Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Bahagianya Orang Jakarta Punya MRT yang Jadi Mainan Baru Jam Makan Siang

Audian Laili oleh Audian Laili
22 Maret 2019
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Masyarakat Jakarta tampak begitu semangat ikutan uji coba MRT. Bahkan jadi aktivitas baru yang terlihat menyenangkan di jam makan siang.

Mass Rapid Transit atau Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta, sudah bisa diuji coba sejak tanggal 12 Maret lalu. Lalu di tanggal 22-23 Maret ini, penggunaannya pun masih gratis. Proyek yang sudah jadi topik pembicaraan sekian lama tersebut, memang terus menerus mencuri perhatian.

Iklan

Proyek MRT Jakarta ini memang baru dimulai di era Jokowi saat beliau menjabat sebagai Gubernur. Namun sebetulnya, rencana pembangunannya sudah digagas sejak lama. Dilansir dari jakartamrt.co.id, rencana pembangunan ini sudah dirintis dan dikaji sejak tahun 1985. Namun ketika itu belum dinyatakan sebagai proyek nasional. Baru pada tahun 2005, Presiden Indonesia ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono, menegaskan kalau proyek ini menjadi proyek nasional. Dengan lika-liku yang panjang, akhirnya tahap kontruksi baru bisa dimulai pada Oktober 2013.

Di media sosial, teman-teman saya yang kerja di Jakarta kayaknya terlihat bahagia banget bisa menjadi bagian yang turut menguji coba naik MRT. Bahkan nih, dengan embel-embel moda transportasi yang sangat cepat, makan siang di stasiun lain pun dijabanin. Sebagai alasan bisa ikutan nyobain naik kereta yang cepat ini.

Bahkan, ada yang sampai bikin thread tentang kuliner di setiap stasiun. Ya, supaya calon penumpang yang lain punya bayangan lah, bakal turun di stasiun mana untuk makan siang. Kan emang tujuannya ikut uji coba naik MRT cuma buat jalan-jalan doang. Apalagi didaku sebagai kereta cepat, mereka pun ngerasa aman-aman aja. Yakin, nggak bakal telat sampai kantor lagi.

Ya, saya paham sih. Pasti kalau dulu-dulu mau makan di tempat yang agak jauh dari kantor, nggak bakal sempat. Jadi ketika ada alat transportasi dengan ‘garansi cepat’, langsung cuuusss. Seperti menjadi angin segar di tengah kebosanan.

Meskipun banyak pula yang menganggap, masyarakat Jakarta berbondong-bondong nyobaik MRT ini, sekadar biar kelihatan tetep gaul dan nggak ketinggalan tren. Selain itu, juga tetep nyambung kalau diajak ngobrol pas lagi nongkrong.

Tapi, apa pun itu, saya merasa turut berbahagia, kok.  Ngelihat orang Jakarta berbahagia punya hiburan baru di jam makan siang. Dengan kehadiran MRT ini, saya lihatnya mereka punya mainan baru yang cukup bikin excited. Soalnya ada aktivitas lain sebagai pemecah kebosanan di tengah rutinitas pekerjaan yang kelihatannya, begitu-begitu saja.

Kehadiran MRT ini bahkan disebut Jokowi sebagai budaya baru bagi Jakarta. Ke depannya, peradaban baru kita akan mengarah ke sana. Ke segala aktivitas yang sat-set, cepat, dan tentu saja nggak punya alasan untuk ngaret.

Jadi, MRT ini, katanya sih, diharapkan bisa menurunkan waktu tempuh dalam mobilitas masyarakat. Lantas, hal ini dapat meningkatkan mobilitas masyarakat dalam rutinitas keseharian. Dampaknya kemudian, bisa memberikan peningkatan maupun pertumbuhan ekonomi. Lebih jauh lagi, bisa meningkatkan kualitas hidup masyarakat Jakarta. Ya, bisa dipahami, sih, dengan aktivitas orang-orang Jakarta yang banyak ngabisin waktu di jalanan, transportasi ini—seolah—jadi solusi.

Walau saya ikut bahagia dengan saudara-saudara saya di Jakarta. Sebetulnya, saya nggak peduli-peduli amat sama si MRT ini. Ya mohon maaf, nih. Meski itu jadi proyek nasional, kan itu semua cuma terjadi di Jakarta doang. Orang-orang semacam saya yang tinggal di daerah, tetep aja nggak ngerasain gimana enaknya naik MRT. Tapi berita tentang kehadirannya, kok kayaknya puenting bianget, yak? Seolah betul-betul menjadi prestasi nasional pemerintah.

Iya, iya, saya tahu. Kan kata presiden kita, itu memang menjadi proyek yang dimulai beliau sama Ahok saat menjabat dulu. Jadi, meski udah nggak ngurusin Jakarta, yang ada bau-bau prestasi gini, tetap harus disebarkan ke seluruh pelosok negara. Beda sama proyek nasional revolusi mental yang dulu digaung-gaungkan. sekarang, apa kabar, tuh? Eh, lupa. Bukan proyek ding, itu kan, gerakan nasional.

Dikarenakan MRT ini memang proyek nasional. Jadi, pasti niatnya Jokowi bukan buat jumawa. Cuma ya, dasar media kita aja yang Jakarta-sentris melulu. Seolah-olah sesuatu yang ideal, harus sesuai dengan standar Jakarta. Seakan untuk menjadi kece itu harus dengan gaya hidup ibukota. Atau bahkan merasa keren, kalau udah bisa ngobrol dengan gaya bahasa Jakartaan.

Mungkin, ya, lebih baik buat masyarakat Jakarta, nggak usah pamer berlebihan. Lantaran udah bisa naik MRT yang digadang-gadang sebagai transportasi masa depan ini. Begini, loh, di beberapa daerah, paling mentok cuma ada KRL. Yang murah, tapi keadaannya… begitu lah. Bahkan di luar Jawa dan Sumatera, masih belum ngincipin transportasi kereta, loh. Terus kalau mereka-mereka ini iri dan memutuskan untuk memisahkan diri, gimana? Kan repot, ya?

Terakhir diperbarui pada 22 Maret 2019 oleh

Tags: kecelakaan MRTkereta baruMRTorang jakarta
Audian Laili

Audian Laili

Redaktur Terminal Mojok.

Artikel Terkait

Anak Jakarta vs Anak Kabupaten.MOJOK.CO
Urban

4 Tahun Merantau di Jakarta Bikin Sadar, “Orang Kabupaten” Jauh Lebih Toksik dari Anak Jaksel: Sialnya, Susah di-Cut Off

19 Mei 2026
Kerja di Jakarta naik transum kereta KRL
Catatan

KRL adalah “Arena Perjuangan” Pekerja Jakarta: Tak Semua Orang Sanggup, Hanya Manusia Kuat yang Bisa

29 April 2026
Orang Jakarta pilih bayar iPhone dengan cicilan
Urban

Tren “Aneh” Orang Jakarta: Nyicil iPhone Bukan karena Butuh, Alasannya Susah Dipahami Orang Miskin

14 April 2026
Saya Setuju Orang Jakarta Tajir Tak Betah Slow Living di Desa (Unsplash)
Pojokan

Orang Tajir Jakarta Tak Akan Sanggup Slow Living di Desa karena Menolak Srawung Itu Omong Kosong Kebanyakan Gagal Betah karena Ulahnya Sendiri

7 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Curhat kasir Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di jalanan desa sepi. Sepi pembeli, sekali ada pembeli bukan karena butuh tapi iseng dan bikin kesel MOJOK.CO

Derita Kasir Kopdes di Desa Pelosok: Hari-hari Sepi, Pembeli Datang Bukan karena Kebutuhan tapi Sengaja Bikin Kesal

21 Juli 2026
Festival Transmigrasi 2026 Fun Run 6K: Event lari yang tawarkan sensasi berbeda di Kaliurang Sleman MOJOK.CO

Transmigrasi Festival 2026 Fun Run 6K: Tawarkan Sensasi Lari di Kaliurang yang Beda dari Event Lari Perkotaan

27 Juli 2026
Pemuda lulusan SMK tidak menyerah mencari kerja dengan modal ijazah SMK demi orang tua MOJOK.CO

Modal Ijazah SMK dan Pengalaman Tak Nyerah Cari Kerja demi Orang Tua, Meski Sering Terima “Penolakan” karena Fisik

21 Juli 2026
Sekolah, Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri MOJOK.CO

Memilih Sekolah Mahal demi Selamatkan Pergaulan Anak di Desa, Malah Dicap “Sok Kaya” dan Egois oleh Tetangga

27 Juli 2026
Titi terendah perempuan: bawa bocil saat naik kereta api MOJOK.CO

Titik Terendah Ibu saat Naik Kereta Api Bawa Bocil: Mental Terguncang Bukan karena Bocil Tantrum tapi Mulut Jahat Sesama Perempuan

27 Juli 2026
Di Antara Teriakan Maling dan Sunyinya Nurani: Seorang Anak Menangisi Bapaknya yang Tewas Dikeroyok Massa MOJOK.CO

Di Antara Teriakan Maling dan Sunyinya Nurani: Seorang Anak Menangisi Bapaknya yang Tewas Dikeroyok Massa

27 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.