MOJOK.COCara biar milenial bisa punya rumah adalah dengan memenangkan kebijakan public housing! Bikin gerakan yang mendesak pemerintah biar rumah nggak mahal-mahal.

Di kelas saya pernah diberi tahu kalau di masa depan, salah satu ancaman terbesar yang akan dihadapi umat manusia adalah perebutan sumber daya. Argumennya berhubungan dengan jumlah populasi manusia yang naik setiap harinya, tidak dibarengi dengan ukuran bumi yang sampai kapan pun bakal segitu-segitu aja. Nanti tanah untuk hunian dan segala hal yang terkandung di dalamnya bakal jadi sumber daya yang paling diperebutkan.

Di Indonesia, saya pikir nggak harus nunggu masa depan biar skenario itu kejadian. Kenyataannya, kita (hah, kita??) sudah mulai kesulitan untuk bisa punya rumah dari sekarang.

Berdasarkan data dari Bappenas, baru 40,05% rumah tangga saja yang bisa menghuni rumah yang layak. Artinya, lebih dari separuhnya tidak punya rumah, dan dari separuh itu, 81 jutanya adalah milenial.

Padahal nih ya, di Indonesia itu, punya rumah adalah hak asasi manusia yang dijamin oleh negara melalui UU 39/1999 Pasal 40 berbunyi, “Setiap orang berhak untuk bertempat tinggal serta berkehidupan yang layak.”

Kira-kira, apa yang bikin milenial ini pada nggak punya rumah?

Bukan, bukan karena nggak ada yang jualan rumah. Atau jumlah rumah di Indonesia masih terlalu sedikit. Rumah mah banyak! Yang nggak ada itu, duit buat belinya hahaha.

Eh serius! Sekarang, yang jualan rumah itu banyak banget, tapi harganya mahal banget karena pembangun matok harga yang jauh di atas ongkos produksi–dengan perhitungan bahwa meskipun dijual mahal pasti laku karena, siapa sih yang nggak butuh rumah??

Berdasarkan data Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) Bank Indonesia (BI), harga hunian naik 39,7% dalam satu dekade terakhir.

Baca juga:  Bertengkar dengan Orang Tua Ternyata Jauh Lebih Capek Dibanding Sama Pacar

Nah, lonjakan harga properti ini sayangnya nggak sebanding dengan kenaikan upah para pekerja. Karena belakangan inflasi cukup bisa dikontrol, akhirnya kenaikan upah juga segitu-segitu aja. Dampaknya, daya beli masyarakat ya nggak meningkat.

Konsekuensi logis harga rumah mahal dan pendapatan pas-pasan inilah yang akhirnya bikin banyak rumah kosong. Di Jakarta sendiri, ada sekitar 60.949 unit apartemen dan 5.334 rusunawa yang tidak terisi.

Kok bisa sih rumah harganya mahal-mahal?

Karena alih-alih dilihat sebagai kebutuhan, rumah ini sekarang dianggap sebagai barang mewah dan tempat berinvestasi yang dijamin tidak akan merugikan. Akhirnya, para pembangun memperlakukan rumah seperti saham. Digoreng sedemikian rupa sehingga banyak makelar yang bermain–yang bukan hanya membuat rantai informasi bertambah panjang dengan meningkatkan biaya marketing melalui iklan-iklan–tapi juga membuat masyarakat (yang punya uang) tidak banyak berpikir panjang karena kalau mikir dulu, nanti kelamaan padahal minggu depan harga sudah naik!

Jadinya, konsentrasi kepemilikan rumah jadi makin nggak merata karena yang butuh rumah tetep nggak punya rumah, yang nggak butuh rumah (karena udah punya) jadi punya banyak rumah.

Yang makin jadi masalah, yang udah punya banyak rumah ini akhirnya membiarkan rumah mereka kosong begitu saja. Dan ini jadi merugikan karena selain nggak dibayar PBB-nya, rumah ini akan lebih berguna kalau dimanfaatkan oleh orang lain yang membutuhkannya.

Sayangnya di Indonesia, nggak ada yang aturan yang mengatur masalah rumah kosong ini. Beda dengan Jepang yang bisa bikin kebijakan membagikan rumah kosong itu secara gratis, di Indonesia, rumah kosong tetap hak milik orang yang memilikinya.

Jadi gimana dong solusinya biar milenial bisa punya rumah?

Ya milenial harus merebut hak untuk punya rumah laaah. Caranya, kita harus memenangkan kebijakan public housing! Bikin gerakan yang mendesak pemerintah untuk membuat aturan mengenai hunian ini biar harganya nggak mahal-mahal.

Baca juga:  Tak Merasa Dianggap Mitra, Driver Ojek Online Minta Perusahaan Ditutup

Pembangunan rumah yang terjangkau penting untuk mempengaruhi harga rumah di pasaran sekarang. Ingat, dalam logika liberal, produsen yang matok harga mahal akan ditinggalkan ketika ada yang menujual dengan harga yang lebih murah.

Semakin banyak negara membuat hunian murah, permintaan akan rumah murah semakin tinggi, jadinya, pengembang yang suka goreng-goreng harga tadi bakal nurunin harga rumah mendekati nilai aslinya. Soalnya kalo keukeuh jual mahal nanti dia yang rugi sendiri karena nggak ada yang mau beli.

Tapi kok kayaknya susah? Nggak bisa yang gampang aja gitu, yang bisa dikerjakan sambil rebahan?

Di tulisan saya yang sebelumnya, ketika saya bilang milenial terancam nggak punya rumah, ada pembaca yang memberikan komentar bahwa milenial seharusnya tidak perlu khawatir tidak punya rumah karena Tuhan Mahakaya, rezeki sudah diatur oleh-Nya. Lagi pula, rumah tuh nggak akan dibawa mati!

Baca komen itu bikin saya ngerti kenapa punya rumah atau nggak punya rumah nggak pernah dianggap sebagai masalah sama milenial di Indonesia hahaha.

Saya sepakat sih, jangan meragukan kuasa Tuhan. Tapi masalahnya…

… sekarang kita nggak bisa langsung menempati (((kuburan))) sebagai satu-satunya tempat mengistirahatkan diri di masa depan.

Jadi ya mau nggak mau, suka nggak suka, selama kita hidup, kita harus mikirin di mana kita bisa hidup, dan berlindung dari hujan, badai, dan kesedihan….

BACA JUGA Milenial Terancam Nggak Punya Rumah dan Dana Pensiun, Yakin Mau Tetap Rebahan Aja? atau artikel lainnya di POJOKAN.