Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Memaklumi Langkah Prabowo, Karena Nggak Ada yang Suka Kalah

Yamadipati Seno oleh Yamadipati Seno
27 Mei 2019
A A
prabowo ngga suka kalah MOJOK.CO
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Jangan terlalu kasar kepada Pak Prabowo. Tidak ada yang mau dan suka kalah. Asal, kekalahan itu diekspresikan dengan cara yang “konstitusional”, bukan ontran-ontran.

“Ketika berkompetisi, kalah atau menang adalah hal yang biasa.”

Sekilas, kalimat di atas terdengar begitu bijak. Padahal, di sisi hati terdalam kalian, di pojok paling suram dan dingin, ada hewan buas yang tidak mengizinkan kamu untuk mengakui kekalahan. orang-orang bijak menyebutnya sifat kompetitif, sifat alami manusia untuk selalu unggul dari sesama.

Menerima kekalahan bukan perkara mudah. Nggak usah munafik, deh. Apalagi kalau kamu kalah berkali-kali. Oleh sebab itu, ketika Pak Prabowo nggak mau menerima kemenangan Jokowi begitu saja, pada titik tertentu, kamu nggak bisa menyalahkan beliau.

Ingat ya, pada titik tertentu, bukan semuanya. Untuk semua orang yang berkompetisi, ya politik, ya olahraga, ya di pendidikan, tidak ada (orang yang niat berkompetisi) yang mau kalah. Atau untuk mereka yang tetap bisa bersikap profesional ketika “tidak mau menerima kekalahan”.

Yang menjadi perkara ketika Prabowo “menolak” kalah adalah pengerahan massa mengunjungi gedung KPU dan Bawaslu. Setelah sebelumnya menolak untuk mengajukan gugatan kecurangan Pemilu 2019 ke Mahkamah Konstitusi (MK). Apalagi ketika aksi 22 Mei, yang awalnya berjalan damai, pecah menjadi kerusuhan.

Prabowo dianggap sebagai orang yang paling bertanggung jawab. Beliau dianggap hanya membiarkan kerusuhan pecah. Ketika demo masih berjalan dengan damai, Ketum Gerindra itu tidak membuat pernyataan yang tegas. Tegas berkata kepada massa aksi 22 Mei untuk segera membubarkan diri setelah buka puasa. Misalnya begitu.

Situasi semakin runyam ketika Prabowo dan para pendukungnya justru seperti “membakar” suasana. Yah, lengkap sudah bahan baku untuk membuat ontran-ontran. Apalagi ditambah adanya tiga massa dari luar Jakarta yang datang menjelang pukul 23.00 untuk memulai kerusuhan. Pak Prabs makin disudutkan.

Kenapa sih Pak Prabowo sampai segitunya? Aris Santoso, dalam kolomnya di Tirto memberikan penjelasan.

“Bagi orang seperti Prabowo, dengan latar belakang nama besar keluarga dan segala kejayaannya di masa lalu, menjadi runner-up bisa jadi menyakitkan. Ini memang soal psikologis: tidak semua orang sanggup menerima kekalahan,” tulis Aris.

“Jejak lain yang juga dibawa Prabowo ke panggung politik adalah rivalitasnya yang terus berlanjut dengan koleganya sesama perwira. Saat masih aktif berdinas dulu, Prabowo selalu ingin unggul dan itulah yang menjadikan rivalnya juga banyak. Salah satu rivalnya itu adalah Luhut Panjaitan (lulusan terbaik Akmil 1970). Tampaknya Prabowo sangat terobsesi untuk “mengalahkan” Luhut,” lanjut Aris.

Jadi, demi nama besar dan rivalitas, mantan menantu Soeharto itu terus melaju, menabrak “sportivitas” dengan tidak mengakui kemenangan Jokowi secara “konstitusional”. Maksudnya jelas, kalau merasa ada kecurangan, sudah ada jalur yang disediakan oleh Undang-Undang, tanpa perlu mendukung ontran-ontran.

Begini lho, meskipun kalah berkali-kali, nama besar Prabowo tidak akan terluka. Beliau membesarkan Gerindra hingga menjadi partai besar dan diperhitungkan saja sudah sangat baik. Itu wujud kerja cerdas dan determinasi kuat dari seorang politikus. Ya buat yang nggak mau mengakui, mungkin perlu cuci muka dan bangun dari tidur.

Kesalahan terbesar dari orang yang menerima kegagalan adalah saat mereka menganggap diri pecundang. Dalam situasi seperti ini, mereka akan menganggap kekalahan adalah hal yang memalukan. Akibatnya, orang akan takut kalah dan tidak mempersiapkan diri untuk takluk pada lawan.

Iklan

Namun, di sudut hati paling dalam, siapa sih yang siap untuk kalah seperti Prabowo. Perasaan itu terasa dari komentar dan sikap orang yang kalah. Misalnya ketika Barcelona dipecundangi Liverpool di Liga Champions. Unggul agregat 3-0, Barcelona akhirnya kalah dengan skor 4-0. Agregat berbalik dan Liverpool lolos ke final.

Beberapa hari setelah kalah, Gerard Pique berbicara kepada wartawan. Ia berkata bahwa kekalahan memalukan dari AS Roma tahun lalu punya dampak kepada penampilan mereka ketika Liverpool sudah unggul agregat. Apa yang bisa kamu baca dari pernyataan Pique? Ya, itu alasan saja. Manusia mencari sesuatu untuk berlindung dari rasa inferior.

Atau yang paling sederhana saja. Ketika main FIFA atau PES, kamu dibantai dengan skor 5-0. Yang terlontar adalah alasan-alasan klasik seperti “Stiknya rusak, nih!” atau “Tombolnya eror, nih!” atau “Wasit e Emyu!”.

Beralasan adalah reflek manusia untuk tidak mau mengakui kekalahannya. Dan itu perlu kamu ketahui, sangat manusiawi. Jadi, jangan terlalu kasar kepada Pak Prabowo. Tidak ada yang suka kalah. Yang ada adalah orang berduit yang nggak terima dan bisa bikin demo. Ada yang miskin kayak kamu yang cuma bisa mengeluh. Ya sama, kayak saya. Heuheuheu…

Terakhir diperbarui pada 28 Mei 2019 oleh

Tags: jokowikpu curangPemilu 2019prabowo
Yamadipati Seno

Yamadipati Seno

Redaktur Mojok. Koki di @arsenalskitchen.

Artikel Terkait

Mens Rea, Panji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme MOJOK.CO
Esai

Mens Rea, Pandji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme

12 Januari 2026
kapitalisme terpimpin.MOJOK.CO
Ragam

Bahaya Laten “Kapitalisme Terpimpin” ala Prabowonomics

21 Oktober 2025
Kereta Cepat Whoosh DOSA Jokowi Paling Besar Tak Termaafkan MOJOK.CO
Esai

Whoosh Adalah Proyek Kereta Cepat yang Sudah Busuk Sebelum Mulai, Jadi Dosa Besar Jokowi yang Tidak Bisa Saya Maafkan

17 Oktober 2025
Hentikan MBG! Tiru Keputusan Sleman Pakai Duit Rakyat (Unsplash)
Pojokan

Saatnya Meniru Sleman: Mengalihkan MBG, Mengembalikan Duit Rakyat kepada Rakyat

19 September 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

nongkrong di kafe, jakarta selatan.MOJOK.CO

Nongkrong Sendirian di Kafe Menjadi “Budaya” Baru Anak Muda Jaksel Untuk Menjaga Kewarasan

14 Januari 2026
Sisi Gelap Bisnis Es Teh Jumbo, Tak Cuan Bisnis Melayang MOJOK.CO

Dua Kisah Bisnis Cuan, Sisi Gelap Bisnis Es Teh Jumbo yang Membuat Penjualnya Menderita dan Tips Memulai Sebuah Bisnis

15 Januari 2026
Kisah Wisudawan Terbaik ITB, Berhasil Selesaikan S2 dari Ketertarikan Menyusuri Kampung Tua di Pulau Jawa. MOJOK.CO

Kisah Wisudawan Terbaik ITB, Berhasil Selesaikan Kuliah S2 dari Ketertarikan Menyusuri Kampung Tua di Pulau Jawa

12 Januari 2026
Keluar dari organisasi mahasiswa ekstra kampus (ormek) PMII, dicap pengkhianat tapi lebih sukses MOJOK.CO

Nekat Keluar PMII karena Tak Produktif: Dicap Pengkhianat-Nyaris Dihajar, Tapi Bersyukur Kini “Sukses” dan Tak Jadi Gelandangan Politik

13 Januari 2026
Film Semi Jepang Bantu Mahasiswa Culun Lulus dan Kerja di LN (Unsplash)

Berkat Film Semi Jepang, Mahasiswa Culun nan Pemalas Bisa Lulus Kuliah dan Nggak Jadi Beban Keluarga

14 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026

Video Terbaru

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.