Assalamualaikum, Bapak Kim Jong-un ….

Perkenalkan, nama saya Ilham Ibrahim dari Swiss van Java, Garut. Saya jelas bukan siapa-siapa di mata Bapak. Negarawan bukan, tokoh internasional juga bukan, agamawan apalagi. Saya hanya seorang mahasiswa yang sedang mencari sesuap ilmu di kota paling romantis, Jogjakarta. Meski Bapak pastinya belum kenal saya, tapi saya tahu kok siapa Bapak. Bahkan, meskipun negara pimpinan Bapak, Korea Utara, adalah negara yang konon paling tertutup di dunia, saya juga bisa menebak dengan presisi apa warna sempak yang setiap malam Jumat Kliwon Anda kenakan. Bapak tidak percaya? Sama, saya sendiri juga tidak.

Baiklah, Pak, demi mempersingkat durasi, saya tak akan berbasa-basi. Dalam surat yang niatnya saya terjemahkan juga ke dalam bahasa Swahili ini, saya hendak membincang soal isu Korea Utara yang diduga telah meluncurkan roket Kwangmyong 4 sebagai uji coba rudal balistik. Ada tiga hal pokok yang ingin saya sampaikan kepada Bapak terkait isu tersebut.

I

Bapak Kim yang saya hormati,

Saya sempat membayangkan bagaimana dampak dari semua asumsi dan dugaan tersebut. Barangkali Korea Utara tambah dikecam dunia, tambah dikucilkan seperti anak tiri, juga tambah dibuli habis-habisan oleh Amerika Serikat dan para kompatriotnya. Segenap haters Bapak tentunya juga akan bertambah banyak, seperti orang miskin di negara saya yang konon haibat ini: Indonesia.

Saya jadi bertanya-tanya, apa Bapak kuat hidup dalam tekanan seperti itu? Kalau Bapak kuat, apa rakyat Korea Utara juga sanggup? Hidup dengan berkalang benci dari khalayak ramai, dipergunjingkan kanan-kiri, digosipkan dengan isu-isu miring, diwaspadai seperti moncong senapan selama bertahun-tahun tentu bukan hidup yang menyenangkan. Kecuali semua rakyat Bapak, termasuk Bapak sendiri, punya gejala ke-Jonru-Jonru-an. Itu sih soal lain.

Kalau saya tidak salah nih, Pak, pendanaan militer Korea Utara konon besarnya mencapai sepertiga dari pendapatan negara, yang mana jadinya menguras kebutuhan investasi dan konsumsi masyarakat. Duh, saya kok jadi kasihan dengan mereka. Dulu Korea Utara memang bisa cengar-cengir karena masih ada Uni Soviet. Makan ditraktir, berobat dibayarin, sekolahan dibikinin. Lah, sekarang? Memang Bapak berani nyenggol Vladimir Putin yang hobi menunggangi beruang dan berburu elang itu? Harusnya Bapak mikir, dengan sikap keras kepala Bapak, kemungkinan besar investor tidak mau lagi bekerja sama dengan Korea Utara. Termasuk Rusia. Kalau sudah (miskin) begitu, nanti negara Bapak bisa masuk ke dalam kategori 7 Negara terdhuafa versi On The Spot, lho.

BACA JUGA:  Drama Korea dan Uji Coba Nuklir Korea Utara

Bapak sudah siap?

II

Bapak Kim yang saya banggakan,

Saya dan jutaan orang di dunia lain sebetulnya telah berusaha untuk tidak berpikir bahwa rudal yang diluncurkan Korea Utara bermaksud sebagai propaganda, namun kami terlanjur ber-suudzon berjamaah. Mungkin kami telah kemakan pemberitaan mainstream betapa Korea Utara adalah sebuah ladang penuh teror kebengisan. Dan citra Bapak sebagai penebar sensasi seperti Farhat Abbas juga sepertinya telah terlanjur melekat di benak kami. Tolonglah, Pak, berubah sikap, deh. Cukup si Farhat itu saja yang mendapatkan rezeki dengan berjualan kontroversi, Anda mah jangan, Pak.

Jauh lebih penting dari itu semua, Pak, citra komunisme yang selama ini telah rusak, akan tambah hancur lagi, Pak. Yah, walaupun Korea Utara sebetulnya lebih tepat disebut sebagai negara totalitarian, sih. Juche, kalau dalam istilah kakek Anda, Kim Il Sung. Tapi ‘kan pemberitaan arus utama sering sengaja memukul rata soal perbedaan antar ideologi ini. Oleh karena itulah, Pak, suatu hari nanti bukan tak mungkin jualan komunisme akan dianggap teroris, seperti halnya jualan Islamic State. Coba pikir kesana deh, tolong.

Pihak Korea Utara memang telah menyangkal bahwa peluncuran roket ini tak lebih dari upaya peningkatan ilmu pengetahuan dan teknologi, tapi masyarakat mana percaya? Media-media di seluruh dunia menggambarkan peluncuran tersebut sebagai era dimulainya Perang Dingin jilid dua. Agak lebay sih, memang. Tapi, jika memang betul nantinya Perang Dingin kembali meletus seperti tahun 50-an antara Amerika Serikat dan Uni Soviet, kecurigaan antar negara akan tambah menjadi-jadi. Jujur saja, saya belum rela tewas karena menjadi korban senjata pemusnah massal, Pak. Rasanya kok kurang syahid gimana gitu.

BACA JUGA:  Surat Terbuka Jonru Genting kepada Bani Cebong Soal Hoax dan Ujaran Kebencian

III

Bapak Kim yang saya cintai,

Inti dari surat saya sebetulnya ada di poin nomor tiga ini, Pak. Jadi, surat ini saya tulis niatnya sebagai penyambung lidah anime lovers di Indonesia, terutama para pecinta komik One Piece. Terus terang saja ya, Pak, kami semua merasa kecewa berat dengan ulah Bapak yang meluncurkan roket Kwangmyong 4 itu. Sebab, roket itu sempat melewati wilayah Pulau Okinawa di Jepang, hingga membuat pemerintah mereka berang. Lalu apa hubungannya dengan kami?

Itu artinya, kemungkinan kami tak bisa lagi mengunduh komik dan film terbaru One Piece karena Jepang akan memperketat keamanan (jaringan internet) mereka!

Sebelumnya kami sudah cukup sakit hati dengan sikap si kampret Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) yang melarang seluruh tayangan One Piece di televisi lokal karena alasan yang lebih cocok dikemukakan di Abad Pertengahan. Kini Bapak menambah lebar luka kami. Untuk One Piece edisi minggu ini saja sampai di-delay karena ulah negaramu, Pak. Besok-besok bisa jadi aksesnya tertutup total. Ketahuilah, Pak, ada jutaan pasang mata di dunia ini (mungkin juga di Korea Utara) yang begitu menyukai One Piece. Saya peringatkan: Bapak jangan sampai membuat kami murka.

Maka, melalui surat ini, saya meminta Bapak Kim Jong-Un untuk melakukan jumpa pers dan meminta maaf secara terbuka kepada para pecinta One Piece di seluruh dunia yang telah dirugikan oleh Anda. Saya tunggu 24 jam dari sekarang. Jika Bapak tetap tidak menggubrisnya, saya akan lapor ke RT setempat.

No more articles