MOJOK.COKim Jong Un yang dulu bukan Kim Jong Un yang sekarang.

Sejarah baru saja terjadi. Kim Jong Un menjadi pemimpin Korea Utara pertama yang mau “menyeberang” ke Korea Selatan (Korsel) sejak berkecamuknya Perang Korea 55 tahun lalu. Kamis kemarin, media mengabadikan video Jong Un berjalan menyeberangi batas wilayah Korut-Korsel dan disambut Moon Jae In, Presiden Korea Selatan, dengan penuh kehangatan. Peristiwa ini menjadi momen simbolik yang mengawali rangkaian pertemuan bersejarah kedua negara. Melihat dua saudara yang lama berselisih akhirnya rujuk, hati siapa yang tidak terenyuh.

Kim Jong Un telah resmi membuka diri kepada dunia internasional. Katanya sih, kedua negara yang telah bersitegang sejak 1953 ini akan membahas denuklirisasi, peningkatan hubungan baik dua Korea, dan penyelesaian perjanjian perdamaian pada pertemuan ini.

Terpaksa mengamati dunia internasional saat kuliah, saya merasa ada yang mengganjal dari rentetan aksi kebijakan luar negeri Korea Utara. Terkhusus melihat sikap Kim Jong Un yang mendadak “jinak”. Ada apa?

Coba lihat senyum Kim saat bertemu Moon di video itu. Blas tak ada garang-garangnya.

Maksud saya begini. Sampai akhir 2017, Korut masih bertingkah selayaknya Korea Utara. Bulan November misalnya, Kim mengklaim telah memiliki rudal balistik yang jangkauannya mampu mencapai Amerika Serikat. Bayangkan, pencet tombol di Pyongyang, meledaknya di Washington!

Berbagai sanksi dunia internasional tidak membuat Kim jera dengan hobinya menguji coba senjata nuklir kesayangannya. Padahal, sanksi terberat sepanjang sejarah telah dilakukan oleh PBB kepada Korea Utara. Ekspor barang esensial ke Korea Utara, khususnya minyak bumi dan gas, dipotong sampai 89%. Tidak lupa bahan-bahan mesin industri, kendaraan transportasi, hingga logam juga dilarang dipasok ke negara ini.

Bahkan, PBB mengajak seluruh negara anggotanya untuk memulangkan buruh Korea Utara yang bekerja di negara mereka paling lambat 24 bulan sejak keputusan dibuat. Respons Kim? Cuek aja sembari sibuk ngutak-ngatik rudalnya.

Sampai akhirnya di momen pergantian tahun 2018. Keanehan muncul.

Baca juga:  Ternyata Kita Semua Sayang Kim Jong Un

Pada pidato tahun barunya, Kim Jong Un tiba-tiba mendoakan Korea Selatan berhasil menunaikan tugas sebagai tuan rumah Olimpiade Musim Dingin. What? Bertengkar berpuluh-puluh tahun dan selalu gagal damai setiap ada pertemuan dua Korea, tiba-tiba tanpa angina, tanpa kamikaze, kok malah sok perhatian?

Keanehan semakin menjadi ketika Korea Utara dan Korea Selatan berlaga sebagai satu kontingen pada Olimpiade Musim Dingin yang digelar di Pyeongchang, Korea Selatan. Para atlit terlihat akrab sekali berjalan berdampingan pada upacara pembukaan olimpiade. Hei, kalian itu musuhan lho!

Bahkan, di olimpiade itu tidak ada pula pembagian nama Korea Utara dan Korea Selatan seperti biasanya. Kontingen kedua negara sepakat bertanding menggunakan satu nama, Korea saja.

Perubahan sikap Jong Un belum berhenti sampai di situ. 20 April kemarin, ia mengumumkan kepada media bahwa seluruh program nuklir Korea Utara ditunda pengembangannya dan seluruh tempat uji coba ditutup. Dan puncaknya, Kim melakukan pertemuan bersejarah dengan Korea Selatan yang sudah kita bahas di awal tulisan. Belum lagi rencananya bertemu Donald Trump Mei mendatang. Aladeen dan segenap rakyat Wadiya jelas akan kecewa.

Melihat Korut yang tahun lalu masih sangat “Korut” dan tiba-tiba menjadi manis sejak awal 2018, saya yakin akan satu hal: sesuatu pasti terjadi pada Kim Jong Un di malam tahun baru. Sesuatu itu sangat krusial sehingga mampu mengubah sikap, atau setidaknya, memaksanya untuk mengubah sikap.

Nah, hasil penelitian saya menghasilkan dua teori tentang apa yang terjadi di malam tahun baru Kim Jong Un. Semoga dengan begini, kita dapat memahami perubahan sikap sang supreme leader yang janggal.

Teori pertama, Kim membuka diri pada dunia internasional karena embargo ekonomi internasional mulai berdampak pada kehidupan personalnya. Di malam tahun baru, terdengar kabar Kim berencana datang ke sebuah pesta tahun baru tak jauh dari Pyongyang. Sayang, rencana tersebut gagal karena bensin mobilnya habis.

“Wah abis, Den, stoknya. Kan kita kena embargo,” ucap sopir Kim Jong Un. Pengucapan Den dari kata Raden ini saya tulis semata-mata agar segenap pembaca merasa dekat dengan keseharian Kim.

Baca juga:  Isi Luwak White Koffie Bisa Dibakar kok Heboh, Rambutmu Kalau Dibakar ya Nyala, Woy!

“Oh, jadi kamu nyalahin saya, gitu?” kata supreme leader kesal. Si sopir dikabarkan tidak terdengar lagi kabarnya sejak saat itu.

Menyadari ia tidak bisa ke mana-mana, Kim kesal dan minta dibuatkan ayam goreng kepada koki rumahnya. Sayang, stok minyak goreng yang habis ditambah pasokan ayam yang terhambat karena moda transportasi rusak membuat Kim kembali gigit jari. Semua karena embargo.

Hasrat memakan ayam goreng inilah yang membuat Kim terpaksa memperbaiki hubungannya dengan negara lain. Memang benar kata pepatah, urusan perut selalu bisa membuat manusia melakukan apa saja.

Teori kedua akan membuatmu tercengang.

Saya mendapat info bahwa di malam tahun baru 2018, Kim masih saja bekerja. Sebagai seorang pekerja keras, mengurusi negara selalu membuatnya lupa waktu. Tidak terkecuali di malam tahun baru.

Di meja kerjanya malam itu, Kim membuka laporan tahunan tentang hasil uji coba rudal balistiknya. Nilainya buruk sekali. Ada rudalnya yang ternyata setiap jatuh ke tanah bukannya meledak, malah mantul lagi. Lalu mantul dan mantul lagi sampai Trinidad dan Tobago.

Ada juga rudalnya yang ketika diuji coba ternyata materialnya mirip kembang api. Sehingga ketika diluncurkan, rudal malah meledak di udara dan membentuk pola warna-warni indah. Tinggal ditambah komedi putar dan awul-awul, lengkap sudah pasar malam.

Yang paling membuat Kim kesal adalah satu laporan uji coba senjata bahwa rudal yang sedang diuji tidak terbang-terbang. Hampir setengah hari Kim dan para teknisi menyelidiki asal-muasal kegagalan ini. Sampai akhirnya diketahui bahwa rudal tersebut adalah gantungan kunci berbentuk rudal. Pusing, kan?

Menyadari bahwa program senjata pemusnahnya gagal total, ia akhirnya pura-pura mengaku kepada dunia internasional tentang rencananya melakukan denuklirisasi. Keputusan realistis ini dibutuhkan untuk menghindari diri dari rasa malu. Begitulah manusia, selalu mencari cara untuk menutupi aibnya agar tidak ketahuan.