Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Persiapan Mumtaz Rais kalau Akhirnya Jadi Berenang dari Jakarta ke Labuan Bajo Bolak-balik

Ahmad Khadafi oleh Ahmad Khadafi
2 September 2020
A A
Persiapan Mumtaz Rais kalau Jadi Mau Berenang dari Jakarta ke Labuan Bajo

Persiapan Mumtaz Rais kalau Jadi Mau Berenang dari Jakarta ke Labuan Bajo

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Mumtaz Rais bernazar akan berenang dari Pantai Kapuk di Jakarta Utara menuju Labuan Bajo di Pulau Komodo kalau PAN Reformasi akhirnya berdiri.

Salah satu kredo sepantas apa seseorang layak disebut politisi adalah kemampuannya dalam mengumbar janji-janji. Bahkan sekalipun janji itu rasanya mustahil untuk direalisasikan. Dan harus diakui, Mumtaz Rais, Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Amanat Nasional (PAN), pantas mendapat sematan sebagai politisi tulen karena janjinya yang luar biasa sembrono.

Iklan

Anak ketiga dari Amien Rais ini dengan cukup berani bernazar akan berenang dari Pantai Kapuk di Jakarta Utara menuju Labuan Bajo di Pulau Komodo kalau PAN Reformasi bikinan ayahnya bisa berdiri.

“Kalau memang PAN Halusinasi ini (sindiran Mumtaz Rais untuk PAN Reformasi) sampai beneran terbentuk dan diisi oleh seperempat saja dari anggota dewan kita yang berjumlah sekitar 1.500-an, maka saya sebagai Ketua DPP penjaga tangguh benteng PAN ini akan berenang dari Pantai Kapuk sampai Labuan Bajo,” terang Mumtaz Rais.

Kalau kamu pikir nazar itu cukup gila, bahkan sekalipun nazar itu keluar dari mulut seorang politisi, maka kamu perlu memakai sabuk pengaman kembali karena Mumtaz bisa membuat pernyataan ini jadi jauh lebih gila lagi.

Ya iya dong, soalnya, Mumtaz sesumbar tidak akan melakukannya dalam sekali perjalanan! Dia rela melakukan perjalanan gila ini bolak-balik kalau sampai PAN Reformasi diresmikan oleh Menteri Hukum dan HAM.

Pantai Kapuk ke Labuan Bajo… plus dari Labuan Bajo balik lagi ke Pantai Kapuk!!!

…

…

Mukegile.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

Bisa disembah Michael Phelps ente, Mumtaaaz.

Perselisihan politis antara bapak-anak ini memang menggemaskan. Dan sebagaimana anaknya, Amien Rais sendiri juga pernah mengumbar janji jalan kaki dari Jakarta ke Yogyakarta kalau terbukti pernah menyebut Prabowo terlibat dalam penculikan aktivis 1998.

Dan kita semua tahu, nazar itu akhirnya tak pernah direalisasikan. Sekalipun kliping koran pada Harian Republika edisi 24 Juni 1998 menunjukkan bahwa Amien Rais ternyata pernah menyebut Prabowo sebagai sosok yang bertanggung jawab pada kasus penculikan aktivis.

Masalahnya, Mumtaz Rais tak belajar banyak dari ayahnya sendiri. Dengan cukup percaya diri, ketika berselisih dengan sang ayah, Mumtaz Rais malah memakai senjata sesumbar lawan secara sembrambangan.

Iklan

Sekalipun peluang PAN Reformasi berdiri itu kecil, kita semua tahu kalau tak ada yang mustahil di dunia fana ini. Sekecil apapun peluang itu, bukan tidak mungkin celotehan Mumtaz ini malah bikin Amien jadi menggebu-gebu untuk bikin PAN Reformasi betulan.

Jangan salah, perasaan diremehkan itu bisa mewujud menjadi energi positif untuk membalikkan bully-an lawan politik. Apalagi kalau bully-an ini lahir dari anak kandung sendiri. Dan kalau itu terjadi, Mumtaz Rais harus siap berlatih fisik demi menjalani nazarnya itu.

Oke, oke, saya tahu, banyak di antara kalian yang sangsi bahwa nazar ini akan direalisasikan Mumtaz Rais kalau akhirnya PAN Reformasi beneran berdiri. Meski begitu, saya sangat percaya, Mumtaz Rais yang jauh lebih muda dari ayahnya, tak akan sepengecut itu. Darah mudanya pasti bergejolak kalau ternyata sang ayah berhasil membalikkan prediksinya.

Nah, sebagai jaga-jaga saja, saya akan berikan beberapa informasi mengenai apa yang dibutuhkan Mumtaz Rais kalau akhirnya jadi berenang dari Jakarta-Labuan Bajo pulang-pergi.

Persiapan mutlak yang harus dilakukan Mumtaz Rais adalah soal pemahaman waktu tempuh, dan kedua ketersediaan sponsor.

Soal sponsor, jika Mumtaz Rais beneran mau merealisasikan janjinya ini, saya haqqul yakin perjalanan ini akan didanai oleh lawan-lawan politiknya—bahkan oleh Amien Rais sendiri. Jadi soal biaya, Mumtaz tak perlu khawatir lah. Bakal banyak yang nyumbang kok.

Oke balik ke perkara jarak dan waktu tempuh.

FYI aja, jarak antara Pantai Kapuk ke Labuan Bajo itu 1.814 km dengan perjalanan darat.

Sebagai gambaran, jika menggunakan mobil, jarak segitu bisa ditempuh “hanya” 42 jam nonstop. Kalau misalnya Mas Mumtaz Rais mau mengganti perjalanan itu dari berenang ke jalan kaki seperti nazar sang ayah zaman dulu, blio pun masih membutuhkan waktu 333 jam alias 14 hari.

Masalahnya, waktu 14 hari itu harus dijalani nonstop. Kalau mau realistis, dengan menghitung waktu terbuang untuk istirahat, tidur, ngopi-ngopi, konferensi pers, IG story, IG Live, ya paling minim butuh waktu 2 bulan lah. Itu juga udah hebat banget kok.

Dan itu semua baru perhitungan kalau perjalanan itu jalan kaki lewat akses darat, dan di beberapa titik masih harus naik kapal feri.

Sekarang kalau mau berenang, berapa waktu yang dibutuhkan seorang Mumtaz Rais?

Sebagai gambaran, Michael Phelps, perenang terbaik dari Amerika mampu berenang dengan kecepatan 8-10 km per jam. Itu pun merupakan kecepatan terbaiknya. Rata-rata Phelps melesat secepat 7,8 km per jam. Tapi itu untuk jarak 100 meter doang.

Kalau mau berandai-andai akhirnya nazar ini harus dipenuhi, Mumtaz Rais tentu tak perlu secepat itu, sebab jarak yang ditempuh berlipat-lipat jauhnya. Konsisten di kecepatan 3-4 km per jam saja udah hebat banget kok.

Gambaran yang bisa dipelajari Mumtaz selain dari Michael Phelps adalah belajar dari Ross Edgley, seorang pria Inggris yang memecahkan rekor dunia berenang mengitari Pulau Britania. Jarak yang ditempuh pun sekitar 2.864 km, lebih jauh dari jarak yang harus ditempuh Mumtaz Rais dari Jakarta ke Labuan Bajo.

Dengan jarak sejauh itu, Edgley membutuhkan waktu 157 hari alias sekitar 5 bulan, dan aktivitas berenang dilakukan 6-12 jam per hari saja. Jadi ketika sudah lelah, Edgley akan beristirahat di kapal yang mengikutinya sepanjang berenang. Begitu seterusnya sampai berhasil mengitari Pulau Britania.

Membandingkan Edgley yang memang merupakan atlet olahraga ekstrem dengan Mumtaz Rais yang merupakan atlet ekstrem silat lidah, jarak 1.814 km itu dengan perhitungan wangsit dan primbon jawa, barangkali bisa diselesaikan dalam tempo waktu 8 sampai 12 bulan kalau tidak ada aral merintang.

Sayangnya, waktu selama itu baru separuh dari perjalanan sebenarnya. Soalnya blio mesti berenang bolak-balik.

Saya jadi membayangkan, kalau kapal yang menyertai aktivitas berenang Mumtaz Rais ini ditumpangi oleh sang ayah: Amien Rais. Sambil cekikian di atas kapal memberi semangat ke putranya demi memenuhi janji sembrononya.

Lantas, sambil menikmati sunset plus ngopi-ngopi santai berseloroh …

“Hahaha, rasakan, anak muda! Emang enaaak?”

Hm, pasti akrab sekali suasananya.

BACA JUGA Manusia Membuat Nazar, Ia Sendiri Pula yang Menawar ketika Harus Melunasinya atau tulisan rubrik POJOKAN lainnya.

Terakhir diperbarui pada 2 September 2020 oleh

Tags: Amien RaisjakartaLabuan Bajomumtaz raisnazarpan
Ahmad Khadafi

Ahmad Khadafi

Redaktur Mojok. Santri. Penulis buku "Dari Bilik Pesantren" dan "Islam Kita Nggak ke Mana-mana kok Disuruh Kembali".

Artikel Terkait

kebayoran baru, jakarta selatan, jakarta.MOJOK.CO
Urban

Punya Kos Murah di Kebayoran Baru adalah Kemewahan, Biar Berisik tapi Setidaknya Menyelesaikan 3 Masalah Besar Perantau di Jakarta

3 Juli 2026
Naik BYD Menyusuri Jalanan Jakarta Bikin Saya Jadi Kampungan MOJOK.CO
Otomojok

Pengalaman Menahan Rasa Penasaran di Dalam Kabin Mewah BYD demi Tidak Terlihat Kampungan ketika Menyusuri Jalanan Jakarta

30 Juni 2026
Nasib desainer grafis di desa kabupaten: jasa desain logi dianggap gratisan, pindah Jakarta kaget ternyata cuannya menjanjikan MOJOK.CO
Sehari-hari

Jasa Desain Logo di Desa Kabupaten Dianggap Sepele hingga Jadi Gratisan, Pindah Jakarta Kaget 1 Logo Cuannya Menjanjikan

23 Juni 2026
Kerja di Jakarta, Cara Terbaik Buat Melihat Sisi Buruk Manusia adalah Kerja di F&B.mojok.co
Urban

FnB di Jakarta Bikin Sengsara Pekerjanya: Bisnis Elite tapi Gaji Karyawannya Seuprit, yang Dimiliki Artis bahkan Lebih Tak Manusiawi

2 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Orang tua, ibu.MOJOK.CO

Sulitnya Menjadi Ibu Muda Tanpa Cela di Ibu Kota: Parenting Dituntut Sempurna, tapi Sudah Digempur Stres Kerja

10 Juli 2026
Petugas Sensus Ekonomi ditolak masyarakat karena sudah sulit percaya dengan pemerintah MOJOK.CO

Yang Harus Dibenahi dari Sensus Ekonomi usai Petugas Ditolak di Mana-mana, Karena Masyarakat Makin Sulit Percaya sebab Sering Dibuat Kecewa

6 Juli 2026
Lapangan Bola di Kauman, Jogja. MOJOK.CO

Lapangan Paving: Kemewahan yang Tersisa bagi Anak-anak Kota Jogja untuk Bermain Bola

7 Juli 2026
Emas 74 Kilo, Sumatra Gelap Gulita, dan Aparat Hukum yang Berperan Ganda MOJOK.CO

Emas 74 Kilo, Sumatra Gelap Gulita, dan Aparat Hukum yang Berperan Ganda

10 Juli 2026
manfaat program WiFi gratis bagi pedagang sekaligus warga Klaten. MOJOK.CO

Memanfaatkan WiFi Gratis di Sejumlah Titik Klaten: Meski Harus Berebut, Tetap Jadi Solusi Alternatif saat Paket Data Habis

10 Juli 2026
Derita anak magang atau PKL SMK: diperlakukan sebagai pekerja penuh waktu hingga ikut lembur dan dibentak-bentak MOJOK.CO

Magang SMK Tak Dibayar tapi Jadi Tenaga Kerja Serabutan, Ikut Lembur hingga Dibentak-bentak kalau Ada Kesalahan

9 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.