MOJOK.CO – Honda Beat yang sudah saya pakai sejak 2019 memang boring, tapi kenangan di dalamnya tak tergantikan.
Saya punya confession yang mungkin bisa bikin saya diusir dari grup otomotif. Jadi, Honda Beat adalah motor paling boring yang pernah ada di muka bumi ini.
Iya, saya tahu. Beat itu motor sejuta umat, kesayangan ojol, emak-emak, buat antar anak sekolah, dan kesukaan satpam buat keliling kompleks.
Kalau parkir di minimarket, ada kemungkinan 90% motor di sebelah motor kamu itu Honda Beat. Desainnya nggak pernah bikin orang menoleh, mesinnya nggak pernah bikin jantung berdebar, dan performanya… ya, seberapa kencang sih kamu mau melaju dari lampu merah ke lampu merah berikutnya?
Tapi di sinilah bagian yang menarik. Justru karena boring-nya itu, saya malah sayang banget sama Honda Beat saya.
Awal mula rasa sayang sama Honda Beat
Ceritanya begini. Tahun 2019, saya butuh motor buat kerja. Waktu itu saya masih kerja sebagai admin di sebuah toko online kecil di Pekanbaru.
Gajinya pas-pasan, tabungan tipis, dan cicilan KPR rumah kontrakan sudah makan 30% penghasilan. Jadi, ketika saya harus beli motor, pilihannya sangat terbatas. Antara Honda Beat bekas atau Revo bekas.
Saya pilih Beat karena satu alasan yang sangat dangkal. Waktu itu saya melihat desainnya lebih kekinian daripada Revo. Itu saja. Nggak ada pertimbangan teknis, apalagi analisis mendalam soal mesin atau suspensi.
Saya beli Beat bekas tahun 2017 seharga Rp7,5 juta dari seorang tetangga yang mau pindah ke Jakarta. Dan ternyata, Rp7,5 juta tersebut menjadi salah satu investasi terbaik yang pernah saya buat.
Investasi terbaik dalam hidup saya
Pertama, soal irit. Honda Beat itu motor yang bikin saya lupa arti kata “isi bensin.” Kalau dulu, saya bisa isi Rp10 ribu untuk 3 hari jalan dari rumah ke kantor.
Kedua, soal perawatan. Honda Beat itu kayak motor yang bisa merawat dirinya sendiri. Saya serius.
Selama pakai Beat dari 2019 sampai sekarang, yang saya ganti cuma oli, busi, dan kampas rem. Itu saja. Nggak pernah ada masalah mesin, mogok di tengah jalan, atau bikin saya telat ke tempat kerja karena motor rewel.
Ketiga, dan ini yang paling penting. Sparepart motor Honda itu murah dan nggak langka. Kamu bisa ganti oli Beat di bengkel mana saja di Indonesia. Beli kampas rem juga gampang. Nah kalau mau beli parts-nya di Shopee dengan harga yang nggak bikin dompet nangis jug oke
Honda Beat kurang punya jiwa
Tapi saya juga harus jujur. Honda Beat itu motor yang nggak punya jiwa. Maksud saya, kalau kamu naik motor ini, nggak ada rasa spesial yang muncul.
Nggoncengnggonceng aja. Nggak ada getaran di dada kayak naik motor gede atau sensasi mewah kayak naik skutik premium.
Beat itu kayak makan nasi putih pakai sayur dan telur rebus. Ya bergizi, mengenyangkan, tapi nggak ada cita rasa yang bikin lidah bergoyang. Dan saya, karena sudah enam tahun pakai, sudah menerima kenyataan itu dengan lapang dada.
Yang bikin saya agak geli adalah ketika Honda merilis Beat Street dan Beat Deluxe. Beat Street desainnya pakai stiker garang, jadinya kayak anak SMA yang baru beli jaket motor tapi isinya cuma obeng dan tisu.
Beat Deluxe? Ya, cuma Beat dengan emblem “Deluxe” biar keliatan lebih mahal. Tapi mesinnya sama. Performanya sama. Rasanya juga sama: biasa saja.
Dan itu sebenarnya kekuatan terbesar Honda. Mereka tahu bahwa pasar terbesar di Indonesia bukan anak muda yang doyan kebut-kebutan, tapi orang-orang biasa yang butuh transportasi andal setiap hari. Dan untuk orang-orang seperti itu, “biasa saja” justru adalah nilai jual terbesar.
Saya pernah baca data dari AISI yang bilang bahwa Honda Beat tetap menjadi motor terlaris di Indonesia selama bertahun-tahun, berturut-turut. Jutaan unit terjual setiap tahun.
Angka itu nggak bohong. Honda Beat laku bukan karena keren, tapi karena semua orang bisa mengandalkannya. Dan di dunia yang penuh ketidakpastian, ekonomi gonjang-ganjing, harga BBM naik-turun, pekerjaan tidak menentu, keandalan itu jauh lebih berharga daripada kegagahan.
Honda Beat, motor yang nggak pernah bikin kecewa
Sekarang, di 2026, saya masih pakai Honda Beat yang sama. Sudah tiga kali ganti ban, dua kali ganti kampas rem, dan puluhan kali ganti oli.
Odometer-nya sudah menunjukkan angka yang bikin teman-teman saya geleng-geleng kepala. Tapi motor ini masih jalan. Masih setiap hari mengantar saya dari rumah ke tempat kerja, rumah ke warung kopi, dan dari rumah ke mana saja yang saya mau.
Apakah saya mau upgrade yang lebih keren? Tentu saja mau. Siapa yang nggak mau?
Tapi kenyataannya, saya belum butuh. Beat saya masih sehat, tetap irit, masih bisa saya andalkan. Dan selama itu masih terjadi, saya akan tetap setia sama motor paling boring di Indonesia ini.
Karena pada akhirnya, motor yang terbaik itu bukan motor yang paling keren atau mahal. Tapi motor yang paling sering kamu pakai dan nggak pernah bikin kecewa. Dan Honda Beat, dengan segala ke-boring-annya, adalah motor itu.
Terima kasih, Honda Beat. Maaf sudah sering ngomong jelek soal kamu di depan teman-teman. Tapi di dalam hati, saya tahu kamu adalah pasangan hidup yang paling setia yang pernah saya miliki. Eh, motor maksudnya.
Nggak bikin malu dan penuh kenangan
Dan satu lagi yang saya lupa. Honda Beat itu motor yang nggak pernah bikin saya malu. Saya tahu ini kedengarannya aneh, tapi dengarkan saya.
Di dunia yang penuh orang pamer motor gede, sport, atau Vespa retro saya naik motor sejuta umat. Dan saya nggak merasa kecil.
Karena saya tahu, bahwa di balik mesin 110cc itu, ada pengalaman enam tahun perjalanan hidup yang nggak bisa dibeli dengan uang.
Beat saya pernah menemani saya saat saya sedih karena putus cinta. Motor ini pernah menemani saya saat senang karena dapat klien besar pertama.
Motor ini juga pernah menemani saya saat mengantar ibu ke rumah sakit tengah malam karena beliau demam tinggi. Motor itu cuma besi dan mesin. Tapi pengalaman yang kita lalui bersama yang membuatnya istimewa.
Kalau kamu yang bikin kelihatan keren, jangan beli Beat. Tapi kalau kamu yang nggak bikin ribet dan bokek, Honda Beat adalah pilihan terbaik.
Penulis: Fauzi Susanto
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA Honda BeAT: Motor Honda yang Seperti Lahir Hanya untuk Lansia dan kisah menarik lainnya di rubrik OTOMOJOK.
















