Melihat orang-orang (mungkin Anda salah satunya) menghujat Buya Syafii Maarif karena sikap beliau atas pernyataan Ahok di Kepulauan Seribu, saya jadi teringat peristiwa nun di masa lalu.

Entah waktu itu saya kelas tiga atau empat SD, saya lupa persisnya. Yang jelas, ibu guru kami sedang membahas soal-soal yang baru saja selesai dikerjakan para murid.

“Yak, soal nomor lima. Kucing makan… titik-titik. Titin, apa Tin?”

Titin alias Rosmi Agustina, anak berpipi nyempluk dan agak pendiam itu, menjawab dengan ragu sambil menengok lembar jawaban di hadapannya. “Balung, Bu…”

Yang dimaksud Titin dengan ‘balung’ adalah ‘tulang’. Zaman itu, banyak di antara kami yang belum pada lancar berbahasa Indonesia. Bahkan saya ingat, bahasa Jawa menjadi bahasa pengantar sehari-hari di TK.

Bu Guru langsung menyalahkan Titin. “Salaaah! Yang benar, kucing makaan… tikuuus…!”

Titin melongo. Sedetik ia terdiam memandang Bu Guru. Wajahnya kaget, dan tampak jelas sebenarnya Titin sangat ingin menyampaikan sesuatu.

Malang, iklim ruang-ruang kelas pada masa itu berbeda dengan sekarang. Kebiasaan dan kemampuan berartikulasi, menyampaikan pendapat, apalagi mendebat guru, belum mentradisi. Maka Titin pun terdiam, memendam kecewanya dalam-dalam. Ia mengangguk saja, pasrah tanpa daya.

Dari lubuk nalar terdalamnya, barangkali Titin sangat ingin melontarkan protes. Sebab jawaban yang ia berikan tadi bukan mengada-ada. Kucing kesayangannya memang suka sekali makan tulang ayam sisa makan malam Titin sekeluarga. Kucing Titin juga sama sekali tidak pernah kepergok ngembat tikus.

Namun itu cuma imajinasi saya. Sebab sangat mungkin pula, justru Titin sungguh-sungguh merasa bersalah. Dia akan membenarkan Bu Guru. Dia akan menyesal, kenapa membocorkan aib bahwa kucingnya makan tulang. Padahal seharusnya kucing cuma makan tikus. Tikus adalah makanan resmi bangsa kucing yang diakui oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Itulah kucing yang benar. Kucing yang taat AD/ART.

Lho, lantas kenapa Si Meong makan tulang dan bukan tikus? Oh, itu pasti karena dia cuma kucing jadi-jadian. Kucing ngepet! Dia tidak layak disebut kucing!

Titin adalah kita. Kita di hari ini adalah produk pendidikan dasar di masa lalu. Pendidikan yang menutup kesempatan untuk sedikit berbeda dengan pakem. Pendidikan yang tidak memberikan peluang bagi opsi-opsi pandangan di luar arus utama.

Produk pendidikan semacam itulah, boleh jadi, yang memunculkan masyarakat ekstrem, masyarakat yang melihat segala hal di kehidupan ini sebagai dua kutub biner saja: serba hitam, atau serba putih.

Maka, demikianlah. Ketika Buya Syafii menyatakan “tidak melihat bahwa Ahok menghina Islam”, serta merta orang-orang itu dengan haqqul yaqin menganggap beliau sama dan sebangun dengan “mendukung Ahok”, “antek Ahok”, atau yang lebih ganas lagi: “membela penista Al-Quran”.

Padahal, jika membaca beberapa kesaksian dari eksponen muda Muhammadiyah sendiri, duduk perkaranya bisa jauh lebih terang.

Lihat misalnya di sebuah situs web anak-anak muda Muhammadiyah, Erik Tauvani Somae menulis dengan judul “Tentang Aksi 411, Kritik Buya Syafii untuk Ahok dan Jokowi yang Harus Anda Ketahui”. Juga Iwan Setiawan, Ketua PW Pemuda Muhammadiyah DIY, yang menulis “Buya Syafii: Ahok itu Mulutnya Kasar dan Tak Mengerti Agama”. Silakan gugling sendiri buat yang belum baca.

Dari kedua tulisan itu, bisa diringkas kira-kira seperti inilah sikap Buya Syafii:

Satu, Buya tidak suka lisan kasar Ahok (bahkan sampai menyebutnya ‘mulut berbisa’).

Dua, Buya melihat di belakang Ahok ada kekuatan Sembilan Naga.

Tiga, Buya mengkritik pemerintahan Jokowi yang terlalu mendekat ke Tiongkok, padahal arus kekuatan dari sana bisa mengancam NKRI. (Terkait poin nomor 3, bahkan Buya Syafii menuliskannya secara gamblang di sebuah media massa nasional).

Begitulah garis besarnya.

Meski demikian, sikap-sikap tersebut merupakan satu soal saja. Adapun tentang pernyataan Ahok di Kepulauan Seribu, itu sudah soal lain. Secara objektif (dalam konteks ini artinya terlepas dari sikap Buya kepada “bahaya kuning”), Buya tidak melihat kalimat Ahok menista Al-Quran dan agama Islam. Wis, itu saja.

Malang sekali, para pencela di kiri dan kanan Buya sudah kalap. Mereka telah menetapkan hukum sendiri: “Hikmah peristiwa ini adalah untuk menegaskan siapa saja yang benar-benar membela Islam, dan siapa saja yang munafik!”

Walhasil, karena Buya Syafii berkukuh dengan pandangannya bahwa kalimat Ahok tidak menghina Islam, jatuhlah stempel munafik pada wajah beliau. Duh Gusti. Padahal sikap Buya tersebut semata terkait “kalimat yang diucapkan Ahok di Kepulauan Seribu”. Bukan tentang “diri Ahok”.

Melihat itu semua, tiba-tiba saya teringat George W. Bush, Presiden Amerika penggemar perang itu. Dalam memerangi terorisme, pada tahun September 2001 Bush membuat pernyataan arogan. “Every nation, in every region, now has a decision to make. Either you are with us, or you are with the terrorists.” Mau bersama kami, atau bersama teroris!

Bangsat sekali memang, itu orang. Seolah semua pihak yang tidak sudi membebek Amerika artinya satu barisan dengan teroris. Seolah mustahil ada negara yang tetap anti-terorisme, namun di sisi lain juga melihat bahwa Amerika adalah teroris yang sesungguhnya.

Saya juga ingat Titin lagi. Karena kucing wajib makan tikus, maka jika ada hewan yang makannya ikan tongkol, apalagi pelet campur wiskas, sudah pasti 100% dia bukan kucing.

Ini mengerikan. Sekarang orang jadi takut berpendapat bahkan atas satu kasus yang debatable, karena stempel mudah sekali diketokkan.

Malam tadi, saya membaca tulisan Denny Indrayana, mantan Wamenkumham. Hanya karena harus menyampaikan pandangan sesuai kapasitas keilmuannya, yakni “andai Ahok jadi tersangka, secara perundang-undangan dia tetap berhak menjadi peserta Pilkada”, Denny harus menegaskan dengan sangaaaat berhati-hati bahwa dirinya bukan pendukung Ahok. Padahal Denny memang paham perkara hukum dan perundangan. Mestinya tak perlu lah dia harus menghiba-hiba menyatakan dirinya bukan pendukung Ahok. Tapi ya gimana lagi, situasinya memang begini. Kasihan sekali saya melihat Denny.

Saya yakin tulisan ini pun nasibnya bakal sama. Maka seperti halnya Denny Indrayana, izinkan saya menegaskan sikap saya, bahwa setiap penista agama di Indonesia harus diadili. Saya sepakat dengan itu, sama persis dengan Anda. Lebih jauh lagi, sebagai seorang muslim, saya pun pasti tersinggung jika agama saya dilecehkan. Lagi-lagi pandangan dan keyakinan kita sama.

Perbedaannya cuma di satu hal: Anda yakin Ahok menghina Islam, sementara saya cerna kalimatnya tidak bermuatan penghinaan kepada Islam.

“Lho, bukannya MUI sudah memutuskan Ahok menghina Islam? Anda muslim? Kenapa tidak percaya MUI?”

Sabar, Mas. Buya Syafii pun melihat MUI agak gegabah. Beribu maaf, dalam hal ini saya sepakat dengan beliau.

Mari kita ambil pembanding saja. Daging babi jelas haram, soal itu MUI pasti paham. Namun ketika ada orang bilang snack X mengandung babi, MUI tidak langsung menyatakan snack X haram. LPPOM MUI memastikan dulu apakah camilan X tersebut benar-benar mengandung babi. Jika ternyata hasilnya positif babi, barulah Komisi Fatwa MUI ketok palu menyatakan snack X haram.

Nah, demikian juga dengan ujaran-ujaran orang. MUI sangat paham bahwa penghinaan kepada Islam harus dilawan. Saya 100% setuju itu. Tapi apakah sebuah ujaran dari tokoh A di tanggal B benar-benar bermuatan penghinaan, Komisi Fatwa MUI semestinya bertanya dulu kepada ahlinya. Semacam LPPOM, tapi kali ini yang paling memahami perkara bahasa dan komunikasi. Kalau si ahli menyatakan ujaran tersebut positif menghina Islam, barulah mereka menurunkan fatwa.

Sependek pengetahuan saya, dalam peristiwa yang lalu telah terjadi shortcut. Sebuah rentetan kalimat yang multitafsir dan kontroversial tidak dibedah dulu secara ilmu bahasa atau psikologi atau komunikasi, melainkan langsung dinilai oleh ulama dari perspektif agama. Itu ibaratnya minuman Anu diisukan mengandung alkohol, lantas tanpa diteliti oleh LPPOM ujug-ujug Komisi Fatwa memutuskan Anu haram.

Tapi… sudahlah. Saya tidak berani bicara lebih jauh. Takut.

Saya cuma mau bilang, bahwa bersama banyak umat Islam Indonesia lainnya, saya ingin bersama menemani Buya Syafii.

 

Komentar
Add Friend
No more articles