Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edupedia
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edupedia
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Saya Benci Setengah Mati, Gudeg Jogja Menjadi Simbol Hidup Tak Bertanggung Jawab tapi Sering Menyelamatkan Saya Semasa Kuliah

Rizky Prasetya oleh Rizky Prasetya
6 Januari 2026
A A
Gudeg Jogja 3 Porsi di Malioboro Dihargai 85 Ribu Itu Wajar, Jadi Wisatawan Mbok Ya Riset, Jangan Caper!

Gudeg Jogja 3 Porsi di Malioboro Dihargai 85 Ribu Itu Wajar, Jadi Wisatawan Mbok Ya Riset, Jangan Caper! (Inna Safa via Unsplash)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Dalam urusan bertahan hidup, kita kerap harus berkompromi, kadang salah satunya adalah memaksa diri melahap apa-apa yang tidak suka. Saya tidak suka gudeg Jogja, tapi karena perkara urusan bertahan hidup dan uang yang cekak, kuliner ini sempat jadi makanan utama dalam tahun-tahun saya jadi mahasiswa.

Gudeg sempat jadi menu sarapan saya sehari-hari di tahun kedua hingga keempat saya di Jogja. Perkaranya sederhana, di dekat kos saya saat itu (daerah Gejayan dan Condongcatur), warung makan yang sudah buka pagi-pagi ya warung gudeg. Jam 4-5 pagi, sudah siap melayani pelanggan dan menunya masih hangat-hangat.

Saat itu, saya lebih sering menghabiskan hidup saya di warnet hingga pagi hari. Gudeg adalah “penutup” hari saya, yang bisa saya beli dengan uang tersisa. Yah, masa-masa hidup tak bertanggung jawab saya ditandai oleh gudeg.

Selain itu, harganya terhitung murah. Sekitar 6-7 ribu, saya sudah bisa makan lauk tempe tahu. Yang lebih murah, banyak. Tapi yang paling aksesibel saat itu ya gudeg. Lagi-lagi, saya tak suka, tapi bagaimanapun juga, saya harus bertahan hidup.

Kebencian terhadap gudeg Jogja

Coba kalian bertanya pada kawan kalian yang asli Jogja apakah mereka suka gudeg, jawaban yang hampir pasti kalian terima adalah mereka tidak suka. Coba lagi bertanya pada mahasiswa atau perantau yang sudah lama di Jogja, jawaban yang kalian terima ya kemungkinan sama.

Jawaban itu sebenarnya ya masuk akal diterima. Hingga kini, saya beneran tidak tahu enaknya gudeg Jogja di mana. Tidak ada rasa yang bikin saya terpukau dan bikin ketagihan. Bahkan ketika saya sempat nyoba pakai lauk daging ayam yang terlihat menarik itu, rasanya pun nggak tertolong. Maksudnya ya nggak bikin rasanya jadi lebih enak.

Latar belakang saya yang hidup di Wonogiri, yang makanannya cenderung gurih dan pedas bikin semua makin runyam. Gudeg yang saya tahu ya gurih dan pedas, ketika sampe Jogja, kering dan tidak ada pedas-pedasnya sama sekali. Makin-makin lah saya nggak suka.

Penilaian ini tidak cuma saya yang ngrasain. Hampir semua kenalan saya mengatakan hal yang sama. Jadi ya kalau kalian merasa bahwa gudeg Jogja adalah makanan yang overrated, saya sih setuju-setuju saja.

Terlebih jika kalian makan gudeg yang terkenal. Makin bingung saya kenapa orang-orang kaya itu pada makan di situ. Sugih tok, ilate wagu. Aneh.

Tapi memang itulah uniknya. Saya benci, tapi tetap saja saya dengan kesadaran penuh memesan, dengan lauk tempe tahu, kadang telur, lalu memakannya hingga habis. Sebab memang gudeg Jogja muncul untuk menyelamatkan orang-orang.

Baca halaman selanjutnya

Nangka dan kelapa

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 7 Januari 2026 oleh

Tags: Gudeg JogjaJogjaMakanan khas Jogjasejarah gudeg jogja
Rizky Prasetya

Rizky Prasetya

Redaktur Mojok. Hobi main game dan suka nulis otomotif.

Artikel Terkait

Orang Madura sudah banyak kena stigma buruk di Surabaya dan Jogja. Terselamatkan berkat dua hal MOJOK.CO
Ragam

2 Hal Sederhana yang Selamatkan Wajah Madura Kami dari Stigma Buruk Maling Besi, Penadah Motor Curian, hingga Tukang Pungli

28 Januari 2026
Sungai Progo, Tragedi Sungai Sempor Tak Perlu Terjadi Jika Manusia Tidak Meremehkan Alam dan Menantang Takdir MOJOK.CO
Aktual

Izin Tambang Sungai Progo Masih Mandek dengan “Aturan Jadul”

28 Januari 2026
Pemuda Solo bergaya meniru Jaksel bikin resah MOJOK.CO
Ragam

Saat Pemuda Solo Sok Meniru Jaksel biar Kalcer, Terlalu Memaksakan dan Mengganggu Solo yang Khas

28 Januari 2026
Menyesal pindah ke Jogja, sama saja dengan Jakarta. MOJOK.CO
Catatan

Kesialan Bertubi yang Bikin Saya Merenung dan Nyaris Menyesal Pindah ke Jogja yang Penuh dengan Kebohongan

27 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tidak seluruh pekerja judol di Kamboja adalah korban. MOJOK.CO

Berhenti Meyakini Semua Pekerja Judol di Kamboja Itu Korban. Toh, Sebagian Memang Menikmati Jadi Pelaku

28 Januari 2026
AI, ChatGPT, Kecerdasan Buatan Bisa Nggak Cerdas Lagi kalau Gantikan PNS dan Hadapi Birokrasi Fotokopi MOJOK.CO

ChatGPT Bukan Ustaz: Bolehkah Bertanya Soal Hukum Agama kepada AI?

28 Januari 2026
Kuliah, Lulus S1, Kebayoran Baru Jakarta SelatanMOJOK.CO

Lulus S1 di Usia 25 adalah Seburuk-Buruknya Nasib: Terlalu Tua di Mata HRD, tapi Juga Dianggap Minim Pengalaman Sehingga Sulit Dapat Kerja

28 Januari 2026
Pemuda Solo bergaya meniru Jaksel bikin resah MOJOK.CO

Saat Pemuda Solo Sok Meniru Jaksel biar Kalcer, Terlalu Memaksakan dan Mengganggu Solo yang Khas

28 Januari 2026
Ribuan istri di Surabaya minta cerai. MOJOK.CO

Perempuan Surabaya Beramai-ramai Ceraikan Suami, karena Cinta Tak Lagi Cukup Membayar Tagihan Hidup

30 Januari 2026
“Terapi Massal” Pekerja Jakarta di Istora Senayan.MOJOK.CO

“Terapi Massal” Pekerja Jakarta di Istora Senayan

24 Januari 2026

Video Terbaru

Kebun Durian Warso Farm di Bogor, Agrowisata Edukatif dengan 16 Varietas Durian

Kebun Durian Warso Farm di Bogor, Agrowisata Edukatif dengan 16 Varietas Durian

28 Januari 2026
Sigit Susanto: Membaca Dunia lewat Perjalanan Panjang dan Sastra

Sigit Susanto: Membaca Dunia lewat Perjalanan Panjang dan Sastra

27 Januari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Tawa yang Tidak Sepenuhnya Bercanda

Roasting Zainal Arifin Mochtar (Bagian 2): Strategi Biar Bisa Jadi Guru Besar

24 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.