Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Generasi Milenial yang Sensitif Terhadap Pertanyaan “Kapan Nikah?”

Agus Mulyadi oleh Agus Mulyadi
19 Juni 2018
A A
Generasi Milenial yang Sensitif Terhadap Pertanyaan "Kapan Nikah?"

Generasi Milenial yang Sensitif Terhadap Pertanyaan "Kapan Nikah?"

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Lebaran kemarin, di media sosial, banyak yang baper dengan aneka pertanyaan-pertanyaan menyebalkan dari sanak, saudara, dan kerabat. Pertanyaan yang, dianggap terlalu mencampuri urusan pribadi padahal sebenarnya biasa saja dan sama sekali tidak perlu dirisaukan.

Kapan nikah, kapan lulus, kok dari dulu nggak naik pangkat, sekarang kok tambah subur saja badannya, kok masih sendirian aja, dsb, dsb.

Keluarga, utamanya yang sudah lama tak berjumpa fisik, sering kali memang kehabisan bahan untuk berbasa-basi, sehingga pertanyaan-pertanyaan model begitu kerap menjadi ban serep yang paling ampuh.

Sayang, beberapa orang mungkin memang terlalu perasa atau memang tidak terlalu bisa menangkap hal tersebut.

Di facebook, tak sedikit yang menuliskan rasa sebalnya karena oleh tante-tantenya ditanya “Kapan nikah?”

Dengan kejam (untuk tidak menyebutnya bengis), mereka menganggap tante mereka tak punya etika, menyebalkan, dan aneka sematan buruk lainnya.

Padahal jika dilihat dari sudut yang berbeda, pertanyaan itu, di luar bahan basa-basi, bisa juga merupakan salah satu bentuk verbal kepedulian mereka pada keponakan-keponakannya.

Dengan bertanya kapan nikah, itu menjadi bukti bahwa mereka ikut bersuka-cita kalau kita menikah.

Tapi kan menikah itu urusan kita sendiri, bukan urusan mereka?

Urusan kita sendiri gundulmu. Tantemu, bulikmu, paklikmu, budemu, embahmu, kerabat dekatmu, semua berhak punya urusan pada pernikahanmu. Mereka orang pertama yang bakal sambatan, yang bakal cawe-cawe, yang bakal menyumbang tenaga dan (mungkin) harta paling besar demi lancarnya acara resepsimu.

Orang-orang terdekatmu, keluargamu, kerabatmu, selalu punya andil yang besar pada hidupmu.

Dulu saya punya bulik yang sering sekali bertanya soal sekolah saya. Nilai saya bagus apa tidak, di sekolah dapat ranking berapa? Dsb, dsb, dsb.

Pada titik tertentu, pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin terlihat sangat mengganggu, utamanya jika saya ternyata adalah murid yang goblok dengan lebih banyak nilai di raport yang berwarna merah ketimbang biru.

Namun belakangan baru saya ketahui, bulik saya itulah yang, dulu saat orangtua saya kesulitan membayar uang sekolah, ikut membantu membayarkan uang sekolah saya. Dia bahkan pernah menjual ali-ali emas miliknya demi meminjami orangtua saya uang untuk saya masuk ke SMA.

Iklan

Dengan fakta tersebut, kalau kemudian saya menganggap pertanyaan-pertanyaan bulik saya adalah pertanyaan yang tidak sepantasnya, maka betapa kurangajarnya saya.

Keluarga adalah tembok terdekat dalam lingkaran kehidupan kita. Jangan pernah membangun jarak dan perasaan-perasaan yang tidak perlu.

Di hari lebaran, kebersamaan dengan keluarga jauh lebih mahal ketimbang sekadar rasa baper oleh pertanyaan-pertanyaan yang dianggap membosankan dan menyebalkan itu.

Percayalah, mereka bukan sekadar bertanya kapan nikah, lebih dari itu, mereka juga berharap dan bahkan ikut mendoakannya.

Pertanyaan seputar “kapan nikah” sejatinya juga tak melulu monopoli lingkungan keluarga.

Beberapa waktu yang lalu, saya disuruh mengisi kelas menulis di SMP saya dulu. Di sana, sambil mengisi kelas menulis, saya tentu saja klangenan sama sekolah dan guru-guru. Ada banyak guru di jaman saya yang belum pensiun dan masih tetap mengajar sampai sekarang. Dan ya, pertanyaan soal rabi sudah hampir pasti ditanyakan oleh para guru saya itu.

“Wah, Agus sekarang sudah sukses, sudah jadi penulis. Trus sudah nikah apa belum?” kata Bu Rochalimah, guru agama saya dulu. Tentu saja saya menjawab belum. Dan pertanyaan susulan pun langsung meluncur, “Lha trus kapan? sudah umur lho!”

Guru-guru yang lain tak jauh berbeda: menanyakan soal nikah.

Tak hanya guru, kalau sowan kiai pun biasanya begitu.

Di Magelang, kalau ndilalah saya datang di majlis ndengerin ceramahnya Gus Yusuf dan kemudian minta salim, belio pasti nggak pernah luput buat nanya, “Kowe kapan le meh rabi?”

Biasanya ya saya jawab, “Nyuwun dongane nggih, Gus.”

Dari situ, saya kemudian merenung sejenak. Betapa saya bakal begitu menderita kalau saya masuk dalam golongan yang anti pertanyaan kapan nikah. Sebab saya bakal takut datang ketemu sama guru sekolah. Takut salim sama kiai. Dan takut silaturahmi sama keluarga sendiri.

Saya tentu tak bisa bilang bahwa pertanyaan kapan rabi adalah pertanyaan yang tidak beretika. Sebab, bagaimana mungkin guru-guru saya, Pak kiai, atau mbah-mbah dan tante-tante saya tidak punya etika.

Jangan-jangan memang kita, generasi milenial, yang punya standar terlalu tinggi soal etika.

Ditanya sedikit soal “Kapan rabi” langsung teriak “Dasar nggak punya empati!”

Terakhir diperbarui pada 9 Oktober 2018 oleh

Tags: jombloLebaranNikahsowan
Agus Mulyadi

Agus Mulyadi

Blogger, penulis partikelir, dan juragan di @akalbuku. Host di program #MojokMentok.

Artikel Terkait

Pengunjung Candi Pramabanan di Jogja selama Lebaran 2026. (sumber: InJourney)
Kilas

InJourney Sukses Dapat Untung selama Arus Mudik dan Lebaran 2026 dengan Tata Kelola yang Optimal

2 April 2026
Menyesal Sarapan Gudeg Jogja setelah Jadi Korban Nuthuk Rega (Unsplash)
Pojokan

Ketika Orang Jogja Dibuat Menyesal Sarapan Gudeg Jogja karena Jadi Korban Nuthuk Rega

25 Maret 2026
Stasiun Tugu Jogja lebih buruk dari Stasiun Lempuyangan. MOJOK.CO
Catatan

Kapok Naik Kereta Eksekutif karena Turun di Stasiun Tugu Jogja, Keluar Stasiun Langsung Disuguhi “Ujian Nyata”

25 Maret 2026
Lebaran 2026, Lebaran Penuh dengan Kabar Buruk dan Sakit Hati
Pojokan

Lebaran 2026, Lebaran Penuh dengan Kabar Buruk dan Sakit Hati

24 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ribetnya urusan sama pesilat. Rivalitas perguruan pencak silat seperti PSHT dan PSHW (SH Winongo) bikin masalah sepele jadi alasan rusuh MOJOK.CO

Makin Muak ke Ulah Pesilat: Perkara Tak Disapa Duluan dan Beda Perguruan Langsung Dihajar, Dikasih Fakta Terang Eh Denial

7 April 2026
Kuliah soshum di PTN merasa gagal karena tak jadi wong untuk orang tua

Lulusan Soshum Merasa Gagal Jadi “Orang”, Kuliah di PTN Terbaik tapi Belum Bisa Penuhi Ekspektasi Orang Tua

6 April 2026
Kerja di Pabrik, Kuliah S2, dan Dihajar Asam Lambung MOJOK.CO

Kerja di Pabrik, Kuliah S2, dan Dihajar Asam Lambung

6 April 2026
Gagal seleksi PPPK dan CPNS meski daftar di formasi PNS atau ASN sepi peminat. Malah dapat kerja yang benefitnya bisa bungkam saudara yang sebelumnya menghina MOJOK.CO

Gagal Seleksi CPNS di Formasi Sepi Peminat Dihina Bodoh, Malah Dapat Kerjaan “di Atas” ASN Langsung Bungkam Penghina

9 April 2026
Innova Reborn: Mobil Keluarga yang Paling Punya Adab (Wikimedia Commons)

Ketika Bapak Semakin Ngotot Membeli Innova Reborn untuk Jadi Mobil Keluarga, Anak-anaknya Khawatir Hidup di Desa Jadi Cibiran Tetangga

4 April 2026
Derita Pedagang Es Teh Jumbo: Miskin, Disiksa Israel dan Amerika MOJOK.CO

Semakin Berat Perjuangan Pedagang Es Teh Jumbo: Sudah Margin Keuntungan Sangat Tipis Sekarang Terancam Makin Merana karena Kenaikan Harga

9 April 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026
Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.