Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Apa Salahnya Punya Kriteria Pasangan dengan Gaji 30 Juta?

Audian Laili oleh Audian Laili
14 Januari 2019
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Perempuan yang menentukan kriteria pasangan dengan gaji 30 juta katanya adalah perempuan yang matre, terlalu menuntut, dan sulit diajak susah. Betulkah?

Twitter sedang diramaikan dengan permintaan gaji 30 juta dari seorang perempuan kepada calon pasangannya kelak. Banyak yang menyetujui hal ini, namun tidak sedikit yang langsung geram dan marah-marah. Mereka yang tidak setuju, menganggap jika seorang perempuan menentukan kriteria mengenai gaji dengan jumlah tertentu itu sungguh tidak elok dan elegan. Bahkan ada pula yang menilai…

…murahan. Nah, untuk lebih jelas mengenai permintaan gaji 30 juta ini, berikut twit dari @sephieusagi—yang saat ini sudah dia hapus.

Banyak yang menganggap permintaan tersebut sangat matre dan justru merendahkan martabat perempuan itu sendiri. Bahwa perempuan yang baik itu harusnya tidak menuntut pasangannya. Perempuan yang baik harusnya bisa diajak susah. Serta masalah jodoh yang terpenting adalah akhlak dan agamanya. Bla bla bla….

Oke, alasan-alasan tersebut memang tidak salah. Namun begini, saya rasa setiap orang juga punya hak dan wewenang untuk menentukan kriteria tertentu untuk pasangannya kelak. Pernyataan Selviana yang mengharapkan pasangan dengan gaji 30 juta tersebut salah satu contoh yang menunjukkan, bahwa dia sudah tahu apa yang dia mau. Lah kita, kira-kira sudah tahu belum apa yang sebetulnya kita mau? Jangan-jangan, karena masih merasa rendah dan ragu-ragu dengan kualitas diri sendiri, sehingga nggak berani untuk berharap. Justru dalam hati, hanya mampu berucap: kalau ada yang mau sama saya aja, udah syukur…

Padahal masalah menentukan kriteria calon pasangan ini, bukanlah sesuatu yang baru kali ini terjadi. Ada yang pengin pokoknya kerja jadi abdi negara supaya punya uang pensiunan hingga masa tua. Ada yang mengharapkan punya pasangan yang sudah punya rumah, mobil atau perusahaan. Ada pula yang pokoknya nggak mau dipoligami. Ada yang pengin punya pasangan dengan badan semlohay. Atau ada yang pengin taat agamanya. Ada yang pengin ini pengin itu, banyak sekali~ Tentu saja, tidak ada masalah mengenai keinginan kita.

Memang, dalam ajaran agama Islam, ada sebuah hadist yang menjelaskan bahwa, “Perempuan dinikahi karena empat faktor. Karena hartanya, nasabnya, kecantikannya, dan karena agamanya. Maka menangkanlah wanita yang mempunyai agama, sehingga engkau akan beruntung.”

Nah, tapi masalahnya, itu kan yang diajarkan oleh agama Islam. Tentu hal ini tidak dapat dipaksakan kepada semua kepercayaan. Jadi, kita nggak perlu pusing-pusing mikirin dengan cara bagaimana orang lain akan menemukan kebahagiaan dan keberuntungannya. Apalagi dengan sok ngancem-ngancem kalau gaji tinggi tidak menjamin keharmonisan sebuah keluarga. Hadeeeh, memangnya situ siapa, kok berani-beraninya sok menentukan masa depan orang lain???!!!

Selanjutnya, ada pula anggapan bahwa seharusnya pasangan itu bisa diajak susah bareng-bareng. Begini ya, saya kasih tahu, mau diajak susah bareng dengan mengharapkan gaji tertentu, itu hal yang berbeda. Ketika perempuan mengharapkan gaji pasangannya tinggi, bukan berarti perempuan akan berpikir bahwa hubungannya akan mulus-mulus saja. Tentu saja perempuan paham, bahwa yang namanya hidup pasti ada kalanya berada di atas dan terkadang di bawah. Nah, yang dibutuhkan oleh perempuan adalah bisa memiliki pasangan yang dapat menguatkan ketika dalam keadaan susah tersebut. Seorang pasangan yang memilih tanggung jawab dan keberanian untuk berusaha keluar dari keadaan susah tersebut.

Konsep yang mengandalkan ungkapan, ‘mau diajak susah bareng’, itu hanya melahirkan sikap pasrah dan tidak memiliki daya serta kuasa untuk keluar dari keadaan susah. Tentu saja, punya pasangan yang nggak punya target apa pun dan justru berteman akrab dengan pasrah tanpa melakukan apa-apa, itu makan hati, Kisanak!!!111!!!

Oleh karena itu, menentukan kriteria calon pasangan sejak awal dari gajinya, bukanlah menjadi hal aneh. Pasalnya, dengan adanya patokan dari awal ini, paling tidak, ketika dalam kondisi sedang jatuh, kita dan pasangan bisa sama-sama punya target untuk berusaha—pantang menyerah—sampai sejauh apa.

Tapi, nggak pantes kalau perempuan itu menuntut!

Wadaw, kalau memang lelaki boleh menuntut perempuan untuk tidak menuntut, lantas mengapa perempuan tidak diperbolehkan menuntut? Hayooo loh, macam mana maksudnya~

Iklan

Btw, jangan sampai para lelaki yang merasa nggak setuju dengan statement tersebut, terus marah-marah sambil kasih dalil, sebetulnya diam-diam ia merasa rendah diri, minder, dan nggak mampu. Ya kalau memang nggak mampu, ya nggak masalah. Tapi nggak perlu marah-marah juga. Lha wong, bagaimanapun juga setiap orang memang memiliki standar untuk rencana kehidupannya masing-masing.

Tentu saja, kriteria gaji 30 juta yang disampaikan oleh Mbak Selviana ini tidak dapat disamaratakan kepada setiap lelaki. Pasalnya, dengan gaya hidup yang berbeda, circle pertemanan yang berbeda, ataupun tinggal di daerah yang berbeda, ini memang menjadi sulit diterima oleh semua orang. Jadi, tidak perlu capek-capek merasa sakit hati apalagi rendah diri. Toh kalian para lelaki, juga boleh-boleh aja kok menentukan kriteria perempuan idaman masing-masing. Perkara nanti dapat atau nggak, biarlah itu menjadi urusan lain.

Oh ya, jangan lupa juga untuk menyudahi mental gampang nggumunan kita. Kok ya, ada yang berusaha jujur dengan terbuka dengan keinginan sendiri, yang lain langsung kelabakan. Nggak ada masalah dong, jika setiap orang menentukan target untuk masa depannya sendiri?

Btw, Mbak Selviana, saya mau saran saja. Dengan melihat kriteria yang Mbak sampaikan tersebut, sepertinya ada satu calon yang bisa saya tawarkan. Kalau Tuan Krab, bagaimana, Mbak?

Terakhir diperbarui pada 24 Februari 2019 oleh

Tags: gaji 30 jutakriteria pasanganperempuan
Audian Laili

Audian Laili

Redaktur Terminal Mojok.

Artikel Terkait

pekerja perempuan.MOJOK.CO
Aktual

Dilema Pekerja Perempuan: Upah Murah “Dilegalkan”, Sementara Biaya Daycare Tak Terjangkau

1 Mei 2026
Setelah Little Aresha, Mengapa Orang Tua Tetap Harus Percaya pada Daycare? MOJOK.CO
Esai

Setelah Little Aresha, Mengapa Orang Tua Tetap Harus Percaya pada Daycare?

29 April 2026
Jangan Mau Jadi Trophy Wife, Itu Cara Halus Menjinakkan Perempuan MOJOK.CO
Esai

Jangan Mau Jadi Trophy Wife, Itu Cara Halus Menjinakkan Perempuan 

13 April 2026
pekerja hotel, surabaya, jogja.MOJOK.CO
Podium

Larangan Hijab dalam Industri Perhotelan: Antara Hijabophobia atau Upaya Mengatur Tubuh dan Penampilan?

14 Januari 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kerja di Jakarta naik transum kereta KRL

KRL adalah “Arena Perjuangan” Pekerja Jakarta: Tak Semua Orang Sanggup, Hanya Manusia Kuat yang Bisa

29 April 2026
Hajatan, Resepsi Mewah, Resepsi Sederhana, Nikah.MOJOK.CO

Hajatan Itu Nggak Penting: Tabungan 50 Juta Melayang Cuma Buat Ngasih Makan Ego Keluarga, Setelah Nikah Hidup Makin Susah

26 April 2026
Merenungi Tragedi KRL Cikarang usai Peristiwa Daycare Jogja, Potret Nyata Perempuan yang Tetap Berjuang di Tengah Stigma MOJOK.CO

Merenungi Tragedi KRL Cikarang usai Peristiwa Daycare Jogja, Potret Nyata Perempuan yang Tetap Berjuang di Tengah Stigma

28 April 2026
Bahaya Dolar ke Rupiah Tembus 17 Ribu Negara Makin Gila! MOJOK.CO

Bahaya Dolar ke Rupiah Makin Gila dan Tembus 17 Ribu, Lalu Menjadi Gambaran Negara Sakit yang Semakin Kritis, Masyarakat Kecil dan Perintis Perlahan Mati

2 Mei 2026
Setelah Little Aresha, Mengapa Orang Tua Tetap Harus Percaya pada Daycare? MOJOK.CO

Setelah Little Aresha, Mengapa Orang Tua Tetap Harus Percaya pada Daycare?

29 April 2026
Pelatihan skill digital IndonesiaNEXT Telkomsel berdampak bagi kesiapan kompetensi untuk terjun industri MOJOK.CO

Pelatihan SKill Digital IndonesiaNEXT Ubah Mahasiswa Insecure Jadi Skillfull, Bisnis Digital pun Tak Kalah Saing

1 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.