Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Ciri Orang Indonesia Itu Pemberi Maaf, Baik Hati, dan Beriman

Arman Dhani oleh Arman Dhani
18 November 2017
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

[MOJOK.CO] “Sudah banyak masalah yang terjadi, tapi tetap bisa memberi maaf.”

Sudah, sudah, jangan diteruskan membahas Setya Novanto. Dia bukan Ahok yang kafir, bukan pendiri Traveloka yang dituduh walkout juga kebetulan kafir, dia masih sesama muslim, sama seperti pemilik First Travel dan Ustadz Lutfi Hasan Ishaaq yang dizalimi.

Saya sebagai umat yang beragama sama dengan Setnov merasa kita tidak adil. Bukankah ciri umat yang baik itu adalah saling mengingatkan, saling memaafkan, dan saling menjaga saudara? Kecuali yang agamanya beda.

Kalaupun benar Akhi Setnov ini bersalah di kasus e-KTP ya itu kan kekhilafan belaka. Sama juga dengan khilafnya beliau di kasus papa minta saham di Freeport atau Bank Bali dulu. Beliau ini kan tak pernah menghina umat Islam dengan menyebut Surah Al-Maidah itu dibuat menipu. Tolong jangan campurkan antara dunia dan akhirat, politik, dan umat. Saya kira kita tak perlu melanjutkan perisakan dan mengganggu Akhi Setnov. Biarlah dia beristirahat dan sembuh dulu. Jangan diganggu

Lelucon tentang Setnov ini sudah mulai tidak lucu. Bukan, bukan karena betapa hukum di Indonesia diinjak-injak, akal sehat kita diberakin, dan seluruh keadilan dianggap seperti sampah. Atau karena kita dibuat ketawa-ketawa dan duit pajak kita dipakai buat belain pesakitan yang menghindari hukum, tapi karena beliau, sebagai muslim, kehormatannya dirusak. Masyaallah, betapa kita sebenarnya tengah memakan bangkai saudara sendiri. Kita mencari keburukan orang lain untuk disebarluaskan. Ayo, minta maaf.

Lagi pula KPK ini lembaga thagut yang demikian kejam terhadap umat muslim. Dari Ustadz Lutfi sampai Patrialis Akbar, semua ditangkapi, tapi terhadap kafir mereka diam saja! Luar biasa.

Rezim ini demikian kejam terhadap umat. Coba pemilik First Travel itu kan mewujudkan mimpi ribuan umat yang ingin umroh, tapi malah ditangkap dan dituduh menggelapkan dana umat. Salah mereka apa coba? Kami ini merindukan Mekkah, merindukan Kakbah, merindukan tanah kelahiran Rasulullah. Kalau bisa kami ingin menyusul Imam Besar Rizieq Shihab, betapa beruntungnya beliau, bisa tinggal lama-lama di sana tanpa harus peduli masalah visa, masalah kewarganegaraan, tidak diekstradisi seperti para buruh migran.

Pemerintah ini juga adalah yang sama yang menutup mata terhadap pengungsi Rohingya, tapi mempersilahkan jutaan warga aseng masuk ke Indonesia. Meski sudah sering ketahuan bohong dan fakta bahwa bahwa pekerja ilegal asal Tiongkok jumlahnya mungkin sama banyak dengan pelancong lendir di Puncak, tapi kan yang penting pemerintah ini salah. Mereka kan bisa memberikan tempat penampungan sementara bagi muslim Rohingya, masak kami umat ini yang harus menerima, pengungsi ini kan ngerepotin, banyak minta, nyusahin lagi. Persatuan umat itu penting, asal bukan saya yang menangani.

Hanya di bawah pemerintah Jokowi umat muslim jumlahnya terus menurun. Kalo nggak percaya, tanya Ketua Yayasan Rumah Peneleh, Aji Dedi Mulawarman. Kata dia, ketika pemeluk Islam secara global naik signifikan, di Indonesia yang merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia persentasenya malah menurun.

“Umat Islam (di Indonesia) dari 95 persen menjadi 85 persen, ada anomali di dalam pusat Islam di Nusantara,” kata Aji.

Ada agenda liberalisme, individualisme, deislamisasi, dan depolitisasi yang membuat umat semakin tersisih. Contohnya, saat ini PKS sering dihina dan secara sistematis ada yang berniat menghancurkan, bukan karena kadernya banyak yang ditangkap KPK. Selain itu turunnya umat Islam di Indonesia juga karena rezim ini membiarkan perusakan akidah dan tauhid. Bukan karena pertumbuhan penduduk karena reproduksi apalagi karena memang program KB berhasil. Umat Islam sedang dalam ancaman, populasinya terus menurut dalam lima tahun terakhir!

Misalnya begini, katakan saat ini jumlah penduduk Indonesia ada 250 juta. 200 juta di antaranya beragama Islam, tapi yang Islam ini 80 juta orang NU, membolehkan tahlil dan ziarah kubur, jelas bid’ah, maka bukan islam.

Sisa 120 juta. Yang 120 juta ini 30 juta Muhammadiyah diwakili oleh Prof. Syafi’i Ma’arif yang membela Ahok, maka bukan Islam.

Sisa 90 juta orang Islam. Nah yang 70 juta tidak masalah dengan pemimpin kafir, membela hak minoritas, dan menjaga kerukunan antar-umat beragama, jelas ini bukan nilai-nilai tauhid yang benar. Maka, sisanya 20 juta saja.

Iklan

Nah dari 20 juta, 18 juta ini merasa bahwa Gus Mus, Prof. Quraish Shihab, dan Kyai Said Aqil Siraj itu ulama. Jelas sudah yang 18 juta ini sesat. Dengan demikian, yang benar-benar umat Islam di Indonesia hanya 2 juta.

Itulah kenapa saya berharap kita berhenti mengejek Setnov. Emang salah dia apa sih sampai kalian demikian marah? Emang dia menghina Al-Quran? Kan tidak. Emang dia menganggap jilbab itu tidak wajib? Kan tidak. Emang dia bilang Syiah itu Islam? Kan tidak.

Dia hanya diduga memiliki kaitan dengan kasus korupsi e-KTP yang menggunakan dana pajak dan menjadi pejabat publik yang korup. Tidak ada larangan agama yang dilanggar oleh Setnov. Dia juga tidak menghina Islam seperti yang dilakukan oleh Ahok. Kenapa sih kalian menghinanya?

Pak Setnov ini kan tidak mendatangi kontrakan orang buat berzina. Jadi nggak perlulah kita permalukan, apalagi suruh telanjang, sambil direkam.

Sebagai umat beragama, kita lakukan persekusi hanya kepada yang lebih lemah, jangan yang lebih kuat, apalagi yang berkuasa.

Untuk itu, saya mendorong agar sesama umat berhenti menghina saudara seagama. Pak Setnov itu sudah banyak sekali jasanya kepada kita. Tanpa dia, kita tidak akan punya variasi bentuk surat identitas kependudukan. Kalau dulu bentuknya hanya KTP, sekarang kita bisa punya surat blanko sebesar A4 sebagai penanda identitas, banggalah kita yang lebih maju dari Ghana.

Pak Setnov toh juga nggak lagi lepas jilbab. Lha piye, wong dia laki-laki.

Terakhir diperbarui pada 20 November 2017 oleh

Tags: AgamadprIslamjokowiKPKMaafMuslimPKSPolitik IndonesiaRezim JokowisetnovSetya NovantoUmat Islam
Arman Dhani

Arman Dhani

Arman Dhani masih berusaha jadi penulis. Saat ini bisa ditemui di IG @armndhani dan Twitter @arman_dhani. Sesekali, racauan, juga kegelisahannya, bisa ditemukan di https://medium.com/@arman-dhani

Artikel Terkait

Nasib Yamaha Byson Baru yang Dicintai Setelah Tak Bisa Dimiliki MOJOK.CO
Otomojok

Nasib Yamaha Byson dan Paradoks Benda yang Baru Dicintai Setelah Berhenti Diproduksi dan Tak Bisa Dimiliki Lagi

2 Juli 2026
Gus Ipul, Awas Kutukan Sepatu Hitam di Sekolah Rakyat MOJOK.CO
Esai

Gus Ipul, Awas Kutukan Sepatu Hitam di Sekolah Rakyat 

11 Mei 2026
Penyebab Tokoh Agama dan Kaum Intelektual Melakukan Pelecehan Seksual MOJOK.CO
Tajuk

Penyebab Tokoh Agama dan Kaum Intelektual Melakukan Pelecehan Seksual

20 April 2026
Habis Doa Langsung Goyang- Cara Orang Indonesia Menjalani Agama yang Bikin Orang Pakistan Iri MOJOK.CO
Esai

Habis Doa Langsung Goyang: Cara Orang Indonesia Menjalani Agama yang Bikin Orang Pakistan Iri

17 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Impact of Asia Limited (IOA) Global Pte Ltd Singapura jajaki kerja sama jangka panjang dengan Jawa Tengah lewat investasi manufaktur hingga pengembangan SDM MOJOK.CO

Peluang Investasi dan Kesempatan Pelatihan di China bagi Anak Muda Jateng

14 Juli 2026
Milenial di Job Fair Yogyakarta 2026 cari peluang kerja di luar negeri. MOJOK.CO

Muak dengan Syarat Kerja di Indonesia: Gaji Numpang Lewat hingga Terbatas Usia, Milenial Pilih Cari Kerja ke Luar Negeri

16 Juli 2026
Jumirah dan suami merupakan pemulung di TPA Troketon, Klaten. MOJOK.CO

“Nrimo ing Pandum” ala Ibu Jumirah: Berteman dengan Belatung dan Diabetes di Tengah 150 Ton Sampah Residu Warga Klaten

12 Juli 2026
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kerja sama dengan Australia. MOJOK.CO

Satu Dekade Jogja dengan Melbourne Symphony Orchestra: Bukti Orkestra Nggak Melulu Kaku bahkan Bisa Dinikmati Sambil Lesehan

15 Juli 2026
Pemuda asal Garut sukses jadi konten kreator perjalanan dengan modal ijazah SD. MOJOK.CO

Nekat Keliling Indonesia Bermodal Ijazah SD, Mantan Pedagang Es Krim Asal Garut Ini Malah Sukses Jadi Konten Kreator Perjalanan

17 Juli 2026
Cerita Pencari Kerja Difabel datang ke Job Fair Ditemani Ibu: ‘Semua Orang Punya Kemampuan asal Diberi Kesempatan’.MOJOK.CO

Cerita Jobseeker Difabel datang ke Job Fair Ditemani Ibu: ‘Semua Orang Punya Kemampuan asal Diberi Kesempatan’

17 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.