngopisariwangi pailitthai tea
Audian Laili

Audian Laili

Redaktur Terminal Mojok.

Artikel Terkait

Mahasiswa Jogja nugas di coffee shop
Sehari-hari

Nugas di Kafe Dianggap Buang-buat Duit, padahal Bikin Mahasiswa Jogja Lebih Tenang dan Produktif

6 April 2026
Bisnis coffe shop, rumah dekat kafe, jogja.MOJOK.CO
Urban

Derita Punya Rumah Dekat Tempat Nongkrong Kekinian di Jogja: Cuma Bikin Emosi dan Nggak Bisa Tidur

26 Februari 2026
Pertama kali merantau ke Jogja: kerja palugada di coffee shop dengan gaji Rp10 ribu MOJOK.CO
Urban

Pertama Kali Merantau ke Jogja: Kerja di Coffee Shop 12 Jam Gaji Rp10 Ribu Perhari, Capek tapi Tolak Pulang karena Gengsi

24 Februari 2026
UMK Jogja bikin perantau Jawa Tengah menderita. MOJOK.CO
Ragam

Penyesalan Orang Jawa Tengah Merantau ke Jogja: Biaya Hidup Makin Tinggi, Boncos karena Kebiasaan Ngopi di Kafe, dan Gaji yang “Seuprit”

11 Desember 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pengunjung Candi Pramabanan di Jogja selama Lebaran 2026. (sumber: InJourney)

InJourney Sukses Dapat Untung selama Arus Mudik dan Lebaran 2026 dengan Tata Kelola yang Optimal

2 April 2026
Innova Reborn: Mobil Keluarga yang Paling Punya Adab (Wikimedia Commons)

Ketika Bapak Semakin Ngotot Membeli Innova Reborn untuk Jadi Mobil Keluarga, Anak-anaknya Khawatir Hidup di Desa Jadi Cibiran Tetangga

4 April 2026
Siswa terpintar 2 kali gagal UTBK SNBT ke Universitas Brawijaya (UB). Terdampar kuliah di UIN malah jadi mahasiswa goblok dan nyaris DO MOJOK.CO

Gelar Siswa Terpintar Tak Berarti buat Kuliah UB, Terdampar di UIN Malah Jadi Mahasiswa Goblok, Nyaris DO dan Lulus Tak Laku Kerja

3 April 2026
kuliah s2.MOJOK.CO

Penyesalan Lanjut S2 Cuma karena Pelarian dan FOMO: Nganggur dan Dicap Overqualified, Sudah Kerja pun Gaji Setara Lulusan SMA

5 April 2026
kuliah, kerja, sukses.MOJOK.CO

Terpaksa Kuliah di Jurusan yang Tak Diinginkan karena Tuntutan Beasiswa, 4 Tahun Penuh Derita tapi Mendapatkan Hikmah Setelah Lulus

7 April 2026
Slow living di desa, jakarta.MOJOK.CO

Orang Jakarta Tak Akan Sanggup Slow Living di Salatiga Selama Masih Anti-Srawung, Modal Financial Freedom pun Tak Cukup

6 April 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026
Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.