MOJOK.COKeberhasilan seorang aktivis dakwah dalam berdakwah, seolah hanya dinilai dari pesta pernikahan mereka yang sukses pakai konsep islami. Hmmm, apa iya, cuma gitu?

Bertahun silam, manakala masih semangat membara nan menyala dalam berjilbab lebar berwarna netral (baca: putih, hitam, dan coklat), pernah membenarkan sebuah pemahaman seperti ini:

Seorang aktivis dakwah itu ketika menikah terlihat dari pestanya yang tidak ada ikhtilat (bercampurnya laki-laki dan perempuan dalam kerumunan). Musiknya nasyid (bahkan kalau bisa tidak ada alat musik), makeup tidak tebal (lebih bagus lagi tidak berias sama sekali, utamanya bagi mempelai putri), dan menyediakan banyak kursi biar makan serta minumnya dalam keadaan duduk.

Hal-hal semacam ini kerap disampaikan saat halaqah, kajian yang didominasi oleh para akhi dan ukhti, terkhusus dalam daurah munakahat atau lebih beken disebut kajian pra-nikah.

Katanya, hal-hal ini menjadi salah satu indikator penting tentang keberhasilan sang aktivis dalam berdakwah di kalangan keluarganya, bahkan lingkungan tetangga. Bukan rahasia lagi bahwa tidak sedikit mereka yang baru mencicipi gelora dakwah saat menyandang status mahasiswa berasal dari keluarga yang katakanlah masih “biasa”.

Kata “biasa” ini maksudnya keluarga sang aktivis dakwah belum pernah berkecimpung dalam dunia dakwah. Bisa juga dikatakan keluarganya belum pernah mengikuti jamaah dakwah tertentu (di Indonesia gerakan dakwah biasanya terorganisir dalam suatu jamaah tertentu seperti salafy, tarbiyah, HTI, dan lain-lain). Realita inilah yang akhirnya membuat para aktivis dakwah merasakan tantangan tersendiri manakala hendak menyempurnakan separuh agama.

Tantangan dimulai dari memilih calon yang sebisa mungkin kriterianya sudah harus dikomunikasikan ke orang tua sejak jauh-jauh tahun. Istilahnya menyamakan sudut pandang antara anak dan orang tua. Tantangan berikutnya ialah membuat orang tua dan—untuk beberapa tradisi—keluarga besar, ikut menyetujui mengenai pesta pernikahan yang Islami sesuai keinginan si anak yang sudah menjadi aktivis dakwah itu. Pada proses inilah, yang sering saya dengar dari berbagai acara diskusi terkait pernikahan, dakwah kepada lingkungan keluarga diuji terkait pesta pernikahan.

Baca juga:  Dilema Memilih Bridesmaid Biar Nggak Bikin Teman Iri Hati

Sehingga, ketika mendapati pesta pernikahan seorang ukhti atau akhi yang musiknya ala John Legend atau Charlie Puth lengkap dengan keyboard serta biola plus gitar, makeup yang (sedikit) tebal, penyanyinya perempuan dengan tampilan yang sudah diusahakan tertutup. Kemudian, tidak ada tabir pemisah antara tamu laki-laki dan perempuan. Juga kursi yang tersedia tidak cukup banyak sehingga masih ada makan dalam posisi berdiri, langsung berkata dengan nada memvonis dan sok tahu dalam hati: Aktivis dakwah kok walimahannya seperti ini? Dulu di keluarganya dakwahnya seperti apa, sih?

Pernah salah satu teman bercerita kepada saya kalau ia pernah dipanggil lalu diinterogasi oleh salah satu petinggi jamaah dakwah. Tersebab apa? Lantaran, tatkala ia menjadi salah satu panitia walimahan kawan yang juga sesama ukhti, makeup yang dikenakan dinilai terlalu tebal dan dekoratif oleh si petinggi.

Waktu mendapatkan cerita seperti itu saya hanya diam dan cenderung membenarkan. Ya iyalah. Namanya aktivis dakwah itu panutan mutlak sampai dengan riasan wajah.

Namun seiring bergulirnya tahun di mana narasi bacaan saya coba untuk perluas, juga mencoba memahami pemikiran orang-orang yang selama ini terlihat liberal, sekuler, dan karakter nyeleneh lain, pada akhirnya membuat saya menyesal pernah meyakini paham semacam itu.

Bukan perihal hal-hal ideal yang selayaknya terjadi dalam pesta pernikahan aktivis dakwah yang saya tidak sepakat. Jika itu semua yang sudah saya tulis bisa terjadi sepenuhnya tentu luar biasa. Saya ucapkan tabarakallah. Tetapi lantas menghakimi, jika nyatanya pesta resepsi sang aktivis tidak seideal yang sudah dituliskan lalu dengan pongah menilai bahwa ia gagal mendakwahi keluarganya, sampai panitianya ikut diciduk. Wait a minute.

Aktivis dakwah merupakan manusia biasa yang dibesarkan oleh keluarga yang mempunyai tata nilai tertentu. Proses serta pengalaman spiritual setiap orang juga beragam. Bisa jadi ada aktivis dakwah yang bisa menyelenggarakan pesta pernikahan secara Islami lantaran memang orang tuanya juga kader dakwah. Ada pula yang orang tuanya bukan kader dakwah namun bisa santai dengan kehendak anaknya yang memasang kriteria khusus dalam pesta walimahannya.

Baca juga:  Terima Kasih Selebgram, Telah Menaikkan Standar Pesta Pernikahan Kami

Belum lagi dengan lingkungan tempat sang aktivis tinggal juga berpengaruh. Ini juga termasuk keadaan finansial yang tidak sama untuk setiap orang. Semua faktor ini tidak bisa disama ratakan sehingga sungguh konyol jika kita langsung gegabah menghakimi apakah ia berhasil dalam dakwahnya kepada keluarga hanya dari indikator pesta pernikahannya saja.

Jangan sampai cuma karena hal-hal yang tidak subtantif seperti ini membuat hati merasa memiliki otoritas untuk menilai, apakah teman kita yang aktivis dakwah ini sudah mampu mendakwahi keluarganya atau belum?

Tapi ukh. Kalau pestanya saja diwarnai dengan ikhtilat, hingar bingar musik, juga tampilan pembawa acaranya yang jilbabnya belum menutup dada, nanti barakahnya di mana?

Helloo, soal barakah atau tidak, hanya Allah yang tahu. Pun hanya Allah Yang Maha Tahu seberapa keras sang aktivis ini telah berjuang menerapkan nilai-nilai Islami agar disetujui orang tuanya. Ingat ya, setiap keluarga mempunyai kondisi pemahaman yang berbeda. Apa iya, sekadar belum bisa memisahkan tamu laki-laki dan perempuan lantas tidak jadi menikah atau pernikahannya tidak berkah? Hidup tidak sedangkal itu, Sayang!1!!

Pun saat menyaksikan seorang ukhti atau akhi yang pesta nikahnya sangat jauh dari kata Islami, apakah diri kita bisa menjamin kalau dalam posisi yang sama dengan akhi dan ukhti tersebut, sanggup meyakinkan orang tua, keluarga besar, dan lingkungan agar bersepakat secara utuh dengan konsep Islami dalam pesta yang kita ajukan? Plus mempunyai dana yang memungkinkan terselenggaranya walimah secara syar’i? Tolong pikirkan dulu dengan akal yang baik sebelum lidah menilai.

Lagipula, sejak kapan kadar ke-Islaman seseorang atau keberhasilan dakwah bisa berhak dinilai oleh pihak lain hanya dari make-up, detail pesta nikah, selera musik, dan hal-hal remeh lainnya?

Bagi saya sih, pesta pernikahan yang baik ialah manakala makanan yang disajikan enak-enak serta cukup bagi semua tamu yang datang pada jam yang sudah tercetak di undangan. Gitu.