Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Romantisme Sepeda yang Selalu Beririsan dengan Kemiskinan

Agus Mulyadi oleh Agus Mulyadi
8 Juli 2020
A A
sepeda
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Dulu sepeda identik dengan kendaraan kelas bawah, kini semuanya berbeda.

Demam sepeda tampaknya memang sedang mencapai momentum puncaknya. Ia menjadi sebuah gaya hidup baru bagi banyak orang. Jumlah pesepeda yang lalu lalang di jalanan semakin banyak. Toko-toko sepeda ketiban pulung. Penjualan sepeda naik pesat. Dari sepeda paling murahan yang sadelnya keras seperti bangku SD Inpres, sampai sepeda super mahal yang dengan melihat jeruji rodanya saja sudah cukup untuk membuat orang bergaji pas-pasan langsung minder dan lebih memilih membeli gerobak celeng saja.

Banyaknya jumlah pengguna sepeda yang memenuhi jalan raya bahkan sampai membuat Kemenhub menyusun regulasi khusus yang ditujukan untuk para pengguna sepeda. Hal yang selama ini mungkin tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Dalam kondisi begini, rasanya pas sekali buat mengingat romantisme masa lalu kita akan sepeda. Tak bisa tidak, bagi hampir sebagian besar orang, sepeda adalah kendaraan pertama mereka.

Saya ingat betul, sepeda yang saya punya adalah sebuah sepeda kecil bermerk Subaru yang jelas imitasi. Sepeda kecil yang pembeliannya pastilah memaksa bapak saya untuk pontang-panting tunjang-palang dalam bekerja. Maklum saja, sepeda kecil, setidakbermerek apa pun, pastilah tetap menjadi komoditi yang mahal bagi keuangan keluarga kami saat itu.

Sepeda kecil berwarna ungu dengan dua roda kecil yang terpasang di samping kanan dan kiri roda bagian belakang itu tampak begitu memukau di mata saya.

Sebagai keluarga melarat, sepeda ungu itu lebih dari cukup untuk meningkatkan kepercayaan diri saya dalam lingkaran pergaulan masa kecil yang terasa begitu hedon pada kadar dan masanya itu.

Kelak, usia sepeda ungu tersebut boleh dibilang kelewat awet. Ehm, lebih tepatnya, dipaksa awet. Sebab, ketika kawan-kawan sebaya saya sudah mulai berganti sepeda yang lebih besar, sepeda saya masih tetap sepeda kecil ungu itu. Bedanya hanya dua roda kecil yang ada di samping kiri kanan roda bagian belakang itu sudah tak ada.

Saya bukannya tak memaksa bapak agar membelikan saya sepeda yang lebih besar, hanya saja, paksaan dari saya ternyata memang tak ada apa-apanya dibandingkan dengan paksaan kebutuhan rumah tangga.

Saya baru bisa mendapatkan sepeda yang agak besar setelah saya kelas 2 SMP. Sepeda BMX bermerek Wim Cycle berwarna kuning ala Partai Berkarya. Sepeda itu dibeli murah seharga 200 ribu dari kawan saya yang tampaknya kepepet butuh duit dan mau berbaik hati menjual sepedanya kepada saya.

Walau harganya murah (untuk ukuran Wim Cycle, 200 ribu adalah harga yang kelewat miring), tetap saja butuh akrobat dan atraksi untuk bisa membelinya.

Saking masih melaratnya keluarga saya, proses pembelian sepeda itu pun sampai memerlukan birokrasi yang panjang dan bertele-tele. Bapak saya hanya punya uang 100 ribu, padahal kawan saya butuh uang cepat. Akhirnya, bapak saya menggadaikan sepeda tersebut di Pegadaian seharga 100 ribu. Pas. 200 ribu.

Saya baru bisa menggunakan sepeda yang sudah saya beli itu sekitar satu bulan berselang setelah bapak saya menebusnya dari pegadaian.

Sepeda kuning yang saya beri nama Wim Cokor itu bisa bertahan lama sampai saya lulus SMA. Kali ini benar-benar tahan lama, bukan dipaksa tahan lama. Maklum, Wim Cycle. Kualitetnya jelas jempolan bila dibandingkan dengan sepeda-sepeda lain yang mereknya tiada familiar itu.

Iklan

Kalaupun sepeda itu harus tumbang, itu bukan karena rusak, melainkan karena hilang dimaling orang. Saya bersedih sejadi-jadinya saat itu. Lha gimana, sepeda kesayangan je.

Bapak saya kemudian berinisiatif untuk mencari sepeda itu di dekat pasar Gotong Royong yang memang terkenal sebagai tempat maling menjual barang curiannya. Benar saja, sepeda saya ketemu. Maling keparat itu menjual sepeda saya di salah satu penjual di sana. Bapak saya harus menebus 150 ribu saat itu.

Sepeda saya berikutnya adalah sepeda onthel kebo bermerek Hercules yang saya beli dari tetangga saya seharga 400 ribu

Sepeda itu saya beli sekitar tahun 2013 saat saya mulai bekerja di Jogja. Sepeda ini sampai sekarang masih ada dan masih tetap terawat. Tak salah namanya Hercules. Benar-benar sepeda putra Zeus.

Pada masanya, sepeda ini pernah menemani masa-masa sulit saya selama hidup di Jogja. Saya pernah berada di fase tinggal di Jogja tanpa pekerjaan. Padahal saya harus membayar kos dan biaya hidup. Dengan sepeda itulah saya berkeliling Jogja mencari pekerjaan.

Pernah suatu ketika, saya benar-benar tak punya uang untuk makan. Saya pun nekat dan terpaksa pulang ke Magelang mengayuh sepeda. Hal yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya.

Di Magelang, saya mendapatkan suntikan sedikit dana dari Emak saya yang tak tega dengan kondisi keuangan saya.

Bapak saya yang tak tega melihat saya harus kembali ke Jogja mengayuh sepeda kemudian menemani saya. Kami berdua bergantian membonceng walau tentu saja porsi bapak saya jauh lebih besar sebagai pengayuh ketimbang penumpang.

Entah kenapa, semua narasi tentang sepeda pada diri saya selalu beririsan dengan kemiskinan. Sebuah simbol betapa saya masih melarat karena cukup lama belum juga bisa membeli kendaraan bermotor sehingga terpaksa harus terus setia mengayuh sepeda.

Dunia berputar dengan cepat. Kini, di masa yang unik ini, ketika saya sudah mampu beli motor, sepeda justru menjelma menjadi lambang kekayaan yang baru. Deretan pesepeda yang meramaikan jalanan itu kini didominasi oleh orang-orang yang berkecukupan. Orang-orang yang sanggup membeli sepeda berjuta-juta harganya tanpa harus melalui pegadaian.

Mendadak, saya jadi ingat dengan meme guyonan yang dishare oleh kawan saya di Facebook.

“Biyen aku mlaku. kancane numpak pit. Aku iso tuku pit, kancane numpak motor. Aku iso tuku motor, kancane wis do numpak mobil. Mbasan saiki aku wis iso tuku mobil, kancane malah do nganggo pit meneh. Lha ancene bajingan asu edan ra kathokan, og.”

Ah, segala yang berhubungan dengan kemelaratan memang selalu menggelikan.

Terakhir diperbarui pada 8 Juni 2021 oleh

Tags: kemiskinansepeda
Agus Mulyadi

Agus Mulyadi

Blogger, penulis partikelir, dan juragan di @akalbuku. Host di program #MojokMentok.

Artikel Terkait

ilustrasi sepeda klaten.MOJOK.CO
Eksplor

Belajar Makna “Paseduluran” dari Penjual Onthel Lawas yang Sudah Tiga Dekade Hidup dari Pit Kebo

2 Juni 2026
Derita anak pintar dan siswa berprestasi yang hidup dalam kemiskinan di desa. Tak dapat dukungan pendidikan dari orang tua MOJOK.CO
Sehari-hari

Jadi Anak Pintar di Desa Tanpa Privilege Sia-sia: Ortu Tak Dukung Pendidikan, Lulus Sekolah Dipaksa Nikah dan Bekerja

22 April 2026
Ilustrasi Mie Ayam di Jogja, Penawar Kesepian dan Siksaan Kemiskinan (Unsplash)
Pojokan

Mahasiswa di Jogja Melawan Kesepian dan Siksaan Kemiskinan dengan Ratusan Mangkuk Mie Ayam

19 Januari 2026
Naik Sepeda Jogja Lamongan demi Menunaikan Rindu pada Ibu MOJOK.CO
Esai

Menuntaskan 640 Kilometer Jogja Lamongan Bersepeda demi Ziarah Batin dan Menunaikan Rindu pada Ibu

12 September 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Dhia Hana Putri Saraswati mahasiswa Umsura dan Unair. MOJOK.CO

Kena Mental Kuliah di Umsura dan Unair Sekaligus, Puluhan Kali Ingin Menyerah tapi Kuat karena Ajaran Muhammadiyah

5 Juni 2026
Derita Bisnis Laundry: Cuan 15 Juta Hilang karena Kebodohan MOJOK.CO

Pengalaman Bisnis Laundry yang Cukup Menyedihkan, Berharap Cuan Besar 15 Juta per Bulan tapi Cuma Dapat 3 Juta: Boncos karena Kebocoran-Kebocoran Sepele

4 Juni 2026
Tren kalcer dan monopoli olahraga bikin gowes (bersepeda) jadi terlalu ambisius MOJOK.CO

Tren Kalcer dan Monopoli Olahraga bikin Gowes Jadi Terlalu Ambisius, Mau Sekadar Bersepeda tapi Malu Dicap Cupu

3 Juni 2026
Godaan modifikasi motor Honda Vario 125 demi sinematik kebodohan soal harga jual di Facebook, berakhir jadi motor sampah dan jamet MOJOK.CO

Modifikasi Motor Honda Vario 125 Hasil Tabungan Ibu-Kakak demi Sinematik dan Kebodohan Harga Jual di FB, Berakhir Jadi Motor Jamet dan Sampah

7 Juni 2026
Dompet digital selamatkan pedagang UMKM. MOJOK.CO

4 Kiat Pedagang Es Campur dan Roti Kukus yang Tetap Laris di Tengah Situasi Pelik

3 Juni 2026
In this economy: momen para laki-laki merasa gagal sebagai anak dan suami karena masalah keuangan (sulit ekonomi) MOJOK.CO

In This Economy: Momen Para Laki-laki Merasa Gagal sebagai Anak dan Suami, Gaji Numpang Lewat tapi Bingung Mau Kerja Model Gimana Lagi

1 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.