• 613
    Shares

MOJOK.COSetiap hari kita dipaksa untuk bikin keputusan. Tapi keputusan yang paling sulit dibuat adalah memutuskan hari ini enaknya mau makan apa.

“Mau makan apa nich??” bisa jadi adalah pertanyaan sederhana yang jawabannya lebih sulit dari soal-soal kalkulus. Loh serius! Saking susahnya, meskipun udah dipikirin dan direnungin lama-lama, seringkali kita masih aja nggak nemu jawabannya. Akhirnya–gara-garak capek mikir–kita malah lebih mutusin nggak jadi makan aja sekalian.

Apa kalian pernah kayak gitu?

Nyatanya, mutusin mau makan apa itu emang butuh lebih dari sekadar berpikir. Butuh perenungan dan pertimbangan yang benar-benar matang. Lha wong ketika harus mutusin mau makan apa, tiba-tiba aja di otak kita semua makanan terdengar enak. Tiba-tiba kita jadi pengin semuanya, padahal yang bisa kita makan ya cuman satu aja.

Jadinya, otak kita dipaksa buat ngebandingin semua makanan yang kita anggap enak. Iya semuanya! Kita dipaksa ngebandingin mana yang lebih baik di antara nasi padang, sate ayam, soto lamongan, bakso malang, bakmi jawa, sampai magelangan, hanya untuk memilih satu makanan dalam waktu yang relatif singkat.

Apakah setelah menemukan makanan terbaik kita bisa langsung bikin keputusan? Ooo tidak semudah itu, Danu!

Otak kita masih harus memikirkan apakah harga makanannya kemahalan apa nggak, belinya jauh apa nggak, ngantrinya lama apa nggak, tempatnya rame apa nggak, dan ada tukang parkirnya apa nggak.

Di sinilah kita harus bersyukur kepada teknologi yang sedikit meringankan kerja otak kita. Yhaa, berkat keberadaan aplikasi online kita nggak perlu lagi mikirin jauh, ngantri, atau parkir.

Nah, masalahnya, di tengah kemudahan yang diberikan teknologi ini, datang juga biaya tambahan yang cukup lumayan. Akhirnya seringkali kita menemukan diri kita suka perhitungan, lihat ongkir 11 rebu aja bawaannya pengin melipir sendiri. Lumayan cuy, 11 rebu bisa dapat nasi goreng burjo.

Ini baru mikirin makan buat diri sendiri, lho. Belum ngomongin–mutusin–mau makan apa–sama orang lain 🙂 dan ini ruibet puolllllll.

Baca juga:  Cara Diet Out of The Box dan Mitos Keliru Soal Mie Instan

Kita pengin makan ayam, si doi bosen sama ayam. Kita pengin makan nasi padang, si doi lagi diet. Kita ngajak makan bakmi, tapi doi katanya udah makan bakmi seminggu yang lalu jadi pengin makan yang lain.

Pas ditanya “yauda maunya makan apa?”, jawabnya malah “terserah.” Hassssh ruwet.

Akhirnya, bukannya berangkat cari makan, topik ini seringnya bikin orang malah berantem. Eh, masih mending kalau cuman berantem, gimana kalau gara-gara saking laparnya, mereka malah saling gigit satu sama lain. Jebul malah jadi kanibal gara-gara nggak kuat kelaparan karena kelamaan mutusin mau makan apa.

Dan saya kasih tahu ada yang lebih horror lagi dari–mutusin–mau makan apa–sama orang lain. Yaitu…

…. mutusin–mau makan apa–sama orang lain–yang kalau makan suka pilih-pilih!!1!

Diajak makan seafood, nggak suka. Diajak makan tongseng nggak suka. Ditawarin pilihan makan yang lain juga bilangnya nggak suka. Eh pas ditanya sukanya makan apa, jawabnya bosen makan yang sama terus, pengin coba makan yang lain. Hasssshhhh, berfotosintesis aja sana mb~

Dan anehnya, meskipun kita berhadapan dengan pertanyaan ini hampir setiap hari, kita masih aja suka bingung dan mikir lama kalau ditanya mau makan apa. Padahal nih ya, ini tuh masih level keputusan sederhana yang dampaknya nggak terlalu signifikan sama kehidupan.

Jadi sedih saya. Kalau mutusin mau makan apa aja kita nggak bisa, gimana caranya mutusin pilihan hidup yang lebih besar kayak di masa depan mau kerja apa, mau nikah sama siapa, dan mau menyelamatkan dunia dengan cara apa…

Tapi jangan terlalu khawatir, ternyata eh ternyata, susah nentuin mau makan apa adalah sifat yang sangat manusiawi. Yhaa, betul. Ini dirasakan semua orang.

Fenomena ini disebutnya “Choice Overload” yaitu sebuah keadaan di mana otak kesulitan bikin keputusan saat dihadapkan kepada banyak pilihan.

Baca juga:  Jengkol dan Bau Biadabnya

Kalian tahu nggak kenapa otak mikir lama ketika memutuskan mau makan apa?

Proses berpikir yang cukup lama ternyata bentuk kehati-hatian otak agar tidak salah mengambil keputusan  yaitu memilih dia sebagai pacarmu makanan yang ternyata nggak enak dan bikin kita nggak puas.

Otak sangat berhati-hati karena dia tahu betul kalau apa yang kita makan akan mempengaruhi perasaan kita. Good food, good mood lhaaa~

Makanya ketika kita salah memutuskan mau makan apa, biasanya kita akan terus menyesalinya sampai waktu yang cukup lama.

Jadi jangan heran ketika ada sebagian orang yang lebih suka cari aman dengan bilang “terserah” ketika diminta memutuskan untuk makan apa. Alih-alih menyampaikan apa yang mereka inginkan, mereka malah sungkan atau takut apa yang mereka pilih nggak sesuai dengan apa yang orang lain inginkan.

Dan yang kocak adalah, orang yang diterserahin–yang harus bikin keputusan mau makan apa–seringkali juga punya perasaan yang sama. Akhirnya ya cuman bisa lempar-lemparan “terserah”. Ya gitu aja terus sampai negara api menyerang.

Terus gimana dong biar nggak bingung ketika harus memutuskan mau makan apa?

Tenang, Saya punya tiga saran untuk kalian.

Pertama, bikin list makanan yg disukai apa, makanan yang nggak disukai apa. Lalu–ketika makan dengan orang lain–suruh mereka pilih dari list makanan yang kamu suka.

Kedua, ini cara yang agak susah. Tapi cara ini menjamin kalian menikmati makanan yang akan kalian makan nggak peduli makanannya apa. Yang perlu kalian lakukan hanya baru makan ketika sudah benar-benar lapar yang literally benar-benar lapar banget. Kan makan pas lapar, makanan apa pun rasanya bakal enak hhe.

Terakhir, nggak harus nunggu lapar, nggak harus nunggu kaya, dan ada jaminan kalau rasa makanannya udah pasti enak, bikin kenyang, dan masaknya gampang. Iya! Kalau bingung mau makan apa, makan indomie aja!

  • 613
    Shares


Tirto.ID
Loading...

No more articles