Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Podium

Belajar dari Polemik Budiman Sudjatmiko: Pentingnya Meritokrasi Kandidasi Kepemimpinan

Satria Aji Imawan oleh Satria Aji Imawan
29 Agustus 2023
A A
polemik dukungan budiman sudjatmiko dan meritokrasi kandidasi kepemimpinan mojok.co

Deklarasi Prabu Prabowo-Budiman Sudjatmiko (IG @prabowo)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Dukungan Budiman Sudjatmiko untuk Prabowo Subianto adalah sebuah fenomena di dunia politik. Langkah ini menunjukkan adanya gejala meritokrasi kandidasi kepemimpinan yang terjadi di dunia demokrasi kita.

Definisi tentang meritokrasi datang dari Michael Dunlop Young pada tahun 1958. Istilah ini muncul dalam bukunya berjudul The Rise of Meritocracy. Young menjelaskan bahwa meritokrasi adalah bayangan sebuah sistem sosial masa depan di mana hasil-hasil seperti kekayaan, pekerjaan, dan kekuasaan didistribusikan kepada seseorang yang punya prestasi, seperti kecerdasan dan usaha. Dalam beberapa hal, penjelasan ini kemudian jadi lebih luas dengan cakupan kemampuan, pelatihan, dan pengalaman.

Iklan

Dasar-dasar tersebut pada akhirnya dianggap sebagai prinsip keadilan yang ideal. Idealitas tersebut terjadi karena mempertimbangkan faktor-faktor yang relevan seperti kemampuan ketimbang etnis dan gender. Dengan demikian, dapat kita katakan bahwa meritokrasi merupakan penilaian bebas dari bias identitas yang dapat menciptakan mobilitas sosial.

Polemik dukungan Budiman

Gejala meritokrasi ini bisa kita lihat juga sebetulnya pada polemik yang terjadi antara Budiman Sudjatmiko, PDIP, dan Prabowo. Polemik bermula tatkala Budiman Sudjatmiko memilih untuk mendukung Prabowo yang merupakan Ketua Umum Gerindra. Padahal, Budiman telah lama kita kenal sebagai kader dan loyalis PDIP. Sehingga, langkah ini tentu menjadi kontroversi.

Apa yang Budiman Sudjatmiko lakukan tentu merupakan hal yang bertentangan dengan disiplin partai. Partai politik identik dengan organisasi yang terbentuk karena ideologi dan kepentingan tertentu. Keributan ini semakin menjadi-jadi tatkala Budiman Sudjatmiko menolak untuk meninggalkan PDIP meskipun mendukung Prabowo.

Namun ada yang bisa kita petik dari fenomena ini. Pada sisi lain sebetulnya, apa yang dilakukan Budiman Sudjatmiko merupakan breakthrough dari sistem demokrasi kita, khususnya dalam partai politik. Setidaknya ada dua hal. Pertama, semangat meritokrasi di dalam kandidasi kepemimpinan bergerak dari sekedar melihat afiliasi politik dan kepentingannya. Kini lebih mempertimbangkan faktor kemampuan, pengalaman, dan prestasi seseorang.

Kedua, kejadian tersebut mempertanyakan kredibilitas partai politik sebagai mesin kandidasi kepemimpinan. Partai politik yang seharusnya mampu menjadi embrio organisasi yang bisa menghasilkan pemimpin nasional tidak mampu menjaga keloyalan kadernya terhadap organisasi. Hal ini selaras dengan spirit partai politik yang semakin menguat kepada pragmatisme, bukan idealisme.

Dua poin ini setidaknya menggambarkan dua hal. Di satu sisi, menyiratkan adanya urgensi untuk membentuk kelembagaan dan manajemen baru di dalam melakukan kandidasi kepemimpinan yang berbasis meritokrasi. Bentuk lembaga dan tata kelola tersebut harus melalui konsensus sosial-politik, basis data keinginan, dan idealita seorang pemimpin dari masyarakat. Dengan demikian, seorang pemimpin tidak lagi heavy kepada “kepentingan” namun lebih kepada kemampuan.

Lalu, di sisi yang lain, fenomena ini juga menunjukkan adanya cara baru di dalam menelisik calon pemimpin. Metode baru tersebut adalah penilaian calon pemimpin yang tidak hanya berbasis background seseorang, namun juga track record yang dapat kita lihat melalui rekam jejak kinerja seseorang secara digital. Fenomena-fenomena inilah yang harus kita jawab sebagai bangsa jika tidak ingin adanya krisis kepemimpinan.

Lembaga talenta

Salah satu jawaban terkait sistem meritokrasi untuk menemukan calon pemimpin salah satunya bisa melalui pembentukan lembaga manajemen talenta Indonesia. Ide awal dari pembentukan lembaga ini adalah adanya kebutuhan manajemen talenta orang Indonesia agar memiliki daya saing global dan pembangunan. Meskipun memiliki tantangan untuk efisien dengan lembaga yang serupa, setidaknya inisiasi ini memberi secercah cahaya di dalam manajemen kepemimpinan. Sebab, fokus dari lembaga ini adalah peningkatan kualitas pendidikan, khususnya pada bidang vokasional training.

Konsentrasi pada bidang vokasional training sesuai dengan keilmuwan kepemimpinan, yang tidak hanya bicara soal ilmu menjadi pemimpin, namun juga bagaimana menerapkan kepemimpinan pada lingkungan yang tepat. Dua himpitan baik dari sisi konseptual maupun empirikal dapat memberikan pemahaman holistik kepada calon pemimpin. Sehingga, lembaga ini nantinya mampu menjadi jadi jembatan antara talenta terbaik calon pemimpin dengan partai politik.

Sederhananya, lembaga talenta bisa berfokus kepada meritokrasi di dalam kandidasi kepemimpinan sementara itu partai politik dapat fokus kepada aspek demokrasi. Pembagian tersebut menjadi konsekuensi logis mengingat saluran kelembagaan untuk menjadi pemimpin masih berpusat pada partai politik. Dengan pembagian ini, partai politik bisa memisahkan dirinya dari persoalan kapabilitas pemimpin dan berfokus kepada sisi keterpilihan seseorang.

Meritokrasi dan digitalisasi

Pembagian tugas kelembagaan tersebut tentu saja perlu mendapat dukungan digitalisasi. Dukungan tersebut mampu menguliti track record kemampuan calon-calon pemimpin melalui jejaring sosial medianya. Apalagi di tengah derasnya arus komunikasi digital saat ini, tentu hal ini menjadi sarana meritokrasi kandidasi kepemimpinan yang jitu.

Digitalisasi juga dapat mendekatkan pemilih dengan pemimpin di dalam menelisik jejaring sosial maupun kemampuan meritnya. Sehingga, jika seorang calon pemimpin melakukan kesalahan sosial maka penghakiman dapat langsung pemilih lakukan. Namun, arah penghakiman harus berbasis semangat konstruktif ketimbang destruktif, yaitu membangun dan mengkritisi hal-hal yang sifatnya positif.

Iklan

Langkah-langkah ini dapat memberi dampak jangka panjang. Dalam skala yang lebih jauh, meritokrasi dapat membentuk perilaku pemilih yang rasional sebagai dampak dari transparansi informasi secara digital. Dengan perilaku pemilih yang lebih rasional, maka indeks kualitas demokrasi kita juga akan naik.

Dapat kita katakan bahwa meritokrasi tidak hanya bisa diterapkan pada birokrasi dan pelayanan publik, namun juga mengenai suksesi kepemimpinan. Meritokrasi bisa jadi sarana reformasi kelembagaan partai politik yang tadinya hanya berbasis ideologi menjadi basis pasar dan menjadikannya lembaga yang tidak hanya idealis atau pragmatis, namun strategis.

Meritokrasi juga dapat membentuk pemimpin yang lebih kredibel yang lahir dari semangat transparansi informasi yang diusung oleh digitalisasi. Pendidikan politik pemilih juga dapat dibentuk melalui meritokrasi kelembagaan dan tranparansi informasi. Pada tataran yang lebih luas, meritokrasi akan menaikkan indeks demokrasi kita.

Penulis: Satria Aji Imawan
Editor: Purnawan Setyo Adi

BACA JUGA Saya Menemui Anak Muda yang Mengidolakan para Diktator, Ini Kata Mereka!

Cek berita dan artikel Mojok lainnya di Google News

 

Terakhir diperbarui pada 29 Agustus 2023 oleh

Tags: Budiman SudjatmikoMeritokrasiPemilu 2024
Satria Aji Imawan

Satria Aji Imawan

Dosen Administrasi Publik Universitas Diponegoro

Artikel Terkait

Rasanya Satu Kelompok KKN dengan Anak Caleg, KKN Undip.MOJOK.CO
Kampus

Rasanya Satu Kelompok KKN dengan Anak Caleg, Semua Urusan Jadi Mudah Meski Suasana Bikin Tak Betah

14 Juli 2024
Komeng: Olok-Olok Rakyat Biasa untuk Menertawakan Politik MOJOK.CO
Esai

Komeng Adalah Bentuk Olok-Olok Paling Menohok yang Mewakili Lapisan Masyarakat Biasa untuk Menertawakan Politik

19 Februari 2024
bayi prabowo gibran di sumatera selatan.MOJOK.CO
Ragam

Kisah Bidan yang Membantu Persalinan Bayi Bernama Prabowo Gibran di Sumatera Selatan

16 Februari 2024
Menyaksikan Coblosan di Wotawati, Kampung Warisan Majapahit yang Mataharinya Tenggelam Pukul 15.00 MOJOK.CO
Kabar

Menyaksikan Coblosan di Wotawati, Kampung Warisan Majapahit yang Mataharinya Tenggelam Pukul Tiga Sore

14 Februari 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

SSB MAS merawat bibit-bibit muda sepak bola Kota Jogja meski dari Lapangan Minggiran yang tidak rata MOJOK.CO

SSB Tertua di Kota Jogja Merawat Bibit-bibit Muda Meski dari Lapangan Bola Tidak Rata

11 Juli 2026
Warga makin malas bayar pajak bukan berarti membangkang, tapi karena ulah pemerintah sendiri MOJOK.CO

Makin Malas Bayar Pajak Bukan Semata Membangkang tapi Akumulasi Kekecewaan, Pemerintah Bisanya Nagih Doang

10 Juli 2026
Lapangan Bola di Kauman, Jogja. MOJOK.CO

Lapangan Paving: Kemewahan yang Tersisa bagi Anak-anak Kota Jogja untuk Bermain Bola

7 Juli 2026
Saat mengantar anak mencari kos untuk persiapan kuliah di PTN Jogja: anak antusias jadi mahasiswa baru (maba), orang tua justru menyimpan kecemasan yang tidak hanya persoalan UKT mahal MOJOK.CO

Saat Antar Anak Cari Kos dan Tak Sabar Jadi Maba, Ortu Tampak Antusias tapi Diam-diam Sembunyikan Cemas

8 Juli 2026
Koperasi Kelurahan di Banjarsari, Surakarta, bukukan omzet ratusan juta MOJOK.CO

Cerita Koperasi di Banjarsari Surakarta: Berawal dari Garasi, Bukukan Omzet Ratusan Juta?

12 Juli 2026
Truk sampah di TPA Troketon, Klaten. MOJOK.CO

Mengais Asa di TPA Troketon, Benteng Terakhir Penghidupan Warga Klaten

10 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.