• 6
    Shares

[MOJOK.CO] “Desain body Jupiter Z1 penuh lekukan-lekukan aduhai. Seksi, sekaligus sporty.”

Sebelum punya Yamaha Jupiter Z1, kuda besi kesayangan yang saya namai Juliet ini, lebih dulu saya punya New Vega R yang kisahnya tak kalah tragis dengan tulisan di Mojok yang berjudul “Vega R dan Dosa yang Menyertainya”. Saya tidak akan membahas New Vega R saya yang sial(an) itu. Bikin nyesek.

Untuk keperluan ganti tunggangan, sebuah usaha melupakan kisah tragis New Vega R, setelah baca ulasan sana-sini, cari-cari spare part aftermarket, akhirnya pilihan jatuh ke Yamaha Jupiter Z1.

Prinsip saya, motor baru adalah barang yang “haram meyesal setelah membeli”. Hampir sama seperti memilih istri, haram menyesal setelah mengawini. Ngerti maksudnya? Saya enggak. Belum pernah punya soalnya.

Suatu sore, saya sambil mrenges menemui konco plek yang masih satu kos.

“Go, besok kamu ada acara, nggak?”

“Gak ada, kenapa?”

“Besok temani saya, sekalian pinjam KTP.”

“Lha mau ngapain, sih, pakai KTP segala?” Tanya teman saya dengan curiga.

“Beli motor!”

Teman saya ini adalah salah satu teman yang jarang sekali menolak kalau dimintai pertolongan.

“yaa…besok, ya.” Dia ngomong sambil nyengir jaran setengah tidak percaya.

Besoknya, siang menjelang sore, dengan motor pitung pinjaman, saya ajak teman saya ini ke dealer Yamaha di bilangan Mangkubumi.

Asal sodara tahu, saya beli motor ini cash keras! Tidak hanya pak Edi AH Iyubenu yang bisa cash keras. Saya juga bisa!

Kuda besi seharga 15,5 juta rupiah ini saya bayar cash 2 juta kurang 200 ribu rupiah. Sisanya saya dibantu “perusahan finansial yang baik hati itu”. Saya cukup menggantinya sebulan sekali selama 35 bulan. Sodara mau maido? Yo rapopo, yang penting tetap ada judul cash-nya.

Segala macam administrasi; faktur pembelian, STNK, BPKB, dan tanda tangan surat perjanjian kredit, tentu saja menggunakan nama teman baik saya itu. Saya cuma nonton karena KTP saya bukan ktp mBantul, jadi dia yang melakukan itu semua.

Kami pun pulang, tak lupa saya mentraktir teman saya segelah es teh dan semangkuk mie ayam. Soal cicilan, pikir belakangan. Pokoknya dapat motor dulu. Bonek je!

Sore itu juga, saya masuk kerja (masih) dengan pitung pinjaman. Setelah Magrib, saya dikabari teman baik saya itu.

“Motormu sudah diantar ke kos.”

Saya semringah. Tengah malam setelah pulang kerja, dengan senang hati saya lihat-lihat kuda besi pinangan saya itu. Warna hitam, joknya masih plastikan. Saya curiga kalau ini motor bekas. Kalau baru pasti ada kardusnya! Malam itu cuma saya elus-elus saja.

Besoknya, Jupiter Z1 yang masih segar ini saya bredeli plastik joknya. Desain body penuh lekukan-lekukan aduhai. Seksi dan sporty. Walaupun body-nya agak sedikit gemuk, terutama pada bagian fairing, itu tidak jadi masalah.

Baca juga:  Review Test Drive Toyota All New Rush: Lebih Mewah, Lebih Nyaman

Fairing itu memang didesain begitu rupa agar sirkulasi udara mengalir dengan baik ke bagian mesin yang berguna untuk mendinginkan mesin. Desain lampu depan double bohlam memberi kesan sangar mirip Night Fury, naga yang ada di film How to Train Your Dragon itu.

Lampu belakang (stop lamp) berbentuk panah ke atas. Menurut saya, Jupiter Z1 ini lebih bagus daripada desain New Jupiter z 115 generasi sebelumnya yang teknologinya masih karburator.

Dari suara mesinnya saat sedang dipanasi, saya berasumsi kalau kuda besi ini lebih “liar” ketimbang kompetitor di kelas yang sama seperti New Honda Blade. Mesin New Jupiter Z1 113 cc fuel injection, forged piston, kopling basah multiplat pegas diafragma, dan sentrifugal. Bleyerannya mantap!

Sistem injeksi bahan bakar memberikan keuntungan konsumsi bahan bakar yang lebih irit dan efisien. Proses pencampuran bahan bakar dan udara di ruang bakar menggunakan komputerisasi sehingga bahan bakar bisa terbakar dengan sempurna. Hasilnya? lebih ramah lingkungan.

Motor seperti ini lebih cocok menggunakan bahan bakar bensin yang kualitasnya bagus, kecuali jika sodara tega mengisinya dengan yang jelek-jelek. Kalau saya, jelas tega.

Forged piston merupakan piston yang dibuat dengan sistem tempa. Potongan aluminium dipanaskan lalu dipress sesuai bentuk piston yang diinginkan. Karena ukuran piston yang pendek menjadikan mesin Jupiter Z1 lebih minim gesekan. Dampaknya tentu saja durabilitasnya menjadi lebih baik dibandingkan dengan piston konvensional.

Sayangnya, komposisi mesin yang sudah bagus itu dikombinasikan dengan kopling basah yang menggunakan pegas diafragma. Perlu sodara tahu, pegas diafragma merupakan teknologi lama yang dipopulerkan lagi oleh Yamaha dan Honda.

Walaupun teknologi lama, kenyataannya kopling dengan sistem ini mampu mengurangi gesekan karena pegas kopling berbentuk seperti piring kecil dan bisa menekan seluruh bagian lingkaran pelat kopling. Pastinya lebih smooth.

Kesan pertama mengendarai Jupiter Z1 ini, akselerasinya mantap dan bagus. Enteng untuk stop and go. Ini karena perbandingan rasio gigi akhirnya 14 banding 41. Jelas enteng untuk akselerasi dan tanjakan. Top speed? nanti dulu.

Tengah malam setelah pulang kerja, di jalan Ring Road Selatan, saya pacu kuda besi ini habis-habisan, gas mentok. Zaman itu masih ada issue klithih. Ngeri-ngeri sedap juga tengah malam kelayapan.

Top speed Jupiter Z1 mentok di 110 km/jam. Dari 0 ke 100 km/jam, ditempuh dalam waktu kurang lebih 17 detik. Untuk ukuran saya, ini sudah kencang, sudah lumayan bikin jantung deg-degan dan bikin ketagihan karena akselerasinya enak.

Sekitar dua minggu setelah turun dari dealer, masih plat putih, Juliet kesayangan ini saya ajak jalan-jalan antar-kota, antar-provinsi. Untuk benar-benar menguji seberapa sabar, seberapa tegar, dan seberapa gaharnya kuda besi ini, saya bawa dia lewat jalur Jogja-Magelang-Temanggung-Parakan-Sukorejo-Weleri-Kendal.

Temanggung-Parakan-Sukorejo-Weleri, uji coba untuk akselerasi, torsi, dan suspensi. Banyak tanjakan dan turunan di rute ini. Hasilnya, tanjakan bisa dilahap tanpa harus banyak ancang-ancang. Hanya saja, tulang belulang di badan agak terasa bergetar kala melewati aspal yang kroak-kroak serta nggronjal. Maklum, suspensinya agak sedikit keras. Kurang cocok untuk sodara yang sering lewat jalan tidak rata, ditambah pegal linu dan kurang kalsium, bisa mlotrok tulang sodara.

Baca juga:  Yamaha R15: Dicinta Jiwa Sporty, Dibenci Pembonceng

Suspensi seperti ini menjadikan Jupiter Z1 lebih stabil saat manuver dan melahap tikungan. Terutama menikung pacar teman.

Konsumsi bensin untuk rute ini, saya isi fulltank dari pom bensin Menukan Jalan Parangtritis, isi bensin lagi saat tiba di Cepiring yang sudah masuk wilayah Kendal. Lumayan irit walau tidak signifikan jika dibandingkan dengan New Vega R milik saya yang tragis itu karena sudah jelas beda isi silinder.

Dari Kendal ke Jogja, saya lewat jalur Kaliwungu-Limbangan-Boja-Bedono (Jambu) yang terdiri dari tanjakan, turunan, serta aspal kroak dan nggronjal, kemudian melewati Magelang dengan tujuan akhir Jogja.

Hasilnya, Juliet lebih gesit saat melahap tanjakan di jalanan Boja menuju Bedono. Ketika melahap tanjakan sekitaran Boja, beriringan dengan Suzuki Satria FU bakul sayur yang dagangannya sudah laris manis, si Juliet bisa lebih gesit dan lincah. Coba kalau trek datar dan lurus, saya trimo mundur timbang dipisuhi motor yang jadi idola cabe-cabean lawas itu.

Jupiter Z1 kesayangan saya ini masih saya kendarai hingga sekarang. Kurang lebih sudah 5 tahun saya tunggangi. Walaupun populasinya tidak terlalu banyak beredar di jalanan, spare part kuda besi ini gampang dicari.

Di Jogja, ada satu toko spare part bernama Sonny Motor, yang menjadi patokan saya. Jika di toko itu spare part yang sodara cari tidak ada, maka bisa dipastikan di hampir seluruh dealer Yamaha tidak ada juga. Kenapa begitu, saya juga belum tahu.

Kuda besi keluaran Yamaha banyak spare part aftermarket pilihan yang bisa sodara dapatkan. Mau sodara apakan motor Yamaha sodara? Parts aftermarket-nya melimpah dan banyak jenisnya.

Untuk Jupiter Z1 ini saya ubah menjadi kopling manual supaya lebih responsif dan sporty. Termasuk gantungan barang, wajib dan harus saya pasang karena dari pabriknya tidak ada. Gantungan barang ini adalah bagian paling penting dari kuda besi ini. Untuk nyentelke belanjaan saat mengantar Bu Lik ke pasar. Motor boleh gahar, mengantar ke pasar itu kewajiban.

Mesin masih standar bawaan pabrik “hanya” mengalami oversize 0,50 karena dulu pernah kasatan oli dan harus ganti jeroan, dan menelan biaya hampir 400 ribu rupiah di tahun pertama.

Kuda besi ini masih bertahan hingga sekarang dan belum punya rencana untuk ganti atau nambah motor. Kalau istri, mungkin saya mau nambah. Tapi satu saja.

Apa motor ini kencanable? Dengan tegas saya jawab: iya! Dengan catatan ada yang mau diajak kencan.

  • 6
    Shares


Loading...



No more articles