Ketika usia saya sudah 17 tahun dan mengantongi KTP, saya belajar naik motor. Kendaraan yang dipakai pada waktu itu motor bebek Honda Revo 110 berwarna hitam bercorak merah. Kendaraan yang tergolong baru karena baru dirilis setahun sebelum saya belajar.
Rasa deg-degan tak terhindarkan ketika pertama kali belajar naik motor. Bagaimana tidak, motor bebek satu itu terasa begitu berat. Belum lagi kaki saya harus berjinjit ketika duduk di balik kemudi motor. Walau diliputi rasa deg-degan, saya menguasai motor bebek Revo dengan cepat. Saya bisa berkendara keliling kampung hanya dengan belajar dalam waktu 2 hari saja.
Tak selang berapa lama, saya berani berkendara di jalan yang lebih besar dan ramai. Ketika mengantongi SIM, saya berani ke mana-mana sendiri. Pada saat itu motor bebek Revo bak kawan baik. Walau berat dan bikin kaki saya pegal karena jinjit terus, saya senang bisa ke mana-mana sendiri.
Hadir motor matic yang lebih ringkas
Kecintaan saya akan motor bebek pudar ketika motor matic hadir. Pada saat itu, orang tua tukar tambah motor lama dengan Honda Beat keluaran 2012. Saya girang bukan kepalang. Pada waktu itu, seingat saya, tidak banyak pilihan motor bebek di pasaran (setidaknya tidak sebanyak sekarang).
Hal lain yang bikin saya senang, pada saat itu Honda Beat sedang di puncak popularitas dengan jingle Let’s Get The Beat yang begitu nempel di kepala. Ini terdengar norak, tapi senang rasanya punya motor yang mereknya sedang populer.
Setelahnya saya makin cinta dengan motor matic, khususnya Honda Beat, karena sangat ringan. Kaki saya bisa menapak dengan mantap ketika duduk di balik setang motor. Bodi motor yang ramping membuat saya mudah menyalip dan cari parkir. Intinya, motor matic sangat pas dengan tubuh, itu mengapa saya merasa aman dan nyaman.
Baca halaman selanjutnya: Meninggalkan …














