Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

ILC Perlu Undang Goenawan Muhamad Agar Filsafat Tak Terganggu dan Jadi Receh

Ahmad Khadafi oleh Ahmad Khadafi
19 Februari 2020
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Goenawan Mohamad sebut jangan nonton Indonesia Lawyers Club (ILC) karena isinya keributan. Jadi banyak yang berfilsafat deh gara-gara itu. Ganggu filsafat aja.

Udah deh akui aja, kita sebagai orang Indonesia ini paling demen sama keributan. Udah kayak oksigen yang mengalir di paru-paru gitu. Nggak ribut seminggu aja rasanya kayak sakaw berat. Ribut Pilpres, ribut Pilkada, sampai ribut UU KPK.

Semua contoh yang barusan saya sebutkan itu tak lebih dari pledoi aja untuk melampiaskan hasrat keributan kita.

Emang tanpa itu semua kita nggak bisa ribut? Tetap bisaaa dong. Lah wong sekelas ucapan requiescat in pace (RIP) untuk almarhum Ashraf Sinclair aja bisa jadi bahan keributan og.

Nggak perlu sampai mantengin ramainya akun @lambe_turah deh untuk membuktikan itu, program televisi Rumah Uya sampai Indonesia Lawyers Club (ILC) selalu ramai karena memunculkan benih-benih kenikmatan bernama keributan.

Ingat, keributan itu adalah naluri dasar survival dalam sejarah evolusi manusia sebagai makhluk paling sempurna dalam keributan. Itu.

Kerja seharian di kantor, ngantuk kuliah dengerin dosen, atau wara-wiri jadi driver ojol memang membosankan. Hidup dalam rutinitas yang itu-itu saja bisa bikin gila. Itulah kenapa Tuhan menciptakan keributan sebagai sebuah alternatif hiburan yang menaikkan adrenalin dan bikin kita semua ketagihan. Jadi candu yang nikmat paripurna.

Dan itu barangkali yang bikin banyak orang kecanduan dengan program macam Indonesia Lawyers Club (ILC).

Sayangnya, candu di dalam acara seperti ini lah yang kemudian dikritik oleh Goenawan Mohamad, sastrawan kondyang tanah aer. Menurut Goenawan Mohamad, acara seperti ILC itu bisa merusak. Wabilkhusus merusak filsafat.

Apa? Filsafat? Pfft.

“Jangan nonton Indonesia Lawyers Club,” kata Goenawan Mohamad tanpa tedeng aling-aling dalam acara ‘Menolak Pembusukan Filsafat’ di Cikini Jakarta, Rabu (13/2) silam.

Menurut Goenawan Mohamad, acara kayak ILC ini bukan acara tukar pikiran, melainkan ngotot-ngototan.

“Contoh yang paling baik di Indonesia Lawyers Club, bukan tukar pikiran, tetapi ngotot-ngototan. Akhirnya, yang penting bukan kebenaran, tetapi suara yang paling ramai. Karena itu, saya tidak pernah nonton ILC. Tetapi tidak fair kalau saya mengatakan acara itu tidak bagus,” kata Goenawan.

Lalu si sastawan kondyang ini melanjutkan…

Iklan

“Mungkin maksudnya pemikiran filsafat ada kerusakan karena tidak ada daya kritis, tidak ada diskusi, tidak ada penulisan sehingga dunia pemikiran mengalami gangguan. Saya pikir itu (istilah pembusukan) didramatisir saja, sekarang banyak yang berminat filsafat. Jadi, (filsafat) nggak membusuk, cuma dalam keadaan terganggu,” kata Goenawan.

Sebagai golongan kaum elite/kanon-nya sastrawan, pandangan Goenawan Mohamad ini jelas tak ada salahnya sama sekali.

Apa sih yang bisa rakyat dapatkan dari acara kayak ILC gitu? Cuma tempik sorak mendengarkan jagoannya mendebat lawan politik.

Kalau kebetulan ada Rocky Gerung sebagai tamu ILC lalu pemirsa diajak berwahana di dunia filsafat, lalu karena itu pula filsafat jadi terkesan receh karena diomongin tiap episode. Lalu gara-gara siaran ILC kek gitu, jadi banyak masyarakat yang berminat sama filsafat.

Pantas saja lah kalau Goenawan Mohamad jadi menganggap keadaan filsafat jadi terganggu.

Lagian apa pentingnya rakyat belajar filsafat? Nggak guna juga.

Buat bayar beras nggak bisa, buat bayar kuota nggak bisa, bahkan buat bayar tukang sulap yang narikin duit parkir di loket ATM juga nggak bisa. Makanya itu, Pak Karni Ilyas, dengerin dong kritik dari Goenawan Mohamad ini. Jangan situ recehin filsafat di ILC. Itu menganggu eksistensi pakar-pakar yang jarang diundang.

Lagipula, ILC ini dibandingkan acara yang dianggap bisa memicu dialog, malah kerap memunculkan persoalan anyar—alias memunculkan benih keributan baru. Masih ingat dong dengan “Kitab Suci itu Fiksi”-nya Rocky Gerung? Atau pengakuan Jonru soal ujaran kebenciannya di program ILC sampai beneran bikin dirinya dipenjara?

Artinya, program ini memang—entah sengaja atau tak sengaja—jadi kayak Colosseum untuk para Gladiator elite politik, sambil mengumbar teori-teori hukum maupun teori filsafat. Demi apa? Haya demi memicu perdebatan aka keributan.

Yang diperlukan pemirsa cuma cukup pilih jagoannya di acara itu, lalu bersorak ketika jagoannya menang debat, dan bakal menyiapkan klarifikasi panjang di akun medsos kalau jagoannya kena skak mat.

Gugatan dilawan klarifikasi, klarifikasi dilawan pakai kontroversi, lalu viral lagi, akhirnya diliput sendiri, jadi konten sendiri, dibahas sendiri, masuk ke acara-acara tipi lagi. Nah, NGO peduli lingkungan harusnya belajar nih, gimana caranya medaur ulang sampah agar punya nilai ekonomi kek gini.

Meski begitu, kalau memang Goenawan Mohamad menyarankan ke publik agar tidak mau nonton ILC lagi (karena ILC dianggap memopulerkan filsafat dan itu “menganggu” filsafat), harusnya hal ini jadi peluang yang bisa dilihat oleh Karni Ilyas. Saran nggak nonton ILC itu kan nggak sama dengan komitmen nggak mau datang kalau diundang.

Jadi, ketimbang mengkritik dari luar ada baiknya Goenawan Mohamad dihadirkan langsung di dalam. Sekaligus menjadi contoh bagaimana program ILC seharusnya dibawakan. Apakah harusnya dibikin jadi kayak program dakwah atau sekalian dibikin reality-show-canggih-paripurna kayak Rumah Uya.

Jangan khawatir kalau ketika Goenawan mengkritik ILC di dalam acara ILC lalu malah meminculkan keributan baru.

Seperti yang udah saya utarakan di awal tadi, program kayak ILC itu bukan sumber keributan kita. Mau ditempatkan di wadah apapun, pada dasarnya kita emang demen aja meributkan hal-hal receh. Kalaupun entitasnya nggak receh, ya udah direcehin aja dulu. Biar apa? Haya biar laku lah, masak biar pinter.

Contoh konkretnya? Bikin statemen receh nan elitis untuk menyerang pihak receh nan elitis lain misalnya. Lalu publik pada ribut, terus muncul deh tulisan receh yang tanpa sadar kamu baca sampai sini.

Gimana?

BACA JUGA Untung Ada Rocky Gerung atau tulisan rubrik Pojokan lainnya.

Terakhir diperbarui pada 1 Oktober 2025 oleh

Tags: Goenawan MohamadILCIndonesia Lawyers ClubKarni Ilyasrocky gerung
Ahmad Khadafi

Ahmad Khadafi

Redaktur Mojok. Santri. Penulis buku "Dari Bilik Pesantren" dan "Islam Kita Nggak ke Mana-mana kok Disuruh Kembali".

Artikel Terkait

Ragam

Kedunguan Kabinet Prabowo dan Cara Pandang pada Papua yang Tak Berubah

30 Oktober 2024
Fatayat Balikpapan Laporkan Rocky Gerung, Ketum PBNU Beri Komentar. MOJOK.co
Kilas

Fatayat Balikpapan Laporkan Rocky Gerung, Ketum PBNU Beri Komentar

4 Agustus 2023
Sudah Menuju Lokasi Diskusi di Jogja, Rocky Gerung Pilih Pulang karena Massa Mengadang. MOJOK.CO
Kilas

Sudah Menuju Lokasi Diskusi di Jogja, Rocky Gerung Pilih Pulang karena Massa Mengadang

3 Agustus 2023
gibran bertemu rocky gerung mojok.co
Kilas

Temui Rocky Gerung, Gibran Ingin Ketularan Genius

27 September 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

kos di jakarta.MOJOK.CO

Ngekos Bareng Sepupu yang Masih Nganggur Itu Nggak Enak: Sangat Terbebani, tapi Kalau Mengeluh Bakal Dianggap “Jahat”

3 Februari 2026
Mahasiswa Muslim Kuliah di UKSW Salatiga: Kampus Kristen yang Nggak Perlu Ngomongin Toleransi MOJOK.CO

Mahasiswa Muslim Kuliah di UKSW Salatiga: Kampus Kristen Kok Nggak Ngomongin Toleransi

2 Februari 2026
Ormas Islam Sepakat Soal Board of Peace: Hilangnya Suara Milenial dan Gen Z oleh Baby Boomers MOJOK.CO

Ormas Islam Sepakat Soal Board of Peace: Hilangnya Suara Milenial dan Gen Z oleh Baby Boomers

6 Februari 2026
Sriwijaya FC, Tim Bola “Mainan” Politisi yang Dikelola seperti Toko Kelontong, Tapi Saya Tak Malu Pernah “Dibaptis” Jadi Fansnya.MOJOK.CO

Sriwijaya FC, Tim Bola “Mainan” Politisi yang Dikelola seperti Toko Kelontong, Tapi Saya Tak Malu Pernah “Dibaptis” Jadi Fansnya

5 Februari 2026
Lolos Unair lewat jalur golden ticket tanpa SNBP. MOJOK.CO

Tak Menyesal Ikuti Saran dari Guru BK, Berhasil Masuk Fakultas Top Unair Lewat Golden Ticket Tanpa Perlu “War” SNBP

7 Februari 2026
Film "Surat untuk Masa Mudaku" tayang di Netflix. MOJOK.CO

Film “Surat untuk Masa Mudaku”: Realitas Kehidupan Anak Panti dan Lansia yang Kesepian tapi Saling Mengasihi

5 Februari 2026

Video Terbaru

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026
Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

31 Januari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.