Klaten kian menggeliat, sementara Jogja masih saja jalan di tempat.
Timeline media sosial ramai membahas warga Desa Wunut, Klaten menerima THR dari BUMDes. Menjelang Lebaran 2026, tiap warga desa, termasuk anak-anak dan bayi, menerima uang sebesar Rp250.000. Duit itu berasal dari pengelolaan wisata Umbul Pelem Waterpark yang omzetnya mencapai miliaran.
Batin saya, Klaten lagi Klaten lagi. Kabupaten ini kian menggeliat beberapa tahun terakhir, berbeda dengan daerah tetangganya, Jogja. Daerah dengan julukan Kota 1001 Umbul itu mungkin belum sebesar atau selengkap Jogja, tapi keberadaa dan perkembangannya patut diperhitungkan.
Tidak heran banyak orang mulai melirik, bahkan pindah ke tempat ini demi hidup yang lebih baik. Terlebih, fasilitas hidup yang mendasar sudah lengkap dan mumpuni di Klaten. Bukan tidak mungkin saya jadi salah satu orang yang ikut pindah ke sana. Apalagi kalau harga properti Jogja semakin tidak masuk akal dan kondisi ekonomi begini-begini saja.
Ternyata saya tidak sendiri. Salah satu akun medsos X Football Fandom (@FandomID_) mengamini penilaian saya terhadap Klaten. Dan, setelah membaca cuitan dari akun tersebut, rasa-rasanya Klaten memang layak diperhitungkan demi hidup yang lebih layak.
Akses ke Klaten mudah dan lengkap
Soal akses, Klaten nggak perlu ditanya lagi. Menjangkau kabupaten ini begitu mudah. Kalian mau naik kereta, bus, mobil, motor? Semua bisa. Mari kita bahas satu per satu.
Klaten punya beberapa stasiun aktif sehingga memudahkan warganya untuk bepergian menggunakan kereta. Mau bepergian dengan kereta jarak jauh ke Jakarta, Bandung, Surabaya, hingga ujung timur Banyuwangi? Bisa. Stasiun Klaten melayani kereta jarak jauh seperti Argo Lawu, Sancaka, Logawa, Gaya Baru Malam, dan banyak kereta jarak jauh lain dengan berbagai kelas.
Mau bepergian ke daerah-daerah tetangga seperti Purworejo, Jogja, atau Solo? Kalian bisa memanfaatkan KRL yang melewati 5 stasiun di Klaten. Jadi, kalian tidak perlu khawatir kalau tinggal di Klaten, tapi bekerja di daerah-daerah tetangga tadi. Ada KRL yang siap mengangkut mulai dari pagi hingga malam hari.
Soal jalan penghubung dengan daerah-daerah lain, jangan ditanya. Ada Jalan Jogja Solo yang bisa dilewati bus, mobil, maupun sepeda motor. Mengakses Klaten juga bisa melalui tol yang belum lama ini beroperasi.
Satu hal yang masih agak PR bagi warlok adalah bepergian menggunakan pesawat terbang. Di Klaten tidak ada bandar udara. Tapi, tenang saja, sudah ada kereta bandara yang melayani warlok yang hendak terbang dari Bandara Adi Soemarmo Solo maupun Yogyakarta International Airport (YIA). Jadi, sebenarnya, bepergian menggunakan pesawat juga tidak serepot dalam bayangan.
Ada banyak pilihan hiburan
Kalau cari hiburan modern seperti mal, bioskop, franchise makanan/minuman merek ternama, Klaten memang masih kalah dibanding Jogja. Tapi, kabupaten ini bisa diadu soal wisata alamnya.
Bayangkan saja, Klaten punya lebih dari 100 umbul atau mata air alami. Beberapa umbul yang ternama seperti Umbul Ponggok, Umbul Manten, dan Umbul Pelem. Daerah ini juga terkenal akan pemandangan pegunungan yang indah. Iya, beberapa daerah di kabupaten ini masih berada di bawah kaki Gunung Merapi. Sebut saja Ekowisata Kali Talang atau Deles Indah yang viral itu.
Selain wisata alam, Klaten juga terkenal akan candinya. Di samping kota 1001 umbul, daerah ini juga dapat julukan Kota Seribu Candi. Di sana memang kaya situs bersejarah dan purbakala. beberapa candi yang terkenal seperti Candi Lumbung, Candi Bubrah, dan Candi Plaosan.
Dan, kabar baiknya, saya lebih suka melihat pemandangan hijau daripada barang-barang di etalase toko. Jadi, rasa-rasanya, saya akan betah tinggal di sana. Tiap akhir pekan mengunjungi umbul atau candin bukan rencana hidup yang buruk.
Kuliner yang ramah di lidah orang Jogja
Menurut saya, kuliner jadi salah satu ukuran suatu daerah layak ditinggali atau tidak. Kuliner yang pas dengan lidah bikin seseorang makin betah. Dan, kabar baiknya, kuliner Klaten dan Jogja tidak jauh beda. Namanya juga daerah tetangga, pasti masih mirip-mirip palet lidahnya.
Makanan Klaten punya cita rasa manis dan gurih sehingga nggak bikin kaget lidah Jogja ini. Sebut saja soto dan sop ayam Klaten. Jangan lupa ayam panggangnya yang menggoyang lidah itu. Kalau kalian penggemar makanan pedas, ingat ada sambel belut enak sekali di sana.
Saya rasa alasan-alasan di atas cukup untuk membuat beberapa orang pindah ke Klaten dari Jogja. Dan, satu hal lain yang paling menarik dari Klaten di mata saya adalah harga properti yang jauh lebih terjangkau daripada Jogja. Saya belum melakukan riset harga pasar, tapi katanya, dengan uang Rp200 juta sudah bisa dapat hunian layak. Di Jogja, mana bisa begitu? Saya mungkin salah satunya kalau dalam 10 tahun ke depan Jogja masih gini-gini saja, dan Klaten makin menunjukkan keunggulannya.
Penulis: Kenia Intan
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA Alasan Sepele yang Membuat Orang Sleman seperti Saya Iri dengan Kota Jogja.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.














