• 849
    Shares

MOJOK.CO – Forum Muslim Bogor menyeru untuk tidak memfasilitasi perayaan tahun baru Imlek karena mengira itu juga perayaan agama Konghucu. Hedeh, ngawur todemax.

Antum cuma akan menghabiskan waktu yang sama dengan yang dipakai buat menadahkan tangan meminta angpau, untuk menemukan ayat yang bunyinya begini dalam mukadimah Da Xue yang jika diterjemahan secara ugal-ugalannya kira-kira:

Barang siapa hendak menjadi penebar rahmat bagi seluruh alam, benahilah dulu negerimu.

Barang siapa hendak membenahi negeri, bereskanlah dulu rumah tanggamu. Barang siapa hendak membereskan rumah tangga, binalah dulu dirimu. Barang siapa hendak membina diri, luruskanlah dulu hatimu.

Barang siapa hendak meluruskan hati, bulatkanlah dulu tekadmu. Barang siapa hendak membulatkan tekad, perluaslah dulu pengetahuanmu.

Dan, untuk memperluas pengetahuan, telitilah dulu sedalam-dalamnya setiap perkara yang hendak kau ketahui itu.

Sekadar mengingatkan, Da Xue adalah salah satu dari Empat Kitab (Si Shu atau Su Si) yang wajib dimuliakan penganut agama Konghucu berdasar “delapan rukun iman” (ba cheng zhen gui) agama yang diilhami dari ajaran-ajaran filsuf agung bernama asli Kong Qiu.

Adapun “hucu” atau “fu-tze” atau “fusius” atau “fuzi” atau “cu” atau “zi” yang lumrah disematkan di belakang nama Kong Qiu itu, artinya adalah mahaguru.

Na‘am, mengajar memang menjadi profesi utama Kong Qiu.

Selama sekitar 72 tahun hidup di dunia fana ini, Kong Qiu tercatat mempunyai murid sebanyak tiga ribu. Jadilah beliau dipanggil sebagai Konghucu. Tafaḍḍal bila antum mau menerjemahkannya sebagai Ustaz Kong.

Sampai di sini faḥim, ya?

Oke lanjut.

Tenang, kali ini ana tak berniat mengelaborasi keterkaitan wejangan di atas dengan perkara-perkara politik kontemporer di Indonesia. Meski, tentu, petuah tersebut bisa saja kita jadikan pedoman untuk—misalnya—menentukan siapa yang layak dicoblos dalam hajatan pemilihan presiden negara kita pada April mendatang.

Kata-kata hikmah dimaksud, wabil khusus kalimat terakhirnya, sengaja ana comotkan karena tergelitik berita viral mengenai surat yang diedarkan Forum Muslim Bogor terkait perayaan tahun baru Imlek yang insya Allah bakal jatuh pada 5 Februari nanti.

Dalam surat bertitimangsa 23 Januari 2019 itu, Forum Muslim Bogor menyeru seluruh umat Islam di mana pun berada untuk tidak “memfasilitasi”, “mendukung”, “menghadiri”, “mengikuti”, “menggunakan pernak-pernik”, dan “mengucapkan selamat Tahun Baru Imlek ‘Gong Xi Fa Cai’” kepada mereka yang merayakannya nanti.

Baca juga:  Kowe sing Padu, Jokowi sing Dipaido

Apa pasal? Kata Forum Muslim Bogor, dengan berbuat begitu, berarti telah “menunjukkan kita setuju dengan hari raya” yang “bahayanya terhadap aqidah umat serta keharaman umat Islam untuk menghadiri atau terlibat di dalamnya” adalah mutlak tersebut.

Harap maklum. Kalau tidak dilakukan langkah preventif sedini mungkin, keimanan umat yang sudah kian ambyar akibat masifnya operasi klandestin Kristenisasi dan Yahudisasi belakangan ini, bisa-bisa akan makin sekarat jika masih ditambah dengan Konghucuisasi yang jelas-jelas kafir maksimal karena di belakangnya ada naga-naga aseng yang bermain sebagai juragannya.

Makanya, walau bagaimana pun, Forum Muslim Bogor merasa perlu untuk menyadarkan dan menabligkan info valid bin sahih kepada umat bahwa “Perintah merayakan Imlek datang [langsung] dari Kongzi” yang tak lain dan tak bukan “merupakan nabi bagi agama Khonghucu.”

Bahkan, Forum Muslim Bogor menegaskan, titah itu secara terang benderang “tertuang dalam kitab agama Khonghucu.” Karena itu jangan heran kalau tahun baru Imlek dijadikan sebagai “perayaan terpenting penganut agama Khonghucu.”

Subhanallah. Luar biasa sekali keluasan ilmu Forum Muslim Bogor yang pastinya sudah terlebih dahulu melakukan penelaahan sampai ke akar-akarnya mengenai perayaan tahun baru Imlek sehingga mereka tidak terjerembap pada apa yang disabdakan Rasulullah, “fa ’aftaw bi gairi ‘ilmin fa ḍallū wa aḍallū” (berfatwa dengan tanpa ilmu hingga membikin orang tersesat dan berlanjut menyesatkan yang lainnya juga).

Sayangnya, Forum Muslim Bogor tidak detail menyuguhkan informasi di dalam kitab-kitab Konghucu yang mana, perintah merayakan tahun baru Imlek itu berada. Ana husnuzan. Barangkali, secara implisit, mereka ingin supaya kita mengamalkan ayat Al-Quran pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad untuk senantiasa membaca.

Sambil komat-kamit baca istigfar dan syahadatain karena takut automurtad, dengan deg-degan ana coba telusuri Da Xue yang disusun oleh Zengzi alias Zeng Shen (505–435 SM), salah seorang santrinya Konghucu itu.

Hasilnya?

Ya jelas nihil. Sebab, Da Xue yang tipis itu, sebagaimana bisa juga antum terawang sendiri melalui kalimat yang ana nukilkan di muka, cuma berisi nasihat-nasihat bagaimana diri, keluarga, negara, dan dunia mesti dikelola.

Baca juga:  Memahami Pemikiran “Akhi-Akhi Cupet” yang Ogah Menikahi Perempuan Berpendidikan Tinggi

Antum mau salto berapa kali pun, ana haqqul yaqīn di sana antum tidak akan berjodoh menemukan keterangan mengenai perintah perayaan tahun baru Imlek dari Konghucu—walau hanya sebesar biji żarrah.

Belum puas, ana lantas membaca Zhong Yong, kitab yang konon dikompilasi oleh Zisi alias Kong Ji (481–402 SM), cucunya Konghucu sendiri. Lagi-lagi di situ ana tidak ketemu perintah menggelar hari raya Imlek dari Konghucu.

Ana malah kepikiran kalau zhong yong (jalan tengah), yang juga merupakan salah satu inti dari ajaran Konghucu selain ren (welas asih), selaras dengan prinsip wasaṭiyyah (moderat) dalam Islam.

Terus terang ana sepakat dengan pendapat Liu Zhi (1660–1739). Dalam pengantar 20 jilid kitab keislaman berbahasa Cina berjudul Tianfang Dian Li (Hukum dan Ritual Islam) yang ditulisnya, ulama masyhur Cina zaman dinasti Qing itu menyatakan terdapat banyak kesamaan antara ajaran Islam dengan ajaran Konghucu.

Buktinya, ana menemukan tak sedikit petuah Konghucu yang kongruen dengan ajaran Islam dalam Lun Yu, kitab serupa hadis yang berisi percakapan-percakapan Konghucu yang diriwayatkan oleh anak-anak didiknya.

Anehnya, kendati entah sudah berapa kali ana menghatamkannya, di Lun Yu ana juga masih belum mendapati adanya ayat yang menyebut Konghucu menitahkan pengikutnya merayakan tahun baru Imlek.

Akhirnya ana berpikir, ketimbang waktu terbuang sia-sia mencari yang mungkin sebenarnya memang tidak ada, barangkali lebih baik ana tandai dulu satu per satu beragam ajaran Konghucu yang 11:12 dengan ajaran Islam itu buat dijadikan bahan tulisan selanjutnya.

Ana heran, antum masa nggak capek terus-terusan mengais-ngais perbedaan antara Islam dengan Cina untuk dibentur-benturkan seenak udelnya? Tahun Kambing sudah lama berlalu. Saling mengambinghitamkan mestinya sudah tak laku.

Tapi kan sekarang Tahun Babi?

Woles ae. Dalam kitab Li Ji yang diyakini ditulis oleh Konghucu sendiri, Konghucu pernah bilang kalau “junzi bu shi hun yu” (orang budiman tidak akan makan babi).

Tuh, sama dengan pantangan bagi muslim, kan?

Tak usahlah antum persoalkan asbabul wurud, etimologi, maupun interpretasi kontekstualnya. Toh, antum kan sudah terbiasa memamah mentah-mentah segala informasi lalu memberi hukum ke orang lain biar bisa dimamam lagi.