Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Otomojok

Merayakan Kegagalan bersama Honda Karisma

Alexander Arie oleh Alexander Arie
9 Juni 2017
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Memberi cap gagal sebenarnya adalah kebahagiaan tersendiri bagi lingkungan sekitar kita. Kalau ada saudara yang sudah nikah setahun dan belum hamil-hamil, langsung dicap gagal subur alias mandul. Padahal, itu saking lurusnya hidup pasangan suami istri tersebut sebelum menikah hingga akhirnya, untuk menemukan jalan yang benar jadi agak lama.

Kalau saudara saja berani dicap gagal, jangan heran kalau presiden juga begitu mudah diberi cap yang sama. Nggak percaya? Ketik saja “negara gagal” di Twitter, dijamin muncul tudingan-tudingan dari orang-orang yang mengelola uang jajan sendiri saja tidak becus.

Kegagalan adalah jatah semua bangsa. Semua orang. Semua makhluk. Mau sahur tapi baru terjaga pas imsak, itu sudah sebuah kegagalan di tingkat sederhana. Mau nembak gebetan yang cantiknya minta ampun tapi ternyata sudah beranak dua, itu juga gagal dalam kadar yang lebih signifikan.

Sebagaimana bola bagi Kapten Tsubasa, gagal adalah teman bagi kita semua.

Mengingat gagal adalah milik semua manusia, jangan heran kalau produsen sepeda motor juga, bahkan sering sekali, gagal. Kenapa larinya ke sepeda motor? Tentu saja karena ini rubrik Otomojok, jadi nggak mungkin saya nulis Chiki.

Sembari kalian guk-ling singkatan-singkatan era Mbah Harto sesuai arahan Muhidin M. Dahlan, silakan ketik “merek sepeda motor Honda yang gagal”. Percayalah, dari sekian versi yang muncul, dari yang memuat Kirana hingga CS1, ada satu merek yang pasti ada: Honda Karisma.

Kenapa pula Honda? Cobalah ke Sumatera sana: mau naik Yamaha, Suzuki, Tossa, pasti tetap disebut Honda. Ini bukan soal merek unggulan atau tidak, ini semata-mata tentang keberpihakan.

Membicarakan Honda Karisma artinya harus pula menyinggung Reformasi. Kemunculannya di awal 2000-an tentu bersandingan dengan hiruk piruk kala Amien Rais mengusung Gus Dur ke kursi presiden dan beberapa waktu kemudian menggusurnya dari kursi yang sama.

Kemunculan kembali Amien Rais sebagai Bapak mertua Selmadena Reformasi belakangan langsung membuat saya mengenang transisi yang terjadi belasan tahun silam, baik transisi Republik Indonesia maupun transisi sepeda motor milik Honda. Saya tengah menggeber gas Honda Karisma kelahiran 2003 ketika kenangan itu datang, berselang-seling dengan bayangan Gal Gadot yang beredar tiada henti.

Cap gagal pada Honda Karisma begitu mudah terlihat apabila ia dibandingkan dengan Supra, edisi yang muncul sesudahnya.

Supra itu sudah digoreng sama Honda sampai bolak-balik, plus diolesi tepung lagi. Ada Supra Fit, Supra X, Supra X 125, hingga Supra XX. Khusus yang terakhir ini, di beberapa daftar, dicap sama gagalnya dengan Karisma. Kalau Supra sudah sedemikian banyak variannya, Karisma hanya ada dua dan sesudah itu mati.

Honda Karisma pada zamannya muncul untuk menggantikan tugas legendaris milik Honda Legenda. Pada tahun 2000-an itu, Indonesia diserbu sepeda motor dari pabrikan Tiongkok yang akrab dikenal sebagai motor Cina alias mocin. Percayalah, pada zaman motor seperti Jialing dan Hokaido muncul, tidak ada yang berteriak-teriak “Cina komunis” atau “tolak asing aseng”. Semua tampak bahagia dengan sepeda motor yang dijual dengan harga nyaris separuhnya sepeda motor Honda.

Honda Legenda diluncurkan dengan segala kesederhanaannya untuk mengembalikan Honda sebagai patron. Dan sesudah Honda kembali di hati konsumen, Karisma meluncur ke pasar hanya untuk dicap gagal.

Padahal, Honda Karisma adalah golongan perdana yang mengenalkan indikator bensin non-jarum. Jangan lupa, pada 2007 Honda Revo saja masih pakai jarum. Honda Karisma juga mengenalkan bagasi jok yang muat banyak, sementara sebagian Supra yang muncul kemudian belum memberikan fasilitas itu. Karisma diberi cap sebagai motor bongsor, kegedean pantat, dan apalah-apalah yang lain, padahal di balik bodinya yang kurang seksi itu terselip inisiatif-inisiatif yang kemudian menjadi populer belasan tahun kemudian.

Iklan

Dengan motor yang disebut gagal itu saya berhasil mengarungi banjir setinggi footstep di daerah Sekip, Palembang; di Jalan Raya Cikarang—Cibarusah, Bekasi; hingga di Jalan Sudirman, jalan protokol Ibu Kota Indonesia yang kerap menjadi sumber keributan massal bagi orang-orang yang bahkan tidak pernah ke Jakarta. Di genangan-genangan yang diciptakan oleh ketidakbecusan Kementerian PU itu, Karisma saya melaju dengan bahagia dan tidak pernah sekali pun mati mesin meski kelelepnya lumayan.

Bersama motor yang katanya gagal itu juga saya mencatat bahwa dalam kurun tujuh tahun, jok Karisma saya sudah pernah diduduki tiga mantan pacar dan satu pacar yang kemudian dimantankan juga untuk dijadikan istri. Mantan pertama dibonceng dalam status sudah mantan. Mantan kedua dalam status masih pacar dan ketika sudah mantan. Mantan ketiga dalam posisi belum jadi pacar. Yang terakhir dalam kondisi sudah pacar, lalu ketika sudah kawin. Masihkah ada jomblo yang akan menyebut Karisma sebagai sebuah kegagalan jika demikian faktanya?

Bersama Honda Karisma pula saya masih bisa sesekali balapan dengan Si Boy-Si Boy yang beredar di jalanan dengan motor besar mereka yang diperoleh lewat ngambek ke orang tua. Di Jakarta Raya, saya masih cukup sering menyaksikan bokong bongsor Honda Karisma berkeliaran, dipakai untuk menjajakan bakso maupun mengangkut kain yang ditumpuk satu setengah meter di Tanah Abang. Semuanya dilakukan oleh sepeda motor yang dibilang gagal itu.

Honda Karisma mungkin gagal sebagai sebuah merek. Produksinya dibunuh dengan keji oleh orang tuanya sendiri. Akan tetapi, Honda Karisma telah memberi jalan bagi teknologi sepeda motor untuk berkembang. Kegagalan Karisma sebagai sebuah merek nyatanya justru menjadi keberhasilan dalam konteks transisi teknologi. Atau kalau mau dipolitisasi, dapat disebut sebagai transisi atau sinkronisasi.

Jadi, sebelum memberi cap gagal, ada baiknya kita kunyah dahulu fakta-fakta yang ada. Jangan-jangan kegagalan itu sebenarnya transformasi dalam bentuk tertentu. Saudara yang belum hamil tadi, jangan-jangan pas hamil nanti malah kembar tiga anaknya. Nembak gebetan gagal, jangan-jangan karena sudah ada gadis yang dipersiapkan untuk kita. Kalau tulisan belum dimuat di Mojok, jangan-jangan karena editornya asyik berkasih-kasihan.

Honda Karisma telah memberi pelajaran bahwa tak apa-apalah disebut gagal selama membawa perubahan.

Dan jangan lupa, tiada satu merek kendaraan bermotor pun yang dapat meningkatkan kelas penggunanya hingga berlipat-lipat sebagaimana Honda Karisma. Ya, karena menunggang Karisma, saya seketika dapat disebut sebagai “Pria Ber-Karisma”. Hayo, gadis mana yang tidak kesengsem kalau begini?

Terakhir diperbarui pada 29 Oktober 2019 oleh

Tags: Amien Raishondahonda karismamotor cinamotor gagalreformasi
Alexander Arie

Alexander Arie

Universitas Indonesia. Tinggal di Jakarta. Asli Bukittinggi.

Artikel Terkait

Pengalaman Merusak Astrea Grand Jadi Motor Racing Kampung MOJOK.CO
Otomojok

Pengalaman Saya “Merusak” Astrea Grand Milik Bapak Menjadi Motor Racing Kampung: Jebakan Menyenangkan dari Motor Honda yang Menjerat Saya Sampai Tua

2 Juni 2026
Vario 150, Motor Honda Terbaik Wujud (Cicilan dan) Kasih Ibu MOJOK.CO
Otomojok

Vario 150: Motor Honda Terbaik tapi Paling Mengancam Kewarasan dan Bikin Malu, Takut Gak Bisa Nyicil Setelah Jadi Pengangguran Akhirnya Diselamat Ibu

21 Mei 2026
Supra X 125, Motor Honda yang Menderita dan Nggak Masuk Akal MOJOK.CO
Otomojok

Supra X 125 Adalah Motor Honda Penuh Penderitaan dan Nggak Masuk Akal, tapi Menjadi Motor Paling Memahami Derita Keluarga Muda

14 April 2026
Vario 160 Motor Buruk Rupa yang Menyalahi Kodrat Honda MOJOK.CO
Pojokan

Vario 160 Adalah Motor Buruk Rupa yang Menyalahi Kodrat Motor Honda, tapi Sejauh Ini Menjadi Matik Terbaik yang Tahan Siksaan

3 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Godaan modifikasi motor Honda Vario 125 demi sinematik kebodohan soal harga jual di Facebook, berakhir jadi motor sampah dan jamet MOJOK.CO

Modifikasi Motor Honda Vario 125 Hasil Tabungan Ibu-Kakak demi Sinematik dan Kebodohan Harga Jual di FB, Berakhir Jadi Motor Jamet dan Sampah

7 Juni 2026
Sejumlah titik ruas jalan rusak di Jawa Tengah (Jateng) dapat perbaikan di 2026 MOJOK.CO

Jalan Rusak di Jawa Tengah Dapat Perbaikan di 2026: Rusak Berat Diprioritaskan, Pengerjaan Dilarang Asal-asalan

5 Juni 2026
Harga Pertamax Naik Lagi, dan Kali Ini Kita Tidak Boleh Diam dan Pasrah Lagi

Harga Pertamax Naik Lagi, dan Seperti Biasa, Kelas Menengah Jadi Korban, Lagi dan Lagi

10 Juni 2026
Audiensi antara KPUS dan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi terkait anjloknya harga telur di Jateng MOJOK.CO

Upaya Merespons Situasi Harga Jual Telur di Jateng yang Anjlok dan Tidak Terserap

10 Juni 2026
Curhat dan ziarah di makam ibu, tempat terbaik pulang tanpa penghakiman MOJOK.CO

Curhat di Makam Ibu Dianggap Lebay dan Sia-sia, Tapi Jadi Tempat Pulang Terbaik yang Penuh Makna dan Rasa Lega

5 Juni 2026
Edi Dimyati, alumnus Unpad yang mendirikan perpustakaan di Jakarta Timur. MOJOK.CO

Sering Dikira Montir sampai Petugas Pertamina, Lulusan Unpad Ini Sebetulnya Punya Perpustakaan Gratis di Pinggiran Sungai Jakarta Timur

10 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.