Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Ceramah Ustaz Abdul Somad yang Viral Itu Memang Ada Dasarnya, tapi…

Ahmad Khadafi oleh Ahmad Khadafi
20 Agustus 2019
A A
ceramah viral ustaz abdul somad salib berhala jin kafir

ceramah viral ustaz abdul somad salib berhala jin kafir

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Kepercayaan soal setan yang menempel di berhala memang ada, dalam istilah Ustaz Abdul Somad disebut “jin kafir”. Iya, memang ada dasarnya.

Sebagai keluarga dengan latar belakang pesantren cukup kental, saya “beruntung” dimasukkan ibu saya ke sebuah SD negeri. Tidak seperti 9 kakak saya yang masuk ke sekolah Islam sedari SD, dari yang madrasah ibtidaiyah di pesantren sampai SD islam swasta. Cuma saya sendiri yang SD-nya sekolah negeri.

Dari sekolah negeri ini pula saya jadi punya banyak sekali sahabat beda agama. Dari Hindu, Kristen, dan Katolik. Dan—harus diakui—ketika pertama kali berkenalan seorang teman yang berbeda agama, ada perasaan heran (saat masih kelas 1 SD), oh jadi si A itu Kristen, oh si B itu Katolik, dan sebagainya.

Saya juga jadi terbiasa main ke rumah teman saya yang Kristen atau Katolik, lalu dan untuk pertama kalinya, menyaksikan hiasan patung salib di rumah, atau melihat gambar dan patung di rumah teman saya yang Hindu. Bahkan juga kadang diajak main petak umpet di gereja. Hal yang kalau muncul fotonya saat ini, bisa jadi saya akan dianggap sebagai korban kristenisasi.

Persinggungan sejak kecil kayak gini bikin saya tak pernah masalah ketika bertemu salib atau masuk gereja saat ini. Patung Yesus atau salib bagi saya biasa saja. Tapi jangan salah, hal ini berbeda dengan anggota keluarga saya yang lain.

Mau setoleran apa pun, ketika seseorang yang sejak kecil tak terbiasa menyaksikan patung Yesus atau lambang salib, wajar belaka kalau ia akan merasa agak risih. Alasannya sederhana: nggak terbiasa. Itu pengalaman yang jarang dialami. Melihat salib, masuk gereja, atau bahkan melihat patung Yesus adalah sesuatu yang aneh.

Maka ketika ada seorang jamaah bertanya ke Ustaz Abdul Somad. “Apa sebabnya Ustaz, kalau saya menengok salib lalu menggigil hati saya?” itu wajar belaka. Lumrah. Dugaan saya, sepanjang hidup si penanya nggak pernah akrab bersinggungan dengan simbol agama lain—terutama lambang salib.

Dugaan ini muncul karena pertanyaan dari jamaah ini juga pernah saya alami. Bukan dengan salib, melainkan ketika ikut malam Waisak di Candi Borobudur untuk liputan beberapa tahun lalu.

Saat itu suasana Borobudur begitu ramai dengan biksu, di telinga saya rapalan-rapalan doa dari para biksu yang datang dari penjuru dunia benar-benar mengintimidasi. Hati saya bergetar mendengarnya. Entah karena takut, entah karena takjub. Satu hal yang saya tahu, saya merasa tidak betah.

Ini jelas berbeda ketika saya mendengar nyanyian-nyanyian di gereja atau bertemu dengan para suster di dekat rumah teman saya ketika kecil. Karena sudah terbiasa, saya biasa saja. Betah-betah saja. Jadi kesimpulan sementara saya, saya tak betah ya karena saya tak terbiasa ketika mendengar doa rapalan para biksu yang menggetarkan itu.

Oleh karena itu, ketidakbetahan itu, tidak serta-merta saya sandarkan dengan model jawaban Ustaz Abdul Somad. Yang langsung menjawab, “itu setan,” tanpa memberi elaborasi terlebih dahulu kepada jamaah yang bertanya. Atau tanpa perlu mengaitkan perkara “berhala” itu pada agama tertentu di Indonesia.

Tapi pertanyaannya, apakah yang dikatakan Ustaz Abdul Somad itu memang ada dasarnya? Maksudnya memang pernah ada ulama terdahulu membicarakan ini?

Baiklah, saya tidak ingin memperkeruh suasana, melainkan hanya memberi pandangan bahwa apa yang disampaikan Ustaz Abdul Somad bisa dicek, misalnya, di kitab Minan Al-Kubro karya Imam As-Sya’roni.

Sebenarnya sih penjelasan di kitab itu justru lebih ekstrem lagi. Bahwa setan merupakan pihak yang menggoda manusia untuk menyembah berhala karena memang ia masuk ke sana (entah patung, entah simbol). Hanya saja—ini yang jadi masalah bagi Ustaz Abdul Somad—harusnya tak perlu diterangkan “berhala” tersebut adalah berhala dari agama apa, kepercayaan mana, dan dari penganut apa.

Iklan

Saya pun, sedari ikut taman pendidikan Al-Quran (TPA) anak-anak sampai kemudian ngaji di pesantren, sudah tahu ada kepercayaan soal setan “menempel” di berhala (atau patung) seperti itu ada di agama saya. Bedanya, guru ngaji saya dulu tidak pernah secara spesifik menyebut berhala yang dimaksud itu merujuk pada agama apa. Sehingga sentimen terhadap agama lain tidak muncul.

Hal ini ditambah dengan pergaulan saya di SD. Sudahlah saya terbiasa melihat patung Yesus atau salib, main ke gereja pula—saya jelas tidak sebodoh itu bilang kalau di kepercayaan agama saya ada keyakinan bahwa berhala-berhala itu ada setan-nya ke teman saya. Sebab, meski itu keyakinan saya, tapi itu tak berarti memberi saya hak bicara seperti itu ke mereka.

Rasa sensitif atau tidak semacam ini bisa muncul karena sepele: pergaulan. Kalau saya hanya berteman dengan teman-teman yang seiman, kepekaan semacam itu tentu tak bakal ada. Bisa saja saya enteng menyebut apa yang saya percayai di hadapan mereka.

Beruntung sekali, sedari kecil saya sudah bergaul dengan teman-teman beda agama, jadi saya paham apa yang sensitif menurutnya dan apa yang tidak. Bahkan kami sering bercanda soal agama kami masing-masing, tapi tak pernah tuh sampai sakit hati—karena kami paham di bab apa saja teman saya bisa tersinggung dan di perkara apa saya bisa tersinggung.

Hal kayak gini sebenarnya tidak melulu persoalan agama, tapi juga kehidupan sosial. Misalnya, kamu cuma mau tinggal di rumah, tak pernah kenal tetangga-tetangga, hidup cuma di kamar doang, ya wajar kalau ketika ada ajakan gotong royong kamu merasa tak masalah tak ikut. Padahal bagi warga lain perilakumu kayak gitu bisa bikin sakit hati—meski kamu tak bermaksud bikin sakit hati. Inilah yang dinamakan matinya kepekaan.

Persoalan Ustaz Abdul Somad dan jamaah yang bertanya sebenarnya hanya pada: kurang gaul dengan sahabat-sahabat beda agama. Wajar kalau sensitivitas mereka jadi tidak ada. Karena rasa sensitif itu tidak ada, maka tak heran kalau masih ada saja pihak-pihak yang merasa Ustaz Abdul Somad tak perlu minta maaf.

Hal kayak gini jelas bukan persoalan apakah forum itu tertutup atau tidak, pengajiannya hanya terbatas atau tidak, tapi ini soal rasa menghormati kepercayaan umat agama lain. Mau itu di tempat tertutup atau terbuka, bicara secara spesifik ke agama tertentu jelas perkara yang tidak elok.

Malah, ketika itu diakui sebagai forum tertutup, justru lebih bikin sakit hati lagi. Ya iya dong, ini kan kayak kamu mergokin orang lain lagi bicara tentang kejelekanmu secara diam-diam.

Masa iya, begitu kamu kepergok kamu cuma bilang, “Ini forum tertutup kok. Kami membicarakan hal-hal jelek soal kamu, tapi kan tadi kamu tadi nggak tahu. Ya nggak apa-apa dong. Kan tadi waktu kita ngomong kamu nggak tahu.”

Lha kok enak?

BACA JUGA Benarkah Asap Sate Babi Najis?

Terakhir diperbarui pada 20 Agustus 2019 oleh

Tags: abdul somadsalibviral
Ahmad Khadafi

Ahmad Khadafi

Redaktur Mojok. Santri. Penulis buku "Dari Bilik Pesantren" dan "Islam Kita Nggak ke Mana-mana kok Disuruh Kembali".

Artikel Terkait

Kisah Perempuan Menikah dengan Bapak Kosnya Sendiri, Usia terpaut 20 tahun
Video

Kisah Perempuan Menikah dengan Bapak Kosnya Sendiri, Usia terpaut 20 tahun

30 Agustus 2023
ibu negara dihina mojok.co
Hukum

Ini Respon Gibran Saat Ibu Negara Dihina

19 November 2022
komikus penghina ibu negara mojok.co
Hukum

Komikus yang Hina Ibu Negara Diduga Kerap Bermasalah

19 November 2022
Mengenal agen asuransi yang lagi viral Mojok.co
Ekonomi

Viral Agen Asuransi Punya Penghasilan Miliaran

17 Oktober 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jumanah pedagang jamu parem kendil di pasar jangkang Yogyakarta. MOJOK.CO

“Ngopag” ala Lansia: Menikmati Jamu Parem Kendil yang Sudah Berdiri Sejak Tiga Generasi di Pasar Jangkang Yogyakarta

17 Februari 2026
motor matic vs honda revo tangguh.MOJOK.CO

Bertahun-tahun Jadi User Motor Matic, Memilih Beralih ke Honda Revo yang Nggak “Good Looking” demi Selamatkan Dompet dan Nyawa

24 Februari 2026
kuliah di austria, rasisme.MOJOK.CO

Kuliah di Austria Bikin Kena Mental: Sistem Pendidikannya Maju, tapi Warganya “Ketus” dan Rasis

20 Februari 2026
Sejahtera ekonomi di Negeri Jiran ketimbang jadi WNI. Tapi berat terima tawaran lepas paspor Indonesia untuk jadi WN Malaysia MOJOK.CO

WNI Lebih Sejahtera Ekonomi dan Mental di Malaysia tapi Susah Lepas Paspor Indonesia, Sial!

21 Februari 2026
Ramai, 'Cukup Aku Saja yang WNI': Saya Justru Bangga Melepas Status Warga Negara Austria Demi Paspor Indonesia MOJOK.CO

Ramai, ‘Cukup Aku Saja yang WNI’: Saya Justru Bangga Melepas Status Warga Negara Austria Demi Paspor Indonesia

20 Februari 2026
Rasa Sanga (1): Sunan Gresik Membawa Masuk Islam ke Jawa Lewat Dapur dan Semangkuk Bubur Harisah MOJOK.CO

Rasa Sanga (1): Sunan Gresik Membawa Masuk Islam ke Jawa Lewat Dapur dan Semangkuk Bubur Harisah

23 Februari 2026

Video Terbaru

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026
Rendra Agusta: Membaca Politik Indonesia dari Manuskrip Jawa Kuno

Rendra Agusta: Membaca Politik Indonesia dari Manuskrip Jawa Kuno

19 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.