Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Mahasiswa Meninggal saat Belajar Online Bukti Revolusi 4.0 = Omong Kosong Terbesar Abad Ini

Rizky Prasetya oleh Rizky Prasetya
13 Mei 2020
A A
belajar online, nadiem makarim, kemendikbud, sinyal, internet mojok.co

belajar online, nadiem makarim, kemendikbud, sinyal, internet mojok.co

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Kemendikbud dengan sigap memberikan instruksi untuk mengadakan belajar online sebagai pengganti kegiatan tatap muka. Tapi manajemen risiko yang mereka lakukan payah, dan masalah datang secara bertubi-tubi.

Revolusi 4.0 di negeri ini adalah omong kosong.

Rudi Salam mungkin sudah putus asa ketika dia memutuskan naik ke lantai dua masjid demi mencari sinyal seluler. Ia butuh koneksi untuk mengerjakan skripsinya. Kalau tanah tak terjangkau sinyal internet, langit akan memberi jalan yang lebih baik, mungkin itu pikirnya. Nahas, dia tidak tahu bahwa itu jadi saat terakhirnya.

Fortunatus Roland Lamanepa tidak punya hape untuk ikut belajar online. Dia terpaksa meminjam hape temannya dan membelikan paket data ketimbang tidak mengikuti kuliah jarak jauh, apalagi musim ujian akan datang sebentar lagi. Hapenya sudah rusak sebelum belajar online diberlakukan. Sudah beberapa kali ini dia tidak ikut belajar online karena tidak punya biaya.

Roland terpikir untuk kredit hape, tapi kehidupan keluarganya sudah memprihatinkan. Hidup di bawah garis kemiskinan, ayahnya menderita diabetes, tidak punya pekerjaan tetap, tentu saja kredit hape adalah hal terakhir yang akan dia lakukan.

Itulah dua gambaran yang bisa kalian dapat dari belajar online di negara yang sinyal internetnya hanya mitos.

Tapi sebelum terlalu jauh, saya punya permintaan. Jika kalian punya pikiran macam “Ya modal dong,” “Orang tuanya siap nggak sih punya anak?” “Ah lebay banget, kuliah online nggak gitu-gitu banget,” “Ya tinggal nggak usah ikut, pasti sekolah pengertian,” saya sarankan benamkan kepala kalian ke dalam tahi sapi.

***

Kemendikbud dengan sigap memberikan instruksi untuk mengadakan belajar online sebagai pengganti kegiatan tatap muka. Tiap jenjang, dari mulai SD hingga perguruan tinggi diberi instruksi yang sama. Teknis diserahkan ke tiap institusi, yang jelas kegiatan belajar mengajar jangan sampai berhenti meski negara ini diserang pandemi.

Sekilas, yang dilakukan Kemendikbud adalah hal yang jelas, no-brainer. Teknologi sudah maju, kelas tatap muka bisa diganti dengan media kamera depan dan aplikasi-aplikasi. Negara ini begitu 4.0 more than ever. Peserta didik tetap aman di rumah, pendidikan tetap jalan dengan cara yang ramah.

Tapi kemudian masalah datang. Sedihnya, masalahnya sangat teknis: infrastruktur yang tak merata.

Masalah yang pertama, adalah masalah jaringan. Jika kita mengumpulkan amarah para warganet yang disebabkan oleh ampasnya jaringan dan mengonversinya menjadi Genkidama atau Bola Semangat, niscaya Goku bisa menghancurkan Buu beserta seisi semesta.

Bukan rahasia jika sinyal internet masih barang langka di banyak tempat di Indonesia. Pulau Jawa, yang dianggap sebagai anak emas Indonesia, masih punya masalah serius tentang sinyal. Jangan tanya yang di luar Pulau Jawa, bisa pakai kartu selain Telkomsel adalah hil yang mustahal.

Yang kedua, listrik. Masalah klasik yang mendera Indonesia berpuluh-puluh tahun ini menghambat kelangsungan belajar online. Kalau kalian bingung korelasinya, mudahnya seperti ini. Tanpa listrik tidak ada tower untuk menghantarkan sinyal. Tak ada sinyal, tak ada internet. Tak ada internet, maka tak ada belajar online.

Iklan

Demi Tuhan, kalau masih ada orang yang tidak tahu bahwa aliran listrik masih belum merata di Indonesia, sebaiknya pindahkan saja dia di Galapagos. Tapi itu berarti akan memaksa Nadiem Makarim resign dan pindah ke Galapagos.

Yang ketiga, kuota. Perkara kuota ini membuat banyak orang naik pitam. Mereka harus membeli kuota lebih sering dibanding biasanya. Ditambah sinyal yang ampas, mereka terpaksa membeli provider bagus yang harganya lebih mahal hanya demi kelancaran belajar online. Bayangkan kamu membeli kuota dari provider mahal sebulan katakanlah 4 kali, dompetmu bakal menjerit.

Sejumlah universitas sudah turun tangan memberi bantuan bagi para mahasiswanya untuk membeli kuota untuk kelangsungan belajar online. Masalahnya, tidak setiap universitas atau fakultas mempunyai kebijakan yang sama.

Kalau ujungnya beda-beda gini, kenapa dari awal Kemendikbud tidak membuat satu aturan untuk tiap universitas agar memberi bantuan kuota kepada mahasiswa?

Kawan saya pernah berkelakar, universitas di Yogyakarta itu hanya dua, yaitu UGM dan bukan UGM. Dan entah kenapa kelakar itu seakan-akan merepresentasikan apa yang dipikirkan pemangku kebijakan. Mereka pikir kota di Indonesia ada dua, yaitu Jakarta dan bukan Jakarta.

Dan bau-baunya, ketika bikin kebijakan para pejabat ini membayangkan semua orang hidup dengan kondisi yang sama dengan mereka. Kalau mereka sedang asyik dengan yang online-online, pasti semua orang juga. Kalau di sekitar rumah mereka infrastruktur sudah lengkap, jalan mulus, listrik terang 24 jam, orang lain pun dalam pikiran mereka mestilah sama demikian.

Kemendikbud mungkin perlu diingatkan lagi masih ada 1,8 juta rumah tangga yang tidak menikmati listrik. Mereka mungkin juga perlu diingatkan bahwa ada peserta didik dari 24,79 juta penduduk miskin di Indonesia, yang jelas lebih memikirkan keselamatan mereka esok hari dibanding membeli smartphone. Membebani pikiran mereka dengan belajar online tidak lebih dari menetesi luka menganga mereka dengan perasan jeruk.

Semangat Revolusi 4.0 yang berusaha diejawantahkan dengan belajar online mempertontonkan borok bernanah Indonesia. Infrastruktur ampas, kebutuhan dasar yang tidak terpenuhi, dan eksekusi program yang tidak melihat kesiapan dan realitas membuat program online-online terlihat seperti omong kosong pemerintah yang kelewat sering menggunakan istilah yang tidak mereka ketahui.

Maka dari itu, revolusi 4.0 di negeri ini adalah omong kosong.

BACA JUGA One Piece Mungkin Ceritanya Bermasalah, tapi Naruto Jelas-jelas Sampah dan artikel menarik lainnya dari Rizky Prasetya.

Terakhir diperbarui pada 12 Mei 2020 oleh

Tags: belajar onlineInternetkemendikbudNadiem Makarimsinyal
Rizky Prasetya

Rizky Prasetya

Redaktur Mojok. Hobi main game dan suka nulis otomotif.

Artikel Terkait

nadiem makarim, pendidikan indonesia, revolusi 4.0.MOJOK.CO
Aktual

Kasus Nadiem Makarim Menunjukkan Kalau Lembaga Pendidikan Sudah Jadi “Inkubator Koruptor”

8 September 2025
Uneg-uneg dari Anak SMP yang Kesel Setengah Mati pada Menteri Pendidikan  MOJOK.CO
Kilas

Uneg-uneg dari Anak SMP yang Kesel Setengah Mati pada Menteri Pendidikan 

6 Januari 2024
magang merdeka mbkm.MOJOK.CO
Kampus

Mahasiswa Ikut Program Magang Merdeka MBKM, Berakhir Keteteran Kuliah Demi Perbaiki Nilai

22 Desember 2023
Guru penggerak.MOJOK.CO
Ragam

Pengalaman Ikut Guru Penggerak, Merasakan Manfaat Setelah Menjalani Program 6 Bulan

20 Desember 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Alasan Kita Perlu Bersama Andrie Yunus di Tengah Pejabat Korup. MOJOK.CO

ICW: Usut Tuntas Kekerasan “Brutal” terhadap Andrie Yunus, Indikator Bahaya untuk Pemberantasan Korupsi

14 Maret 2026
Dear KUA, Apa Alasan Terbaik bagi Kami untuk Menikah saat Situasi Dunia Sedang Kacau-Kacaunya? MOJOK.CO

Dear KUA, Apa Alasan Terbaik bagi Kami untuk Menikah saat Situasi Dunia Sedang Kacau-Kacaunya?

18 Maret 2026
Tuntutan sosial dan gengsi bikin kelas menengah jadi orang kaya palsu hingga abaikan tabungan demi kejar standar sukses MOJOK.CO

Gara-gara Tuntutan, Nekat Jadi Orang Kaya Palsu: “Hambur-hamburkan” Uang demi Cap Sukses padahal Dompet Menjerit

14 Maret 2026
Nasib selalu kalah kalau adu pencapaian untuk kejar standar sukses keluarga besar. Orientasinya karier mentereng dan gaji besar, usaha dan kerja mati-matian tidak dihargai MOJOK.CO

Nasib Selalu Kalah kalau Adu Pencapaian: Malu Gini-gini Aja, Sialnya Punya Keluarga Bajingan yang Tak Bakal Apresiasi Usaha

14 Maret 2026
Naik Travel dari Jogja ke Surabaya Penuh Derita, Nyawa Terancam (Unsplash)

Naik Travel dari Jogja ke Surabaya, Niatnya Ingin Tenang Berakhir Penuh Derita dan Nyawa Terancam

13 Maret 2026
Kuliner khas Minang, rendang, di rumah makan Padang di Jogja rasanya berubah jadi kuliner Jawa

Nasi Padang Versi Jogja “Aneh” di Lidah, Makan Rendang Tanpa Cita Rasa Gurih dan Asin karena Dominasi Kuliner Manis Jawa

16 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.