MOJOK.CO Kenapa malu untuk suka sesuatu yang dianggap jadul sehingga mencirikan kalau kita tua? Kayak suka lagu jadul misalnya.

Saat mendorong troli belanja di sebuah supermarket, telingamu menangkap sebuah lagu. Sambil menggapai sabun mandi di sisi kanan atau pasta gigi di sisi kiri rak, secara tidak sadar kamu ikut menyanyikan lagu tersebut dalam hati.

Dengan fasih kamu lafalkan potongan demi potongan lirik lagu yang mengudara lewat pengeras suara ini. Saking hafalnya, bahkan bagian interlude yang tidak bervokal pun ikut kamu taraktak-dung-ces-kan.

Sampai tiba-tiba, kamu tersadar bahwa lagu yang dinyanyikan itu ternyata lagu jadul, lagunya Nike Ardila.

“Kenapa ikutan nyanyi lagu ini, sih?” pikirmu.

Lalu kamu pun berhenti bernyanyi karena merasa terlalu tua jika hafal lagu jadul tersebut. Walaupun, saat lagu yang diputar di supermarket itu berganti menjadi Inka Christie feat. Amy Search berjudul “Cinta Kita”, kamu secara tidak sadar (lagi) ikut menyanyikannya juga.

Gimana, Hyung? Pernah atau sering mengalami hal ini?

Saya, sering. Yang berbeda hanya jenis lagunya saja.

Pertanyaannya, kenapa kita merasa seperti itu pada diri sendiri? Kenapa kita merasa malu untuk tahu, suka, atau melakukan sesuatu hanya karena sesuatu tersebut dianggap jadul sehingga mencirikan kalau kita tua? Bahkan untuk hal sepele semacam lagu jadul?

Saya sendiri sempat merasa agak-gimana-gitu saat memutar lagu lawas hanya karena komentar orang, sih.

Semacam begini. Entah karena suka atau sekadar ingin mendengar musik yang berbeda saat kerja, kamu memutar lagu hits dari ABBA, Bee Gees, atau The Carpenters. Secara tidak sengaja, teman kerjamu mendengarnya.

“Wuiiihh lagunya… Ketauan udah tua!” celetuknya sambil senyam-senyum gajelas.

Setelah itu, rekan kerja lain secara tidak sengaja juga mendengarnya (ini kok nggak sengaja mulu, sih?).

Baca juga:  Terkadang Tiket Konser Lebih Berharga Ketimbang Aset Apa Pun.

Berbeda dengan orang pertama, si rekan kerja kedua ini dengan prihatin bertanya, “Ini lagu siapa, ya? Seumur hidup belum pernah dengar,” yang dengan kata lain artinya: lagunya jadul banget woiii!

(Tidakkah kamu ingin screaming lagu death metal seperti Retsuko di serial Aggretsuko ketika menerima komentar-komentar macam itu? Mari!)

Memang, umur bisa berkelindan dengan preferensi lagu seseorang, tapi ini kan baru setengah benar.

Bisa saja kamu suka dan hafal lagu-lagu evergreen atau lagu-lagu yang ada dalam CD berjudul Greatest Hits Love Song itu hanya karena waktu masih kecil, emak bapakmu atau om dan tantemu sering banget memutar lagu itu.

Atau, ketika kamu suka Iwan Fals, bisa saja itu gara-gara kamu berteman dengan anak-anak Oi yang sering membawakan lagu-lagu si om pas gegitaran di teras rumah.

Atau bahkan, bisa saja kamu tahu lagu-lagu lawas dari band pop Malaysia semacam Exist hanya karena saban pagi diputar dengan kencang oleh tetanggamu yang budiman.

Suka lagu-lagu jadul itu tidak melulu berkaitan dengan umur. Ini juga soal lingkungan, pergaulan, atau wawasan. Ya, kan, kamu tidak harus jadi angkatan tahun 70-an untuk tahu lagu-lagu The Beatles yang ceunah DNA-nya musik populer itu.

Nah, mulut-mulut tadi, yang kadar keliarannya mengalahkan mulut Bu Tedjo, menyumbang alasan seseorang jadi malas untuk secara jujur suka lagu jadul. Sekalipun pada dirinya sendiri.

Mulut-mulut macam itu, bisa membuat seseorang jadi memutar lagu “Dynamite”-nya BTS atau “How You Like That”-nya Blackpink hanya sebagai simbol perlawanan, kekinian, sekaligus kemudaan.

Itu pun tetap berisiko. Setidaknya berisiko dicengcengin: “Hoi, sekarang mah kita harus hati-hati sama si Jamilah. Dia K-Popers.”

Baca juga:  Drama Korea dan Hallyu Mengubah Pandangan Hidup Saya

Hilih… mulut-mulut itu tidak akan berhenti mengomentarimu, Bunda. Mereka hanya akan berhenti ketika mengunyah. Itu pun tergantung apa yang sedang dikunyahnya.

Kalau sedang mengunyah cireng, bisa berhenti komen sekitar tiga menitan. Kalau sedang mengunyah kayu jati, bisalah sampai satu jam. Berdoa saja supaya mereka sering-sering mengunyah bongkahan bangkai kapal Titanic, biar berhenti komen jauuuh lebih lama lagi.

Jadi, sudahlah. Mari kita chill saja. Nikmati kejadulan dalam dirimu. Entah itu karena umur kamu memang sudah… hmm sebut saja “banyak” atau karena kamu masih muda tapi suka lagu-lagu lama.

Kamu sudah cukup merasakan ageism saat melamar pekerjaan, melanjutkan pendidikan, menentukan waktu pernikahan, dan lain sebagainya. Setidaknya untuk hal semacam pilihan lagu ini, tidak perlu terperangkap untuk merasakan hal yang sama.

Lagipula perasaan suka, tahu, atau sering mendengarkan lagu-lagu lawas bukan berarti kamu cuma tahunya lagu itu-itu saja, yeee kan? Walaupun iya, katanya kamu akan punya masa paralisis musikal alias berhenti mengeksplorasi musik baru saat memasuki usia 30-an, sih.

Tapi toh, tetap saja itu tidak membuat kamu berhenti untuk terpapar hingga akhirnya tahu atau tertarik mendengarkan lagu baru yang biasa dipakai di video TikTok, misalnya. Bahkan, bisa saja kamu juga seorang ARMY atau BLINK di waktu bersamaan.

FYI, saya mengetik tulisan ini sambil diiringi dentuman lagu jadul dari pengeras suara milik tetangga yang saya sing-along-kan dalam hati:

Rindu bergelora

Resah gelisah nafas cinta

Biarpun seribu luka

Tak bisa menghapus cinta…

Ada yang ikut bernyanyi dalam hati? Baiqqq, itu tandanya kamu… hmm… senior. Eh, retro.

BACA JUGA Membayangkan Dunia Tanpa Konser atau tulisan Nurjanah alias Sobrakh lainnya.