Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Pedasnya Indomie Rendang Nggak Ada Apa-apanya Dibanding Hujatan Netizen

Audian Laili oleh Audian Laili
29 Maret 2019
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Rere memang telah berbohong tentang Indomie rendang nya. Tapi, masak ya harus menerima hujatan netizen terus-terusan, meski dia udah berani jujur?

Beberapa waktu lalu, sebuah konten video mukbang di Youtube bikinan gadis SD bernama Aurora atau biasa disapa Rere, ramai-ramai menerima hujatan netizen. Pasalnya, para netizen merasa dirugikan—tepatnya dikecewakan—dengan tayangan Rere yang dianggap membohongi banyak orang. Di video tersebut, Rere mengaku mie yang ia santap untuk mukbang adalah Samyang.

Usut punya usut, atas kejelian netizen dalam memperhatikan kesalahan orang, ternyata itu adalah Indomie rendang. Sontak, video Rere ini pun dijadikan bahan guyonan di berbagai lini media sosial plus menerima banyak hujatan netizen.

Melihat tanggapan yang semasif itu, akhirnya Rere mengakui bahwa ia berbohong. Bayangkan, Saudara-saudara, ia mau mengungkapkan kejujuran dan berani meminta maaf. Dalam kolom komentar postingan video tersebut, ia menyematkan pernyataan, “Maaf banget ya aku udah bohong ke kalian karna aku orang miskin jadi gak kuat beli samyang. Sekali lagi minta maaf ya.”

Sedihnya, meski Rere sudah meminta maaf dan berani jujur serta mengakui telah berbohong, hal ini tidak serta merta menjadikan guyonan terhadapnya berhenti begitu saja. Mungkin karena ia merasa tidak kuat, akhirnya Rere memutuskan untuk menghapus video tersebut. Meski juga agak percuma, karena ‘duplikat’ video tersebut sudah ada di mana-mana.

Memang betul, Rere telah membohongi kita sebagai penonton video mukbangnya. Tapi masalahnya, kita ini sebetulnya dirugikan dari sisi apa? Kita ini rugi apa, loh? Palingan juga paketan internet doang. Itu pun biasanya juga nyari-nyari wifi gratisan.

Hal pertama yang perlu kita pahami, kita ini cuma nonton doang. Yak, nonton doang, nggak lebih. Entah itu video mukbang Samyang, Indomie rendang, Mie Sedap, Sarimie, ataupun Mie Selera Rakyat sekalian. Nggak aka nada bedanya bagi hidup kita. Memangnya kita bakal ikutan ngerasain, gitu? Kan ya, nggak, toh? Lha wong kita ini cuma n-o-n-t-o-n. Sekali lagi, cuma nontonin, sama sekali nggak nyobain. Ntah kalau suatu saat nanti, ada teknologi anyar yang betul-betul bikin kita kenyang hanya dari nontonin doang.

Mungkin, sebetulnya kita marah—lalu menghujat—karena merasa malu telah ditipu oleh anak yang lebih kecil daripada kita. Harga diri kita merasa tercabik-cabik karena merasa “pengetahuan” kita diremehkan oleh seseorang. Ya, udah mirip-mirip kayak orang tua yang marah-marah karena dibohongi sama anaknya sendiri gitu, lah. Iya, kan?

Selain itu, ekspresi kemarahan ini, karena sebenarnya diam-diam kita merasa senang kalau melihat kesalahan orang lain. Kenapa? Mohon maaf, nih, soalnya diri kita ini pun penuh khilaf, salah, dan dosa. Penuh pengalaman dengan kejadian-kejadian yang nggak kalah memalukan. Cuma bedanya, hal-hal memalukan tersebut nggak—atau mungkin belum—terekspos aja, sih. Jadi, kalau ada orang lain yang melakukan kesalahan. Hmmm, jiwa-jiwa menyerang dan menghujat kita langsung bergejolak: berharap untuk segera dikeluarkan dengan maksimal.

Lagian, ya, fyi aja, nih. Bikin konten Youtube ataupun konten-konten yang lain, itu nggak mudah, loh. Dari mikirin kontennya: percayalah, nggak semua orang bakal kepikiran mengganti Samyang dengan Indomie rendang. Setelah itu, belum lagi menyiapkan masakannya biar siap buat dipakai mukbang. Terus proses syutnya, dari cara naruh kamera, memastikan pencahayaannya, hingga memastikan supaya suara ngunyah-ngunyah Indomie rendang yang tetep bikin orang kepengin itu, terdengar dengan baik.

Tidak sampai di situ, kalaupun nggak pakai edit, proses upload-nya pun lumayan ngabisin kuota. Apa? Mau ngandelin wifi gratisan kayak lagi nonton? Hahaha, mohon maaf, tayangnya bisa beberapa dekade kemudian~

Lalu, memangnya kalian-kalian yang hanya mampu menghujat ini, bisa apa? Mana? Sini-sini tunjukin karyanya? Hmmm, mana, coba?

Orang-orang yang suka ngehujat, palingan juga mampunya sekadar ketak-ketik doang. Cuma bisa nonton dan komeeeeennnnnn doang, tapi ngegasnya nggak karuan. Atau, usaha paling mentok pun, cuma bisa re-upload konten-konten yang sudah ada sebelumnya. Terus diedit-edit dikit, biar nggak sama-sama amat. Udah, gitu doang, kan?

Hash! Ncen, ora kreatif, blas!

Iklan

Gini, deh, coba kalian bikin konten sendiri?! Bisa, nggak?!1! Daripada sibuk menghujat, kalian kan bisa aja bikin konten tandingan kayak, “Cara bikin Samyang yang murah dan enak buat sobat misquen”. Manfaatnya gede, loh. Biar nanti setidaknya, nggak akan ada Rere-Rere lainnya. Yang hanya karena nggak mampu beli Samyang, terus harus bohong dengan bikin Indomie Rendang.

Terakhir diperbarui pada 29 Maret 2019 oleh

Tags: indomie rendangkonten Youtubemukbangsamyang
Audian Laili

Audian Laili

Redaktur Terminal Mojok.

Artikel Terkait

Konten YouTube Influencer Bukan Segalanya bagi Dunia Kuliner Indonesia MOJOK.CO
Esai

Konten YouTube Influencer Bukan Segalanya bagi Dunia Kuliner Indonesia

15 April 2023
Lelang Keperawanan Sarah Keihl Ngasih Celah Buat Kekerasan Verbal Seksual, Berujung Gratifikasi Kebodohan MOJOK.CO
Pojokan

Lelang Keperawanan Sarah Keihl Ngasih Celah Buat Kekerasan Verbal Seksual, Berujung Gratifikasi Kebodohan

21 Mei 2020
Youtuber Nggak Cocok Masuk Kuliah Jalur Prestasi MOJOK.CO
Pojokan

Nyinyirin Youtuber Nggak Cocok Masuk Kuliah Jalur Prestasi, Apa Nggak Ngerti Soal 9 Macam Kecerdasan?

3 Juli 2019
5 Makanan Lebaran Pengganti Ketupat Biar Nggak So Yesterday
List

5 Makanan Lebaran Pengganti Ketupat Biar Nggak So Yesterday

2 Juni 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kelas menengah ke bawah harus mawas diri Kalau pemasukan pas-pasan jangan maksa gaya hidup dalam standar dan tren media sosial MOJOK.CO

Kelas Menengah ke Bawah Harus Mawas Diri, Pemasukan Pas-pasan Gaya Hidup Jangan Pakai Standar dan Tren Media Sosial

6 April 2026
Tunggu Aku Sukses Nanti.MOJOK.CO

“Tunggu Aku Sukses Nanti”: Mari Bertaruh, Kita Semua Memiliki Tante Yuli di Dunia Nyata

4 April 2026
Kerja di Kafe Bikin Stres karena Bertemu Gerombolan Mahasiswa Jogja yang Nggak Beradab, Sok Sibuk di Depan “Budak Korporat” MOJOK.CO

Kerja di Kafe Bikin Stres karena Bertemu Gerombolan Mahasiswa Jogja yang Nggak Beradab, Sok Sibuk di Depan “Budak Korporat”

1 April 2026
Pembangunan Masif Rusak Hutan Papua, Belasan Spesies Satwa Terancam Punah.MOJOK.CO

Pembangunan Masif Rusak Hutan Papua, Belasan Spesies Satwa Terancam Punah

3 April 2026
Kuliah soshum di PTN merasa gagal karena tak jadi wong untuk orang tua

Lulusan Soshum Merasa Gagal Jadi “Orang”, Kuliah di PTN Terbaik tapi Belum Bisa Penuhi Ekspektasi Orang Tua

6 April 2026
Jurusan Antropologi Unair selamatkan saya usai ditolak UGM. MOJOK.CO

Ditolak UGM Jalur Undangan, Antropologi Unair Selamatkan Saya untuk Tetap Kuliah di Kampus Bergengsi dan Kerja di Bali

6 April 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026
Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.