fbpx

MOJOK.COAda empat alasan ilmiah kenapa ada orang suka update status di WhatsApp ketika sudah ada Instagram stories yang punya segalanya.

Bukan lagi rahasia kalau kita (hah, kita?) suka sekali membicarakan tentang diri kita sendiri. Menurut penelitian, kita membicarakan diri kita sebanyak 30-40% dari keseluruhan pembicaraan yang kita lakukan dalam sehari.

Rasa narsis yang kita miliki ini nggak bisa lepas dari bawaan otak purba kita yang selalu ingin pamer biar bisa diterima oleh lingkungan di mana dia tinggal. Yang membedakan manusia purba dan manusia modern ya cuma cara capernya aja.

Manusia purba caper dengan banyak-banyak berburu makanan agar bisa diandalkan. Sementara manusia modern caper dengan banyak-banyak… update di sosial medianya. Eh.

Tapi serius deh, sejak ada sosial media, manusia jadi lebih sering membicarakan tentang diri mereka sendiri. Dari yang asalnya hanya 30-40% tadi, sekarang melompat 2x lipat menjadi 80%. Kalo nggak percaya, kamu intipin aja postingan-postingan kamu di sana. Isinya pasti hampir 100% tentang bacotan kegiatan, sambatan, curhatan, galauan, dan cerita-cerita lain tentang diri kalian. Sampai ada anekdot kalo orang update biar nggak dikira meninggal.

Dan kita harus tepuk tangan karena kepintaran orang-orang di balik platform media sosial yang selalu bisa mengakomodasi kebutuhan kita untuk bacot di sosial media ini. Makanya mereka menciptakan fitur stories yang bisa bikin kita update secara real time tanpa harus dianggap nyebelin dengan ngotorin timeline atau ngerusak feed yang udah dibikin estetik.

Dipelopori oleh Snapchat, sekarang hampir semua platform punya fitur stories!

Tapi kalau saya perhatikan yang sukses dan banyak dipakai cuma Instagram stories sama status WhatsApp. Ya nggak?

Di Line misal, saya nggak pernah lihat orang pakai fitur itu kecuali kalau ganti foto profil. Kalau di Facebook sih rata-rata stories yang sama karena dihubungkan secara otomatis dari IG ke Facebook.

Yang sekarang bikin saya penasaran, kenapa banyak orang suka update status di WhatsApp padahal ada Instagram stories yang lebih banyak fitur dan filternya?

Untuk menjawab pertanyaan ini, saya iseng bikin penelitian kecil-kecilan dengan melakukan wawancara kepada orang-orang yang suka update status di WhatsApp yang nantinya akan saya analisis dengan beberapa konsep yang relevan (edan, niat banget!).

Baca juga:  Sebuah Pledoi untuk SJW: Emangnya Kalau Saya Jadi SJW, Kamu Mau Apa?

Dari penelitian ini saya menemukan setidaknya empat alasan kenapa orang memilih update status di WhatsApp dibandingkan dengan IG stories.

Alasan orang lebih suka update status di WhatsApp #1 Kedekatan

Status yang dibuat di WhatsApp lebih (((tepat sasaran))) karena orang-orang yang bisa melihatnya adalah orang yang kita kenal (yang kita simpan kontaknya, tentu saja) dan mengetahui kehidupan kita. Jadi, ketika misal kita update tentang sindiran kepada seorang teman, orang-orang yang melihat update-an kita langsung bisa menebak kita sedang membicarakan siapa.

Coba bandingkan dengan IG stories, bayangkan update-an kita akan dibaca akun peninggi badan dan pembesar kemauan eh kemaluan. Sugguh tidak relevan, kan? Masa akun-akun seperti itu harus tahu tentang drama yang terjadi di hidup kamu?

Kalau dianalisis dengan konsep proximity alias kedekatan, update status yang dilihat oleh orang yang secara hubungan dekat dengan kita tidak perlu terlalu jaim yang artinya kita akan lebih leluasa menceritakan hal-hal yang lebih personal.

Ya di IG juga bisa aja sih updatenya via close friend. Tapi beda aja gitu rasanya. Kalau di IG tuh lebih enak dibuat pamer atas pencapaian kita yang harus diketahui khalayak luas karena pada dasarnya IG itu galeri online, bukan tempat mengeluarkan sambatan.

Alasan orang lebih suka update status di WhatsApp #2 Demografi

Dari hasil observasi yang saya lakukan, saya menemukan temuan bahwa yang menggunakan status WhatsApp ternyata bukan anak muda saja, tapi anak tua eh orang tua juga. Buktinya, kita lebih sering melihat jokes bapak-bapak beredar di status WhatsApp dibandingkan dengan IG Stories.

Hal ini tentu saja ini berhubungan dengan UI (edan UI) yang dimiliki WhatsApp yang mana tampil lebih sederhana dan bisa dengan mudah diaplikasikan oleh (((kawla))) tua. Tinggal nulis, pilih warna background, lalu done.

Bandingkan dengan Instagram, fitur stories di IG lebih ribet. Masa mau marah-marah aja harus mikirin dulu pakai font apa, background gimana, GIF yang representatif apa, dst. dst. dst. Orang tua pasti pusing tujuh keliling.

Baca juga:  Gagal Masuk BUMN karena Jejak Digital: Kita Masih Sering Lupa Jejak Digital Bisa Jadi Bumerang

Kalau dianalisis, kenapa orang lebih suka yang simpel dibanding yang terlalu banyak pilihan, itu semua karena pilihan menimbulkan paradox of choice. Otak dipaksa bekerja lebih keras untuk menentukan dan membandingkan mana yang paling baik di antara banyak pilihan.

Tapi alasan utamanya sih ya, orang tua jarang yang punya akun Instagram, makanya nggak punya pilihan lain selain update status di WhatsApp wqwq.

Alasan orang lebih suka update status di WhatsApp #3 Perhatian

Kalau ini berhubungan dengan attention span alias total waktu seseorang bisa memerhatikan sesuatu tanpa terdistraksi. Karena orang yang update stories di Instagram lebih banyak (mana sekarang ada iklannya lagi), perhatian kita akan cepat tersedot karena nontonin update-an orang lain yang banyak itu. Kalau di WhatsApp kan nggak banyak-banyak amat yang update-nya (tergantung seberapa banyak kontak kita).

Selain itu, karena Instagram isinya gambar semua, kita jadi tertarik untuk scroll feed juga jadinya nggak akan bisa mendisiplinkan diri untuk hanya update stories aja. Pastinya bakal nyasar stalking ke mana-mana.

Nah ini sangat berhubungan besar dengan temuan terkahir saya, yaitu….

Alasan orang lebih suka update status di WhatsApp #4 Kuota

Update stories di Instagram memakan lebih banyak kuota karena seringnya jadi suka ngintipin stories orang yang berujung pada stalking lama-lama. Hal ini tentu tidak akan terjadi di WhatsApp karena–selain aplikasinya yang ringan, kualitas gambar yang diunggah ke WhatsApp diturunkan jadinya nggak makan banyak kota. Dan tentu saja kita nggak bisa stalking di WhatsApp karena… apanya yang mau distalkingin??? Chat kamu yang udah nggak dibalas sama dia???

Kalau masalah kuota kayaknya nggak perlu dianalisis pakai konsep yang ndakik-ndakik karena penjelasannya cukup dengan: tanpa harta, tanpa takhta, kamu nggak akan bisa punya kuota.

BACA JUGA Membela Orang yang Mematikan Centang Biru WhatsApp dan artikel menarik lainnya di POJOKAN.



Tirto.ID
Loading...

No more articles