MOJOK.CODi tengah pandemi, para pekerja Jogja dengan UMR ‘humble’-nya itu selalu bikin penasaran. Apa yang bikin mereka tetap kuat bertahan? Mi instan kah?

Selain mengancam kesehatan, pandemi kopet-19 alias korona ini sangat mengancam perekonomian di level mana pun dalam skala berapa pun. Dari negara adidaya hingga negara kurang daya juga sama-sama harus bersiap menghadapi krisis. Dari wong cilik sampai konglomerat. Semua terdampak.

Bicara soal wong cilik, apalagi kalau dinilai dari gaji, mau nggak mau kok saya teringat dari daerah asal saya sendiri, di Jogja. Soalnya kalau ada ontran-ontran seputar gaji alias UMR ataupun UMK atau apalah Anda menyebutnya, daerah yang katanya istimewa pasti jadi salah satu objek utamanya.

Lha gimana, UMR-nya cuma ya gitu. Tak usah saya sebutkan nominalnya, Anda bisa googling sendiri kok. Soalnya kalau saya jlentrehkan panjang lebar, nanti kena jurus, “Ya kalau nggak suka silakan keluar dari Jogja aja, Mas.” Waduh, pitikih, padahal saya asli Jogja.

Nah, di tengah pandemi dan para pekerja Jogja yang UMR-nya selalu romantis itu selalu bikin penasaran. Apa kalimat, “kebahagiaan tidak diukur dari uang,” membantu mereka selama menjalani masa darurat ini? Oleh karena itu, saya menghubungi dua kawan pekerja untuk mengulik kisah mereka selama pandemi korona dengan memanfaat gaji UMR Jogja mereka.

Seperti Zyuyun Pramanasari (24) asal Bantul yang sehari-harinya bekerja sebagai seorang motivator di bimbingan minat belajar untuk anak usia dini. Kalau kamu bingung itu kerjaan apa, ya itu kerjaan mirip-mirip sama guru PAUD lah.

Semenjak ada anjuran dari pemerintah untuk meliburkan, eh, maksudnya belajar dari rumah, lembaga-lembaga pendidikan, PAUD tempat Zyuyun bekerja ini juga mengikuti anjuran tersebut. Iya, bahkan selevel PAUD juga tetap melakukan pembelajaran via online lho.

Menurut penuturan Zyuyun, sebelum dilaksanakan pembelajaran online (kalau di PAUD tersebut dinamakan distance learning) ada semacam pelatihan dulu dari pihak pengelola PAUD. Dalam waktu seminggu ada 3 kali pertemuan dan setiap sesi pembelajaran dilaksanakan dengan durasi sekitar 40 menit.

“Cuma agak sulit untuk melihat apakah mereka memahami apa yang disampaikan, karena nggak terlalu terlihat ekspresi anak kalau lewat hape. Pengondisian anak juga susah, ada yang pas sesi malah lari-lari. Ya kalau ketemu langsung sih bisa kita kondisikan ya, lha kalau online gini kan susah juga. Udah gitu mau kasih reward ke anak biar termotivasi juga agak susah. Paling ya kita kasih toss online semisal anaknya aktif,” kata Zyuyun.

Keberadaan cemilan dan air mineral menandakan mengajar secara online juga butuh asupan yang cukup.

Meski agak rempong, Zyuyun mengaku hal itu tidak bikin dirinya stres mengajar. Justru adanya pembelajaran onlen tersebut bisa mengobati sedikit rasa kangennya dengan anak-anak karena tak bisa bertemu saat pandemi korona. Dari pihak pengelola PAUD juga memberikan sokongan agar pembelajaran online ini bisa berjalan lancar.

Baca juga:  Florence Sihombing: Anomali, Ironi dan Eulogi

“Kuota—Alhamdulillah—diganti kok nanti. Hehe”

Selain bekerja dari rumah, selama pandemi Zyuyun biasa mengisi hari dengan bermain dan merawat keponakannya, membaca novel, main medsos, streaming Youtube, masak-masak mencoba resep-resep baru, nonton TV, minum coklat panas, bermain puzzle, bermain tic tac toe, bermain puzzle, nonton TV, bermain tic-tac-toe. Ya pokoknya hal-hal yang bisa dilakukan di dalam rumah.

Untuk kebutuhan makan Zyuyun mengaku masih aman-aman saja untuk saat ini, karena pasar dan toko-toko masih buka meski jam operasionalnya dibatasi dan beras hasil panen orang tuanya masih ada. Setiap hari Zyuyun lebih memilih memasak sendiri untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari. Dirinya agak parno untuk jajan di luar.

Nah, kalau kemudian perkara tabungan dengan gaji UMR Jogja-nya yang sangat bersahaja itu.

“Insya Allah aman sih untuk sekarang. Ke depannya belum tahu. Kalau nanti pandemi ini masih lanjut ya paling jual apa kek yang bisa dijual biar bisa bertahan. Tetapi nggak jual diri kok,” kata Zyuyun.

Sementara itu di belahan lain Jogja saya menghubungi Susanto (27) seorang kawan yang bekerja di salah satu LSM di Jogja. Mengikuti anjuran pemerintah, LSM tempat Santo bekerja juga menerapkan kerja dari rumah.

Hanya saja tetap dibuat jadwal piket masuk kantor, sekitar seminggu sekali atau dua kali saja. Selebihnya mengerjakan laporan dari rumah atau koordinasi lewat Whatsapp.

“Kan ini LSM yang bergerak di perlindungan anak, ada semacam anak dampingan di desa-desa itu. Nah kadang ya harus kesana untuk ngecek atau misalnya ada pendataan. Kalau pun harus ketemu anak, kita menerapkan physical distancing kok. Jadi ya tetap mengikuti anjuran pemerintah.”

Santo mengaku bahwa kerja di rumah kurang kondusif. Hal ini dikarenakan kasur yang selalu melambai dan seolah berkata, “udah sini tidur aja sama aku,” sehingga membangkitkan jiwa mager. Belum lagi kalau kucing-kucing peliharannya datang menggoda. Hasrat magernya semakin meningkat. Memang bagi Santo godaan dunia adalah harta, tahta dan Felis Domestica.

WFH dan diawasi oleh supervisor paling lucu sedunia.

“Emang sih kalau pas nggak ada kerjaan ya main-main sama kucing. Kebetulan baru lahiran jadi nambah deh yang bisa diajak main-main. Ya maklum kucingku yang betina ini kembang desa, sering jadi incaran kucing-kucing jantan sekitar. Selain main sama kucing paling ya main sosmed aja, streaming, glundhang-glundhung, makan, baca Mojok,” tuturnya. Wah, pinter banget menjilatnya ini.

Baca juga:  Ketika Buruh Merindukan Ahok yang Mulutnya Kasar tapi Kesatria Soal UMP

Dengan UMR Jogja yang humble ditambah masa darurat pandemi ini, Santo mengaku hanya keluar rumah untuk bekerja dan belanja bahan makanan saja. Sekali belanja digunakan untuk mencukupi kebutuhan selama lima hari.

Untuk menyiasati agar tak banyak pengeluaran, Santo mencari bahan makanan yang harganya sedang promo murah. Selain itu memang sudah sejak lama di sekitar rumahnya ditanami cabe, mangga, rambutan dan tanaman pangan lain sehingga bisa diandalkan.

Untungnya juga sekarang ini memasuki musim nikahan. Meski banyak resepsi nikah yang dibatalkan, prosesi akad nikah dan syukuran tetap diadakan meski dalam lingkup keluarga kecil saja. Tetapi dari keluarga tersebut juga tetap membagikan makanan syukuran ke tetangga berupa bahan makanan pokok sehingga sangat membantu di saat seperti ini.

“Pokoknya diiritlah pengeluarannya. Ke depan kan kita nggak tahu gimana. Nggak beli kebutuhan sekunder apalagi tersier dulu. Kan juga nggak keluar rumah, jadi biaya bensin dan jajan-jajan, dompet jadi lumayan aman. Tabungan ya aman. Untuk ke depan gimana ngikut kebijakan kantor aja lah,” katanya.

Meski sedang keadaan sulit, selalu saja ada cara bagi mereka, para pekerja di Jogja ini untuk bertahan. Yang jelas di Jogja, selama masih ada tetangga dan orang-orang sekitar yang hidup bersama, kesulitan apa pun ya bisa kok diatasi.

Sudah terbukti ketika gempa 2006 dulu bagaimana masyarakat saling sokong satu sama lain, di masa sekarang ini pun tak jauh beda. Karena pada dasarnya UMR bagi orang juga bukanlah singkatan dari “Upah Minimum Regional” tetapi “Urip Mung Rewang”.

Kata “rewang” memang berarti “pembantu” namun jangan sempit mengartikan selayaknya pembantu di rumah tangga misalnya. “Urip Mung Rewang” bisa dimaknai bahwa hidup pada dasarnya adalah urusan saling bantu-membantu.

Kita sebagai manusia sehebat apapun, secerdas apapun dan sekuat apapun tidak bisa hidup sendirian. Akan ada kalanya ketika kita akan butuh bantuan atau harus membantu orang lain. Itulah falsafah yang selama ini menjadi jalan keluar para pekerja Jogja setiap kali ada bencana, selain karena udah terbiasa dengan sifat low profile UMR-nya.

BACA JUGA Ngobrolin UMR Jogja dengan Mereka yang Masih Mahasiswa atau rubrik LIPUTAN lainnya.