Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Ditinggal Nikah Sahabat Tak Kalah Nyesek dari Ditinggal Nikah Mantan

Aprilia Kumala oleh Aprilia Kumala
27 Desember 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Teman kondangan yang tadinya berjumlah satu RT, tiba-tiba berubah jadi satu dasawisma, hingga satu meja kelas saja. Yah, namanya juga ditinggal nikah sahabat!

Di usia 22 tahun, seorang sahabat saya menikah. Saya bahagia, datang ke acara akad dan resepsinya sambil bergembira, berfoto bersama sahabat-sahabat yang lain. Kemudian, berturut-turut, pada usia selanjutnya sampai ke usia saya sekarang, ‘sahabat-sahabat yang lain’ ini mulai naik ke pelaminan satu per satu. Teman kondangan saya yang tadinya satu RT, tiba-tiba berubah jadi satu dasawisma, hingga satu meja kelas saja.

Ya, ya, ya, kalau orang-orang banyak yang sedih membayangkan ditinggal nikah mantan, agaknya mereka lupa bahwa ditinggal nikah sahabat tak kalah pedihnya.

*siapin tisu*

O, jangan salah sangka. Berita pernikahan sahabat tentu menjadi hal menyenangkan bagi kita. Iya, kan, Ladies??? Yang menjadi buntut-buntut dari kegalauan adalah pertanyaan tak berkesudahan: nanti kita main sama siapa, dong???

Dulu, seorang sahabat yang baru selesai curhat pada saya, lantas bertanya, “Kalau kamu suatu hari nikah, aku gimana, ya?” Demi melihat muka saya yang shock, dia melanjutkan, “Maksudnya, kita kan nggak bisa sebebas ini lagi ketemu, terus main sampai lamaaaaa banget.”

NAH ITU DIAAA!!!!11!!!!1!!!

Ketakutan terbatasnya kesempatan berjumpa dengan sahabatlah yang akan menghantui kita. Kalau biasanya kita makan kuaci bareng (dia yang ngupasin, kita yang makan kacangnya), nonton film bareng (dia yang pesenin online dan transfer, kita ngganti uangnya pas filmnya udah selesai), jalan-jalan bareng (dia yang jemput kita di kosan soalnya kita nggak bisa naik motor), atau bahkan belanja bareng dan muter-muter nggak jelas, apakah kita bisa mengalami hal itu lagi, sementara dia sudah harus fokus mengurus suaminya dan—kelak—anak-anaknya???

Ya, Saudara-saudara, keberadaan anak tentu tidak bisa dipisahkan dari hubungan pernikahan. Meski bayi itu lucunya kebangetan dan bikin kita ikut senang karena dipanggil onty, bayi-bayi inilah yang bisa saja menjadi ‘penghalang’ bagi urgensi kita menghubungi sahabat. Pernah, suatu hari, hati saya patah berkeping-keping dan satu-satunya hal yang ingin saya lakukan adalah bercerita pada sahabat saya. Di WhatsApp, balasannya sederhana: “Nanti, ya. Aku aja yang telepon. Habis anakku tidur, ya.”

(((“Habis anakku tidur, ya.”)))

O, tidak, tidak, tentu saja saya tidak membenci anak sahabat saya. Saya hanya tersadar bahwa sahabat saya sudah menikah dan saya harus bisa menghargai batasan-batasan alami yang muncul berdasarkan waktu yang berjalan. Eaaa~

Bukan cuma soal hubungan antara kita dan si sahabat, keadaan mental kita pun bisa saja goyang-goyang kayak mainan boneka per di dashboard mobil. Kita yang tadinya biasa-biasa saja terhadap umur dan pernikahan, tahu-tahu jadi panik gara-gara semua tamu di kondangan pernikahan sahabat seakan-akan bertanya, “Kamu kapan nyusul??? Temenmu aja udah nikah, masa kamu belum???”

Hadeeeeh, emangnya nikah itu pendaftaran anak baru di SMA, sampai harus bareng-barengan??? Emangnya nikah itu karnaval 17 Agustus, sampai harus bareng-barengan??? Kok dulu pas kita lulus kuliah duluan, si sahabat nggak ditanya kayak gitu juga, sih??? Apakah karena lulus kuliah tidak seseksi pencapaian menikah???

Meski menyebalkan, keadaan ini memang bisa membuat hati dag-dig-dug, atau bahkan jug-gijag-gijug seperti kereta malam. Apalagi, lama-lama, sahabat-sahabat kita pun mulai dinikahi pasangannya satu per satu. Ketakutan-ketakutan seperti “Kok aku belum nikah-nikah juga, ya, padahal temenku anaknya udah 12???”, “Kok aku belum ada yang ngelamar, ya, padahal aku udah pasang lowongan di koran???”, atau “Kok pacarku belum ngajak-ngajak nikah, ya? Jangan-jangan orang tuanya nggak bisa menerima aku jadi menantu???” pun berlari-larian di kepala tanpa henti. Sialnya, kegelisahan ini pun harus disimpan dulu dalam-dalam, mengingat sahabat tempat kita curhat sedang sibuk mengurus suami dan bikin MPASI.

Iklan

Tapi begini, Ladies-ladies yang dimuliakan Allah~

Meski ditinggal nikah sahabat itu cukup nyesek dan tak kalah gemuruhnya dibandingkan dengan ditinggal nikah mantan, kita tetap harus bersikap realistis. Sampai kapan kita mau meratap dan menangis dalam kesendirian? Lagi pula, sahabat kita kan sedang bergembira—masa iya kita malah sedih dan nangis-nangis?

Saran saya, luapkan sedihmu dalam ucapan dan doa pernikahan saja. Titik. Tak perlu berlama-lama pasang muka sedih di depannya—bukankah itu justru membuatnya terbebani? Percayalah, dia pasti merasakan hal yang sama denganmu, tapi jodohnya sendiri sudah tiba. Nggak mungkin kan dia nikahnya nungguin kamu juga, padahal kamu aja masih jomblo dan belum pengin nikah??? Hmm???

Dengan ditinggal nikah sahabat, kamu sesungguhnya sedang belajar hal baru: bagaimana kamu bisa fokus pada dirimu sendiri, belajar pergi ke kafe dan nongkrong sendirian, belajar nonton film di bioskop sendirian, atau bahkan mencari teman dekat baru, tanpa perlu melupakan si sahabat. Ingat: kamu dan dia akan tetap bersahabat selamanya. Uwuwuwu~

Yaaah, bedanya sekarang, sih, cuma satu: dia kini bisa bergerak mendekat ke telingamu dan berbisik, “Kamu kapan nikah, Mblo, kayak aku?” lalu menertawakan kita 3 hari 3 malam. KZL!!!

Terakhir diperbarui pada 12 Agustus 2021 oleh

Tags: ditinggal nikah sahabatjodohKapan NikahkondanganMantanresepsi pernikahan
Aprilia Kumala

Aprilia Kumala

Penulis lepas. Pemain tebak-tebakan. Tinggal di Cilegon, jiwa Banyumasan.

Artikel Terkait

Lebaran.MOJOK.CO
Sehari-hari

Lebaran adalah Neraka bagi Pekerja Usia 30 tapi Belum Menikah, Sudah Mapan pun Tetap Kena Mental

8 Maret 2026
Katolik Susah Jodoh Tolong Jangan Login dan Ambil Jatah Kami MOJOK.CO
Esai

Cari Pasangan Sesama Katolik itu Susah, Tolong Jangan Login dan Ambil Jatah Kami

13 November 2025
Mereka yang Disuruh Putus Orang Tua Pacar karena Bukan Mahasiswa: Sakit, tapi Tak Perlu Repot-repot Kasih Pembuktian MOJOK.CO lebaran
Liputan

Cerita Pilu 2 Pria yang Hubungannya Kandas Menjelang Lebaran, Ada yang Bawa-bawa Agama dan Dianggap Tak Punya Masa Depan!

9 April 2024
Sinar Jaya, Sleeper Bus Saksi Gagal Menikahi Mantan MOJOK.CO
Otomojok

Sleeper Bus Sinar Jaya Sukses Membangkitkan Kenangan Pahit Setelah Saya Gagal Menikahi Mantan

20 Maret 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Geger Sepehi 1812: Bukti Keteguhan Sri Sultan Hamengkubuwono II Menolak Tunduk pada Penjajah.MOJOK.CO

Geger Sepehi 1812: Bukti Keteguhan Sri Sultan Hamengkubuwono II Menolak Tunduk pada Penjajah

5 April 2026
Gaya hidup pemuda desa bikin tak habis pikir perantau yang merantau di kota. Gaji kecil dihabiskan buat ikuti tren orang kaya. MOJOK.CO

Gaya Hidup Pemuda di Desa bikin Kaget Perantau Kota: Kerja demi Beli iPhone Lalu Resign, Habiskan Uang buat Maksa Sok Kaya

6 April 2026
Jogja Bisa Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung MOJOK.CO

Jogja Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung 

8 April 2026
Warga Desa Sebenarnya Muak dengan Orang Kota yang Datang Buat Sok Slow Living: Arogan, Tak Membaur, Anggap Warga Asli Cuma “Figuran” MOJOK.CO

Tiga Kali Gagal Seleksi CPNS, Pas Sudah Diterima Jadi ASN Malah Tersiksa karena Makan “Gaji Buta”

7 April 2026
Lulusan farmasi PTS Jogja foto keluarga

Lulusan Farmasi PTS Jogja Bayar Mahal untuk Wisuda, tapi Gagal Foto Keluarga karena Ayah Harus Dirawat di Rumah Sakit Jiwa

7 April 2026
Jurusan Kebidanan Unair tolong saya dari kekecewaan gagal kuliah di Kedokteran. MOJOK.CO

Tinggalkan Mimpi Jadi Dokter karena Merasa Bodoh dan Miskin, Lulus dari Jurusan Kebidanan Unair Malah Bikin Hidup Lebih Bermakna

6 April 2026

Video Terbaru

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.